Ternak bagi Warga Sekitar Merapi

Ternak_Merapi

Para korban letusan Gunung Merapi yang mengungsi memiliki ikatan yang kuat dengan ternak-ternaknya. Kendati sudah terpisah puluhan kilometer dari tempat tinggal, selalu ada keinginan untuk kembali menyelamatkan ternak mereka dan membawanya ke tempat pengungsian.

Ikatan emosional dengan ternak ternyata tak putus oleh semburan abu vulkanik dan awan panas. Janji pemerintah yang akan membeli ternak seperti tak terdengar. Pemerintah daerah maupun kepolisian kewalahan menangani warga yang nekat kembali ke zona berbahaya itu.

Dalam menangani ternak pasta terjadinya bencana ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Pertama, ternak bagi orang Jawa pada umumnya lebih dari sekadar sumber protein, tapi menjadi anggota keluarga. Sebab itu, orang Jawa menamai semua ternaknya. Ada sapi bernama Si Siti, Si Suti, atau si Sita.

Kedua, ternak tak selalu dikurung dalam kandang atau diikat. Mereka lebih sering dilepas di padang dan ladang. Manakala terjadi letusan Merapi, ternak yang diikat malah tidak bisa menyelamatkan diri dan mati.

Berdasarkan fenomena hubungan ternak dan pemiliknya tersebut, maka BNPB berkoordinasi untuk mengupayakan agar evakuasi selalu menyertakan ternak. Selain itu, korban juga merasa tenang bila mengetahui bahwa ternaknya sudah lebih dulu tiba di tempat pengungsian.

Pelajaran ini juga menjadi catatan bagi para relawan, petugas, dan pengambil keputusan agar membangun huntara atau tempat pengungsian yang berdekatan dengan kandang ternak.

Kesulitan terbesar bagi tim dalam penanganan ternak ini adalah penelusuran ternak yang mati dan mengidentifikasi pemiliknya.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Sumber gambar dari sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *