Erosi Tanah

mali-130109-003

Manakala Anda menebang pohon dan tidak menggantinya dengan tanaman yang baru, maka bisa mendatangkan bencana. Tanah yang tanpa pepohonan akan mudah longsor atau pun mengalami erosi.

Tanpa tanah kita tidak bisa menanam padi atau tanaman pangan lainnya, tanpa tanah kita tidak bisa memiliki bahan pangan.

Penebangan pohon juga menjadi awal dari proses penggurunan. Manakala itu terjadi, maka tanah akan tererosi, tanaman tidak tumbuh, dan hujan pun enggan turun. Kondisi ini yang kemudian menyebabkan perubahan iklim.

Perubahan iklim dengan demikian bukan terjadi karena pemanasan global, namun karena penebangan vegetasi.

Sumber gambar dari sini

Dampak Perubahan Iklim dan Diskriminasi pada Wanita

Di antara dampak perubahan iklim, mulai dari peningkatan muka air laut, tanah longsor, dan banjir; ada satu hal yang dilupakan yaitu terjadinya perbedaan perlakuan, terutama pada wanita.

Hal tersebut terutama terjadi di negara miskin, hidup wanita biasanya bergantung pada lingkungan alami di sekitarnya.

Wanita bertanggung jawab untuk menyediakan air dan kayu bakar untuk memasak dan penghangat ruangan, serta dalam bidang pertanian untuk menghasilkan pangan. Kekeringan, hujan yang tidak menentu dan penggundulan hutan membuat pekerjaan ini memakan banyak waktu dan sulit, sehingga mengganggu pekerjaan wanita dalam melakukan mata pencahariannya, belajar hal baru, mendapatkan pemasukan, serta berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Namun, peran wanita yang membuatnya rentan dalam menghadapi kondisi lingkungan, pada saat yang sama menjadikan mereka sebagai aktor kunci untuk menuju pembangunan yang berkelanjutan. Pengetahuan dan pengalaman mereka dapat membuat manajement sumber daya alam, adaptasi perubahan iklim, dan strategi mitigasi di semua level akan lebih sukses.

Contoh nyata terjadinya hal ini adalah apa yang terjadi di Ecuadorian Amazon, di mana asosiasi wanita Waorini mempromosikan pengolahan cokelat secara organik sebagai upaya perlindungan suakamargasatwa serta sebagai jalan untuk mendukung pembangunan lokal yang berkelanjutan.

Dengan dukungan dari UNDP, asosiasi wanita tersebut dapat mengelola lahannya secara bersama-sama dan bekerja untuk mencapai angka ‘nol’ penggundulan hutan, perlindungan pada species suakamargasatwa yang rentan dan sertifikasi produksi cokelat organik.

Dalam prosesnya, wanita membangun ketangguhan komunitasnya dengan melakukan investasi keuntungan dari bisnis cokelat ke pendidikan lokal, kesehatan, dan infrastruktur, mereka mengarahkan perekonomian lokal dari yang semula pembersihan lahan serta pasar hewan liar ilegal.

Wanita pribumi di Mexico juga mengarahkan pada pembangunan yang berkelanjutan. Di sana, UNDP mendukung Koolel-Kab/Muuchkambal, sebuah sistem pertanian organik dan agroforestry. Sistem ini diprakarsai oleh para wanita suku Mayan yang bekerja untuk konservasi hutan, kampanye hak-hak penduduk pribumi, serta strategi pengurangan risiko bencana di level komunitas.

Asosiasi yang meliputi komunitas seluas 5000 hektar, mendorong kebijakan publik untuk menghentikan penggundulan hutan dan mendorong upaya alternatif sebagai modal bagi pertanian komersil. Selain itu, aktivitas ini juga membagi model pembiakan lebah kepada lebih dari dua puluh komunitas. Upaya ini menyediakan alternatif perekonomian dari pembalakan liar.

Pemberdayaan wanita menjadi langkah yang paling efektif untuk menghadapi perubahan iklim. Suksesnya aksi perubahan iklim bergantung pada peningkatan peran dan suara wanita, memastikan bahwa pengalaman dan pandangannya didengar pada meja-meja pengambil keputusan serta mendorong mereka untuk menjadi pemimpin dalam gerakan adaptasi iklim.

Dengan mempertimbangkan aspek gender dan pemberdayaan perempuan sebagai satu hal yang secara sistematis dimasukkan dalam merespon isu lingkungan dan perubahan iklim, maka para pemimpin dunia yang terlibat dalam Konferensi Perubahan Iklim di Peru diharapkan dapat mengurangi alih-alih memperhebat kesenjangan perlakuan kepada wanita serta memastikan dapat dilakukannya pembangunan yang berkelanjutan.

Sumber tulisan dari sini

Green Growth: Model Baru Pembangunan Berkelanjutan di Asia

Benua Asia dikenal dengan keanekaragaman hayatinya dan juga berbagai jenis sumber daya alam. Hanya saja, di sisi lain, benua ini juga menghadapi peningkatan populasi, kelangkaan beberapa sumber daya alam, ketahanan energi dan pangan, serta berbagai bencana alam yang makin parah karena pengaruh terjadinya perubahan iklim.

Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, Asia perlu menerapkan sistem pertumbuhan ekonomi yang baru. Sebuah sistem yang dapat mempercepat pembangunan, mengurangi kemiskinan, serta menyediakan kualitas kehidupan yang tinggi.

Sistem ekonomi yang dimaksud adalah Green Growth (pertumbuhan hijau). Penerapan sistem ini diharapkan dapat mengurangi pelepasan karbon akibat polusi, pelibatan berbagai lapisan sosial dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya. Green Growth dapat dicapai dengan menerapkan kebijakan yang tepat, berbagi pengetahuan, dan juga pemberian insentif. Selain itu, penerapan sistem ini juga mempertimbangkan strategi pembangunan yang rendah polusi.

Segala hal tersebut hendaknya tertuang dalam Kerangka Kerja Pembangunan Nasional, yang terdiri dari analisis persoalan, perencanaan, dan pelaksanaan. Analisis yang dilakukan bukan hanya melakukan identifikasi masalah, namun juga dengan melihat kekuatan yang tersembunyi pun tantangan lain yang mungkin akan dihadapi. Dalam pelaksanaannya, kerangka kerja pembangunan nasional mencakup peningkatan efisiensi, pengurangan efek rumah kaca, pertumbuhan ekonomi, serta peningkatan ketangguhan dalam menghadapi perubahan iklim.

Aplikasi Pembanguan Hijau

Sektor Kehutanan
Sektor ini harus dapat menjamin terlaksananya pembangunan yang berkelanjutan. Bidang kehutanan juga menjadi salah satu sarana untuk penyimpanan karbon akibat polusi. Pembangunan di bidang ini juga hendaknya menjaga keanekaragaman hayati, menjaga tata guna air, dan mengurangi erosi tanah yang terjadi.

Beberapa tindakan yang harus segera diambil adalah dengan melakukan perlindungan pada hutan, merestorasi hutan yang rusak, menghentikan pembalakan liar dan pembersihan hutan serta dengan mempromosikan manajemen yang berkelanjutan.

Sektor Pertanian
Sektor ini sangat penting mengingat tantangan pertambahan populasi di masa mendatang akan sangat memengaruhi. Dengan demikian, maka pembangunan hijau pada sektor ini harus mempertimbangkan ketahanan pangan untuk jangka panjang guna memenuhi kebutuhan pangan penduduk. Selanjutnya, bidang ini juga diharapkan dapat membantu untuk mengurangi kemiskinan. Salah satu metode yang dapat ditempuh adalah dengan menanam varietas tanaman pertanian yang dapat tumbuh pada kondisi ekstrem seperti pada daerah yang mengalami kekeringan atau di lahan banjir.

Pembangunan sektor pertanian sebisa mungkin dilakukan dengan pertimbangan dapat menghindari potensi kehilangan (losses) hasil produk pertanian. Selain itu, segala upaya di bidang ini dilakukan untuk menambah pendapatan bagi petani. Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan investasi dan promosi pertanian organik. Khusus untuk industri pertanian, maka upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian ‘Green Labels’ atau Label Hijau. Lebih lanjut lagi, pengembangan sektor pertanian dapat juga dilakukan dengan memasukkannya sebagai bagian dari sektor pariwisata dengan program khusus seperti Ecotourism. Semua hal tersebut, nantinya akan menjadi ‘Green Jobs’.

Sektor pertanian dibangun dengan mempertimbangkan perlindungan pada ekosistem yang penting. Di antara ekosistem yang harus diperhatikan adalah pollinator (penyebaran benih oleh hewan) dan kejernihan air yang terjaga.

Sektor Energi
Seperti halnya sektor pertanian, energi memainkan peran yang sangat vital seiring dengan pertambahan polusi yang terjadi. Pembangunan dalam bidang ini hendaknya didukung dengan berbagai kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Pemanfaatan energi juga sebisa mungkin memperhatikan efisiensi. Sektor ini juga perlu dukungan pendanaan melalui investasi dan pengembangan teknologi melalui inovasi-inovasi.

Kendati demikian, sektor energi diharapkan dapat memberikan keuntungan dan ketahanan energi pada masa yang akan datang. Langkah yang dapat ditempuh di bidang energi adalah dengan melakukan penelitian mengenai sumber-sumber energi mikro dan peningkatan energi akses bagi semua lapisan masyarakat.

Sektor Transportasi
Fokus utama pembangunan hijau pada sektor transportasi adalah mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas dan polusi udara. Selain itu, sektor ini juga diharapkan dapat membantu mengurangi tingkat kemiskinan. Metode yang dapat ditempuh adalah dengan promosi penggunaan moda transportasi massal. Selain itu, hendaknya sektor transportasi juga mempertimbangkan efisiensi pemanfaatan bahan bakar minyak dan mendorong pemakaian kendaraan berbahan bakar listrik.

Pengambil kebijakan dapat mendorong terwujudnya standard polusi bagi kendaraan yang lalu-lalang di jalanan. Hal lain yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan kampanye transportasi hijau, misalnya dengan penggunaan sepeda atau jalan kaki. Pada akhirnya, pembangunan sektor ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja hijau.

Akhirnya, pembangunan hijau sebisa mungkin adalah pembangunan yang pintar atau ‘smart development’. Jenis pembangunan ini dilakukan dengan melibatkan semua pihak termasuk pemerintah, swasta/bisnis, kelompok masyarakat dan individu-individu. Setiap orang harus mengetahui apa peran masing-masing….

Dalam sistem pembangunan hijau ini, apa peran Anda?

Lebih jauh tentang ‘Green Growth’ dapat dilihat di: www.asialeds.org
Tulisan ini dapat dilihat penjelasannya dalam bentuk video di sini

Hentikan Penggunaan Bahan Bakar yang ‘Kotor’

Laporan dari PBB mengenai pembatasan perubahan iklim mengungkapkan bahwa masyarakat dunia harus segera berpindah dari penggunaan bahan bakar yang memicu karbon. Dalam laporan yang diluncurkan di Berlin tersebut, dikatakan bahwa perubahan secara besar-besaran ke energi terbarukan harus dilakukan. Laporan tersebut adalah hasil negosiasi antara ilmuwan dan para pejabat di pemerintahan. Laporan tersebut adalah hasil kerja IPCC, yang mencoba menyediakan bukti-bukti mengenai dampak dari perubahan iklim.

Gas alam dipandang sebagai sumber baru yang dapat menggantikan minyak bumi dan batu bara. Namun, terdapat perdebatan di antara peserta mengenai siapa yang akan mengeluarkan anggaran untuk perubahan sumber energi tersebut.

Ringkasan untuk para pengambil kebijakan memberikan gambaran tentang dunia yang mengalami peningkatan pelepasan karbon secara cepat. “Kereta mitigasi yang berkecepatan tinggi harus segera meninggalkan stasiun dan semua warga dunia harus berada di dalamnya.” Demikian dikatakan ketua IPCC Rajendra Pachauri kepada wartawan di Berlin pada saat peluncuran laporan tersebut.

Dr Youba Sokono sebagai wakil ketua IPCC untuk kelompok kerja ke tiga yang menyusun laporan mengatakan bahwa ilmu pengetahuan telah membuktikan dampak perubahan iklim. Beliau menambahkan, bahwa pengambil kebijakan sebagai ‘the navigator’ mereka harus mengambil keputusan, sementara para ilmuwan adalah pembuat petanya.

Sekretaris Badan Energi dan Perubahan Iklim Inggris, Ed Davey mengatakan, bahwa pemanasan global harus diantisipasi menggunakan semua teknologi. Dia menyampaikan kepada BBC News, “Kita dapat melakukannya, kita harus melakukannya karena ini adalah tantangan dan sangat mengancam kehidupan ekonomi dan sosial, kesehatan kita dan juga ketahanan pangan. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa kita bisa menghadapinya apabila kita punya kemauan.”

Beliau menambahkan, bahwa pemerintah Inggris adalah perintis penggunaan energi terbarukan. “Kita sudah meningkatkan listrik dengan energi terbarukan sebanyak dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir. Sepertinya kita sudah melampaui target dalam peningkatan jumlah listrik yang menggunakan energi terbarukan. Namun, kita harus terus meningkatkannya.”

Dari jumlah karbon yang ada di atmosfer sejak 1750, setengah di antaranya baru dihasilkan dalam empat puluh tahun terakhir. Angka karbon di atmosfer tersebut meningkat cepat sejak tahun 2000 meskipun saat itu terjadi krisis ekonomi global.

Laporan IPCC menyoroti peningkatan penggunaan batu bara dalam satu dekade sejak perubahan millenium sebagai ” kebalikan tren yang sudah lama terjadi mengenai pengurangan karbon sebagai penyedia energi dunia.”

Diawali dari peningkatan populasi dunia dan aktivitas ekonomi, suhu permukaan global meningkat antara 3,7 sampai 4,8 derajat celcius pada tahun 2100 bila tidak ada upaya baru yang dilakukan. Jumlah tersebut adalah dua derajat lebih tinggi dari titik di mana pengaruh perubahan iklim akan terasa. Namun, para peneliti yang terlibat dalam laporan mengatakan bahwa situasi tersebut dapat berubah.

“Perlu perubahan yang mendasar di sektor energi, hal tersebut tak terbantahkan lagi.” Demikian dikatakan oleh Prof. Jim Skea, salah seorang wakil dari kelompok kerja 3. “Satu hal yang sangat penting adalah mengeluarkan karbon sebagai sumber listrik, sehingga energi terbarukan, nuklir, bahan bakar fosil dengan kandungan karbon yang disimpan, semua hal tersebut adalah bagian dari sumber energi yang memungkinkan terjadinya perubahan, sehingga pemanasan yang terjadi masih di bawah dua derajat celcius.”

Hal tersebut bukanlah sebuah usaha yang sederhana. Guna menjaga agar perubahan iklim tetap berada di bawah dua derajat, jumlah karbon di udara harus berkisar antara 450 bagian per sejuta pada tahun 2100. Agar angka tersebut tercapai, maka emisi pada 2050 haruslah antara 40-70% lebih rendah daripada emisi di tahun 2010.

Laporan IPCC mengungkapkan bahwa bahan bakar terbarukan adalah bagian yang paling penting. Semenjak laporan terakhir pada tahun 2007, para ilmuwan mengatakan bahwa energi terbarukan penggunaannya telah meningkat dengan pesat.

Pada tahun 2012, energi terbarukan menyumbang lebih dari setengah dari total listrik yang dihasilkan di seluruh dunia. Para ilmuwan menekankan bahwa energi terbarukan lebih ekonomis dibandingkan energi berbahan bakar fosil, serta menawarkan berbagai keuntungan, termasuk udara yang bersih dan keamanan.

“Hal ini benar-benar akan menjadi akhir dari era sumber energi karbon.” Demikian dikatakan Jennifer Morgan dari World Resources Institute, yang menjadi salah seoran editor dari satu bab di laporan IPCC. “Perlu ada perubahan yang drastis dan secepatnya dari energi berbahan dasar fosil menjadi 100% energi bersih.”

Prof. Ottmar Edenhofer, wakil ketua dari kelompok kerja 3, mengatakan, “Mitigasi bukan berarti dunia harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi.” Beliau menjabarkan, bahwa laporan IPCC menginformasikan mengenai ‘harapan sederhana’, namun beliau menambahkan, “Kebijakan iklim bukanlah makan siang gratis.”

Salah satu dukungan yang cukup mencengangkan dalama laporan adalah pada gas alam. “Emisi dari penyediaan energi dapat dikurangi secara signifikan dengan mengganti pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dengan kombinasi gas alam yang lebih modern dan efisien.” Demikian dikatakan dalam laporan.

Laporan tersebut juga menyinggung peran gas alam sebagai ‘jembatan’ teknologi seiring dengan meningkatnya pembangunannya sebelum mencapai puncak dan kemudian jatuh di bawah level saat ini pada tahun 2050. Namun, banyak skenario yang dinilai oleh panel masih mencantumkan ‘kekurangan’ dari rentang target.

Guna mengatasi hal tersebut, dunia perlu kiranya untuk menghapus karbon dari atmosfer. Kombinasi pengikatan dan penyimpanan karbon dengan bioenergi dipandang sebagai salah satu solusi yang potensial, namun hal ini kurang disambut antusias dalam laporan. Di dalamnya, upaya ini dianggap belum meyakinkan dan berasosiasi dengan risiko.

Waktu adalah segalanya, demikian dikatakan oleh para ilmuwan.

“Penundaan upaya mitigasi saat ini sampai dengan tahun 2030 diperkirakan akan meningkatkan secara drastis kesulitan untuk perpindahan ke emisi jangka panjang yang lebih rendah.” Demikian ditulis dalam rangkuman laporan.

“Jika kita menunda, maka kita akan menghadapi pilihan yang lebih sulit.” Dikatakan, Prof, Skea. “Apa kita akan menyerah dengan target dua derajat atau apakah kita akan menggunakan teknik-teknik yang dapat menyerap CO2 dari atmosfer? Jika kita mengantisipasi lebih awal dan tercapai kesepakatan di Paris tahun depan, maka harapan pada ide ini haruslah dikurangi.”

Dikatakan dalam laporan tersebut, perlu ada perubahan yang mendasar dalam investasi jika dampak yang lebih buruk dari peningkatan temperatur ingin dihindari. Investasi dalam energi terbarukan dan sumber energi yang rendah karbon lainnya perlu ditingkatkan tiga kali lipat dalam pertengahan abad, sementara arus uang untuk bahan bakar fosil haruslah dihilangkan.

Namun, perdebatan muncul pada siapa yang harus memangkas emisi dan siapa yang harus membayar guna perubahan kepada sumber energi rendah karbon. Negara maju dan berkembang bertentangan dalam hal ini di Berlin, perbedaan pandangan ini kemudian berlanjut dalam negosiasi di UN.

“Dinamika yang terjadi dalam negosiasi UNFCC juga dapat dengan mudah disaksikan di sini.” Dikatakan Kaisa Kosenan dari Greenpeace. “Hal tersebut mengindikasikan sebuah pertanyaan kunci mengenai keadilan, siapa yang harus melakukan sesuatu dan siapa yang harus membayar kerusakan yang sudah terlanjur terjadi.”

Peserta yang lain mempercayai, bahwa laporan baru ini dapat mendorong proses di UN lebih jauh lagi. “Saya berharap bahwa informasi dari IPCC ini dapat sedikit mengubah pola kerjasama antar negara daripada pola saling tunjuk di antara mereka. Ada terlalu banyak hal yang dipertaruhkan.” Kata Jennifer Morgan.

Sumber tulisan dari sini

PBB: “Luar Biasa” Dampak Iklim

Laporan oleh PBB menyatakan, “Dampak dari perubahan iklim adalah ‘parah, meluas, dan tak dapat dihindari’.”

Ilmuwan dan pejabat yang melakukan pertemuan di Jepang menyimpulkan bahwa dokumen tersebut saat ini adalah yang paling lengkap untuk mengkaji dampak perubahan iklim di dunia. Beberapa dampak perubahan iklim adalah peningkatan risiko bencana banjir, perubahan hasil pertanian, dan ketersediaan air.

Manusia mungkin bisa beradaptasi dengan beberapa perubahan tersebut, namun hanya untuk jangka pendek. Salah satu contoh adaptasi adalah dengan membangun infrastruktur seperti tembok atau tanggul laut untuk melindungi dari banjir. Contoh lain yaitu dengan irigasi yang lebih efisien untuk petani di daerah yang mengalami kelangkaan air.

Sistem alami saat ini harus menanggung beban dari perubahan iklim yang terjadi, namun dampak pada manusialah yang paling mengkhawatirkan. Anggota panel PBB untuk iklim mengatakan, laporan ini menyediakan banyak bukti untuk dampak yang terjadi.

Kesehatan, rumah, makanan, keamanan kita terancam oleh meningkatnya suhu, demikian dilaporkan.

Laporan tersebut merupakan kesepakatan yang dicapai setelah melalui diskusi yang panjang di antara para ahli di Yokohama. Di dalamnya termasuk perhatian dari berbagai penulis yang menyumbangkan pemikirannya di dalam dokumen. Ini adalah seri kedua dari laporan IPCC yang diterbitkan tahun ini dan khusus menyoroti penyebab, dampak, dan solusi dari pemanasan global.

Laporan untuk para pemangku kepentingan ini menyoroti berbagai fakta yang terdiri dari bukti-bukti dari para peneliti mengenai dampak dari pemanasan yang meningkat dua kali lipat sejak laporan terakhir pada tahun 2007. Selain mencairnya es dan pemanasan permafrost (lapisan tanah beku) di daerah kutub, laporan tersebut juga menggarisbawahi fakta bahwa di semua benua dan samudera terjadi perubahan iklim yang berdampak pada sistem alami dan manusia pada beberapa dekade terakhir.

Menggunakan kata dalam laporan tersebut, “Pemanasan yang meningkat telah memicu dampak yang parah, meluas, dan tak dapat dihindari.”

“Siapapun di planet ini akan terkena dampak dari perubahan iklim.” Kata Rajendra Panchauri dalam konferensi pers-nya dihadapan wartawan di Yokohama.

Dr. Saleemul Huq, seorang penulis untuk salah satu bab berkomentar, “Sebelumnya kita tahu hal ini telah terjadi, namun sekarang kita punya banyak bukti bahwa hal tersebut sedang terjadi dan nyata.”

Michel Jarraud, sekretaris jenderal Organisasi Meteorologi Dunia, mengatakan bahwa sebelumnya manusia bisa mengabaikan iklim bumi, namun saat ini pengabaian bukanlah alasan yang bagus. Jarraud mengatakan, laporan ini disusun dengan mengkaji lebih dari 12.000 penelitian ilmiah. Dia bilang, “Ini adalah dokumen terlengkap yang bisa Anda dapatkan dari berbagai disiplin ilmu.”

Sekretaris Negara Amerika Serikat, John Kerry berkomentar, “Bukti dari berbagai penelitian menunjukkan iklim dan hidup kita dalam bahaya, kecuali kita bertindak secara dramatis dan cepat. Penolakan terhadap bukti-bukti tersebut adalah kekeliruan.” Beliau menambahkan, “Tidak ada satu negara yang menyebabkan pemanasan global dan tak ada satu pun negara yang mampu menghentikannya. Namun, kita harus menyesuaikan tindakan yang diambil dengan perhitungan-perhitungan ilmiah.

Ed Davey, Sekretaris Energi dan Iklim di Inggris mengatakan, “Bukti ilmiah telah dengan jelas menunjukkan, perubahan iklim akan berdampak pada berbagai aspek kehidupan kita. Masalah kesehatan, ketahanan pangan, dan pertumbuhan ekonomi. Banjir di Inggris baru-baru ini adalah penanda bahwa kerusakan yang disebabkan oleh perubahan iklim dapat terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.”

Laporan tersebut berisi detail dampak jangka pendek pada sistem alami dalam 20 sampai 30 tahun ke depan. Di sana dijelaskan lima alasan yang harus diperhatikan seiring dengan pemanasan yang telah terjadi di dunia. Hal ini termasuk ancaman pada sistem yang khusus seperti di lautan es Arktik dan terumbu karang, di mana risiko peningkatan suhu sangat tinggi , yaitu sekitar 2 derajat celcius. Ringkasan laporan menyoroti dampak di lautan dan pada sistem air tawar. Lautan akan lebih asam dan mengancam terumbu karang serta berbagai spesies yang hidup di sana. Di darat, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan species yang lain akan mulai berpindah ke daerah yang lebih tinggi atau ke kutub seiring dengan meningkatnya suhu.

Demikian juga manusia, akan merasakan peningkatan dampak seiring berjalannya waktu. Ketahanan pangan menjadi satu hal yang sangat diperhatikan. Hasil pertanian untuk jagung, padi, dan gandum adalah sumber pangan utama sampai tahun 2050, namun sekitar sepersepuluh dari perkiraan menunjukkan kerugian hingga 25%. Setelah tahun 2050, terjadi peningkatan risiko pada hasil panen yang kian mengkhawatirkan seiring dengan dampak ledakan dan kegagalan di banyak wilayah. Sementara itu, permintaan akan pangan terus meningkat karena populasi dunia mencapai angka 9 milyar.

Banyak jenis ikan, sumber pangan yang penting bagi banyak orang juga akan berpindah karena air semakin hangat. Di beberapa bagian wilayah tropis dan Antartika, tangkapan yang potensial menurun hingga lebih dari 50%.

“Ini adalah penilaian yang wajar.” Kata Prof Neil Adger dari Universitas Exeter, salah seorang penulis yang lain. “Di masa depan, risiko akan meningkat pada manusia, dampak pada tanaman, dan ketersediaan air dan terutama pada kejadian ekstrem yang berdampak pada manusia dan mata pencahariannya.”

Manusia akan terdampak oleh banjir dan gelombang panas yang menyebabkan kematian. Laporan tersebut memperingatkan akan adanya risiko baru, termasuk ancaman bagi mereka yang bekerja di luar seperti petani atau pekerja konstruksi. Perhatian terhadap hubungan antara proses migrasi dengan perubahan iklim juga meningkat, termasuk pada konflik dan keamanan nasional.

Maggie Opondo, salah seorang penulis dari Universitas Nairobi mengatakan bahwa, di tempat seperti Afrika perubahan iklim dan kejadian ekstrem berarti masyarakat yang makin rentan dan makin tenggelam dalam kemiskinan.

Ketika negara miskin lebih terdampak dalam jangka pendek, di sisi lain negara maju pun tak bisa melepaskan diri. “Negara kaya sudah semestinya memikirkan perubahan iklim. Kita sudah melihat hal itu terjadi di Inggris dengan banjir yang terjadi beberapa bulan lalu serta badai yang melanda Amerika dan kekeringan yang terjadi di California.” Dikatakan oleh Dr. Hug. “Ini adalah kejadian dengan kerugian jutaan trilyun dollar yang harus dibayar oleh negara maju, sementara di satu sisi mereka punya keterbatasan anggaran untuk membiayai itu semua.”

Namun, hal tersebut belum seberapa, seperti yang dikatakan oleh seorang penulis laporan. “Saya kira hal baru yang ada dalam laporan ini adalah ide untuk mengatasi perubahan iklim sebagai suatu persoalan dalam mengelola risiko.” Dikatakan oleh Dr. Chris Field. “Perubahan iklim sangat penting dan kita memiliki berbagai peralatan untuk secara efektif mengatasinya, namun kita harus lebih pintar.”

Dalam ringkasan laporan terbaru ini, ditekankan bagaimana cara beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Permasalahannya adalah, siapa yang akan mengucurkan dana?

“Guna menentukan hal tersebut, tidak bergantung pada IPCC.” dikatakan Dr. Jose Marenggo, seorang pejabat pemerintah Brasil yang hadir dalam pertemuan. “Laporan tersebut mengemukakan berapa anggaran yang diperlukan dan kemudian seseorang/institusi harus membayarnya dengan berdasarkan perhitungan keilmuan. Saat ini lebih mudah untuk melakukan negosiasi di UNFCC (lembaga PBB untuk perubahan iklim) dan memulai kesepakatan siapa yang akan mengucurkan dana guna keperluan adaptasi terhadap perubahan iklim.”

Sumber tulisan dari sini