5 Kaidah Pemberian Bantuan Bencana

Ketika Anda melihat gambaran yang begitu menyayat hati pasca bencana yang terjadi di Nepal, tentu Anda ingin segera melakukan sesuatu.

Namun, pada bencana besar dan kondisi darurat, perlu kehati-hatian saat akan memberikan bantuan agar pertolongan yang Anda salurkan tidak menambah kesulitan atau berakhir pada lembaga yang tidak kredibel. Anda juga perlu memastikan agar sokongan tersebut tidak bertentangan dengan kebutuhan dari para korban dan juga bisa tepat sampai ke sasaran.

Berikut ini adalah pengalaman Doug Saunders–wartawan The Globe and Mail, sebuah koran di Canada–saat melihat bantuan dan kinerja lembaga donor pasca bencana terbesar di abad ini. Pengalaman perdana melihat bagaimana komunitas online dan media sosial menjadi alat pengumpul bantuan.

Jika Anda ingin memberikan bantuan bagi para korban bencana di Nepal, beliau menyarankan agar pertolongan tersebut diberikan kepada UNICEF atau Palang Merah Internasional. Selain itu, bisa juga diberikan kepada Koalisi Kemanusiaan yang mencakup NGO veteran seperti Care, Oxfam, Plan, dan Save the Children. Dengan begitu, bantuan Anda akan dikirimkan secara langsung, cepat, dan profesional.

Bagaimana Bantuan dapat Menolong atau Melukai

Pada bulan Desember, 2004, Saunders tiba di satu tempat yang tadinya kota pinggir pantai di Timur Laut Srilanka. Orang pertama yang dia temui di sana berdiri dengan tatapan kosong tak bergerak di luar sebuah tenda yang dibangun seadanya. Wanita itu kurang dari sehari sebelumnya baru saja kehilangan dua gadis kecilnya yang direnggut dari lengannya oleh tsunami.

Saunders tak tahu harus berkata apa pada wanita tersebut. Sepanjang dua jam kemudian, dia bertemu dengan sekurangnya selusin orang tua yang mengalami kejadian serupa serta ratusan lebih orang yang terpisah dari keluarganya. Pantai pun penuh dengan korban yang sebagian besar adalah anak-anak. Sementara orang tua berdiri memandang dengan putus asa ke laut lepas berharap menemukan orang-orang tercinta.

Bencana yang terjadi waktu itu bukan hanya menimbulkan korban dan kerugian yang sangat besar, membunuh sekurangnya 230.000 orang dalam hitungan jam dan meninggalkan jutaan lainnya tanpa tempat tinggal di belasan negara. Peristiwa tersebut juga memicu gerakan pertolongan terbesar di dunia, menarik pekerja kemanusiaan dan lembaga bantuan untuk beraksi. Saat itu juga menjadi sejarah digunakannya internet untuk penghimpunan dana dari masyarakat yang mencapai 5.4 trilyun dollar dan 8.4 trilyun dollar dari pemerintah.

Peristiwa bencana pada tahun 2004 tersebut juga menjadi pelajaran apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan manakala memberikan bantuan.

1. Menolong justru dapat melukai

Saat itu tiga hari sebelum ada bantuan tiba di daerah tersebut. Kemudian, truk pertama yang datang di perkampungan nelayan muslim tersebut berasal dari Gereja Scientology. Bantuan mereka datang bersama dengan cetak ulang Dianetics dan upaya pengubahan yang kemudian disambut dengan tatapan kosong dari warga. Baik lembaga kristiani dan muslim selalu mengindahkan etika dan tidak ada upaya untuk mengajak berpindah agama, namun tetap saja kadang menyampaikan pesan yang keliru. Agama yang Anda anut barangkali mengajarkan tentang memberi, namun mencampuradukkan antara bantuan dengan iman dapat menyebabkan orang kehilangan harapan.

2. Niat baik kadang bisa menjadi buruk

Dalam hitungan minggu, ada sekitar 200 organisasi yang bekerja di suatu desa. Sebagian besar adalah organisasi kecil. Beberapa organisasi bekerja di area yang sama: sumur, pelatihan olah raga atau konseling pernikahan. Beberapa adalah proyek bantuan dari pesohor. Bahkan yang lebih buruk adalah proyek bantuan dari pengusaha yang berpikir bahwa produk mereka adalah bantuan yang paling tepat. Pada akhirnya, hanya lembaga besar milik UN, yaitu UNICEF dan Komisi Tinggi untuk Pengungsi serta Palang Merah Internasional yang mampu membantu masyarakat untuk bangkit dan sekaligus menjaga mereka dari berbagai organisasi kecil. Bantuan atau organisasi kecil tampak menarik, namun alangkah lebih baik bila dapat membantu dalam skala yang lebih besar.

3. Jangan pergi ke sana

Salah satu pemandangan yang tak biasa di Colombo dan Jaffna adalah penuhnya hotel oleh dokter yang datang dari Amerika Utara dan Jepang. Mereka ini berharap bisa memberikan bantuan, padahal mereka tak dibutuhkan. Saat itu, bahkan sebuah desa yang kecil pun telah memiliki tiga atau empat tim medis dari luar negeri, merawat warga yang kebanyakan sehat. Mayat korban bencana yang membusuk tidak menyebabkan wabah penyakit. Sampai dengan saat itu, belum pernah masyarakat yang sangat miskin tersebut mendapatkan perawatan yang sangat baik untuk penyakit kelamin dan hernia. Apa yang diperlukan oleh korban adalah peralatan pertukangan, mesin diesel, dan teknisi elektrik; berbagai organisasi mencari komoditas ini di tingkat lokal. Para dokter itu berpandangan mereka dibutuhkan yang tentu saja sangat melegakan hati, namun alangkah baiknya bila mereka bertanya terlebih dahulu.

4. Jangan mengirimkan barang

Kebanyakan warga yang sangat miskin hidup dengan menanam dan menjual makanan atau ikan. Di antara mereka juga ada yang menjual barang-barang murah. Banjir makanan gratis, yang datang dengan cepat memang pada mulanya dibutuhkan, namun kemudian ini akan mengganggu proses pemulihan. Sungguh sulit bagi petani padi untuk berkompetisi dengan penyedia makan malam gratis.

Mengirimkan mainan, sepatu, atau pakaian sepertinya ide yang baik bagi masyarakat yang kerap melihat anak-anak di televisi bermain di tengah debu pada negara yang miskin. Membawa hal tersebut ke negeri yang jauh dan mengawasi distribusinya menelan biaya yang sangat mahal. Tindakan ini menghalangi pengiriman bantuan yang lebih diperlukan atau menjadi halangan bagi para pebisnis lokal yang bisa menyediakan barang yang sama.

Dalam lingkaran bantuan, memberikan barang, apakah itu pakaian bekas, bangunan, atau makanan dikenal dalam Bahasa Inggris sebagai Swedow, Stuff We Don’t Want atau barang yang tidak kami perlukan karena nilai manfaatnya lebih sedikit daripada biaya yang dikeluarkan.

5. Berikan sesuatu tapi jangan terlalu spesifik

Peristiwa bencana terkadang menyebabkan jumlah bantuan melebihi kebutuhan. Hal ini bagus manakala lembaga bantuan mengalami surplus mereka dapat membangun gudang permanen di berbagai negara sehingga mereka dapat merespon secara lebih cepat. Namun, terlalu banyak bantuan diberikan kepada peristiwa bencana daripada ke lembaga seperti Unicef, Oxfam, atau Palang Merah Internasional. Memberi adalah ide yang sangat baik, namun jangan spesifik. Pertolongan dapat bekerja dengan baik jika dikombinasikan dengan kepercayaan.

Sumber tulisan: http://www.theglobeandmail.com/globe-debate/want-to-help-nepal-follow-these-five-rules-of-disaster-charity/article24150908/

Kearifan Lokal dalam Menghadapi Bencana

Contoh penerapan kearifan lokal dalam menghadapi bencana adalah apa yang terjadi pada warga di Pulau Simeuleu. Mereka tinggal kurang dari 150 m dari lepas pantai barat Aceh dan terhindar dari bencana tsunami yang melanda Provinsi Aceh pada tahun 2004.

Gugusan Kepulauan Simeulue yang terdiri atas beberapa pulau besar dan kecil (lebih kurang 40 buah) berada tepat di atas persimpangan tiga palung laut terbesar dunia, yaitu pada pertemuan lempeng Asia dengan lempeng Australia dan lempeng Samudera Hindia.

Akibat kondisi geografisnya, maka saat terjadi gempabumi dan tsunami pada 26 Des 2004 yang ber-episentrum di ujung barat Pulau Simeulue, pulau ini mengalami kerusakan sarana prasarana sangat parah.

Namun, jumlah korban jiwa akibat peristiwa tersebut relatif minim. Hal ini disebabkan masyarakat setempat sudah mengenal secara turun-temurun peristiwa yang disebut sebagai smong, sebab peristiwa tsunami juga pernah terjadi di sana pada tahun 1907.

Bila gempa besar terjadi dan diikuti oleh surutnya air latu dari bibir pantai secara drastis dan mendadak, otomatis tanpa disuruh seluruh penduduk, tua muda, besar kecil, laki-laki, dan perempuan beranjak meninggalkan lokasi menuju tempat-tempat ketinggian atau perbukitan guna menghindari terjangan smong/tsunami tersebut.

Kearifan lokal seperti yang ditunjukkan oleh warga Simeulue harus terus dikembangkan menjadi suatu budaya baru bagi masyarakat di wilayah rawan bencana. Masyarakat hendaknya bisa bersahabat dengan alamnya, mengembangkan budaya dan kearifan lokal yang ada untuk menghindar dari ancaman bencana. Kelak, bila bencana itu datang, maka tidak sampai merenggut kehidupan dan penghidupan masyarakatnya. Manakala bencana itu datang, masyarakat akan menyambutnya dengan kearifan dan kesigapan untuk menyapa sang alam dengan penuh keyakinan bahwa bencana itu memang harus dihadapi dan disikapi dengan benar.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Sejarah Tsunami di Indonesia

LokasiGempaTsunami Peta Lokasi Gempa dan Tsunami yang terjadi di Indonesia

Indonesia adalah Negara yang rawan tsunami, karena merupakan daerah pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Sejumlah daerah di pulau-pulau yang berhadapan langsung dengan zona penunjaman antar lempeng ini, seperti bagian barat Pulau Sumatera, selatan Pulau Jawa, Nusa Tenggara, bagian utara Papua, serta Sulawesi dan Maluku merupakan kawasan yang sangat rawan tsunami.

Catatan sejarah tsunami di Indonesia menunjukkan bahwa kurang lebih 172 tsunami yang terjadi dalam kurun waktu antara tahun 1600-2012, berdasarkan sumber pembangkitnya diketahui bahwa 90% dari tsunami tersebut disebabkan oleh aktivitas gempabumi tektonik, 9% akibat aktivitas vulkanik dan 1% oleh tanah longsor yang terjadi dalam tubuh air (danau atau laut) maupun longsoran dari darat yang masuk ke dalam tubuh air.

Dalam dua decade terakhir terjadi sedikitnya sepuluh kejadian bencana tsunami di Indonesia. Sembilan di antaranya merupakan tsunami yang merusak dan menimbulkan korban jiwa serta material, yaitu tsunami di Flores (1992), Banyuwangi, Jawa Timur (1994), Biak (1996), Maluku (1998), Banggai, Sulawesi Utara (2000), Aceh (2004), Nias (2005), Jawa Barat (2006), Bengkulu (2007), dan Mentawai (2010). Dampak yang ditimbulkan tsunami tersebut adalah sekitar 170 ribu orang meninggal dunia.

Dirangkum dari ‘Masterplan Pengurangan Risiko Bencana Tsunami’

Buku lengkapnya bisa dibaca di sini