Pendekatan dan Faktor Sosial untuk Kerentanan

4f741899-e3a4-4d93-b8d3-0b8f1661b3dc.WyI2MDB4NjAwIiwic2NhbGUiXQ

Tiga Pendekatan untuk Kerentanan:

  • Pendekatan Keterpaparan satu kondisi saat penduduk atau tempat berpotensi terdampak satu kejadian bencana.
  • Pendekatan Kondisi Sosial adalah satuĀ perhitungan ketangguhan sosial menghadapi bencana.
  • Kerentanan Tempat merupakan gabungan dari keterpaparan dan ketangguhan sosial dalam menghadapi bencana.

Faktor Sosial untuk Kerentanan Continue reading “Pendekatan dan Faktor Sosial untuk Kerentanan”

Contoh-contoh kerentanan

Bencana dengan karakteristik rapid on set (bencana yang terjadi secara tiba-tiba) seperti tsunami, gempa bumi dan angin topan mengharuskan warga dan pemerintah untuk bersiap diri. Berikut ini beberapa contoh pembelajaran mengenai kerentanan dari beberapa bencana besar yang terjadi di dunia.

1. Gempabumi di Tabriz, Iran, 2012

838790_orig

Warga tinggal di lokasi dengan aktivitas tektonik yang tinggi sementara bangunan rumahnya tidak didukung dengan struktur tahan gempa. Manakala Continue reading “Contoh-contoh kerentanan”

Peran Data dalam Bencana Kemanusiaan

Data-analysis-image-for-blip

Oleh Lisa Cornish

Bagi lembaga kemanusiaan non pemerintah yang bekerja untuk membantu bencana, maka big data dan open data bukan sekadar omong kosong. Keduanya adalah kebutuhan manakala ingin menyelamatkan nyawa.

Pembelajaran dari World Vision International (WVI), ketersediaan data yang bisa ditarik dan dibagi-bagikan telah menyelamatkan nyawa ketika Continue reading “Peran Data dalam Bencana Kemanusiaan”

Empat Kesulitan Mengelola Risiko Gunung Api

Para ahli gunung api dari berbagai negara yang tergabung dalam Tim Mitigate and Assess Risk from Volcanic Impact on Terrain and Human Activities (Miavita), sudah memberikan peringatan mengenai sulitnya pengelolaan risiko gunung api.

Menurut Tim Miavita, ada empat kesulitan pengelolaan risiko gunung api yang kerap, dan tak boleh diabaikan.

Pertama, lereng gunung api merupakan tempat manusia sering berkerumun. Di situlah tanah tersedia, subur, dan kadang lebih murah, bahkan meski area tersebut sangat berbahaya karena tingginya ancaman gunung api.

Kedua, ketersediaan sumberdaya, seperti anggaran dan atau kapasitas saintifik, berangkali tidak mencukupi untuk memastikan penanggulangan yang efisien, khususnya di negara berkembang.

Ketiga, masa antara dua letusan atau terjadinya ancaman yang panjang barangkali dianggap sebagai serangan berisiko rendah oleh otoritas lokal dan penduduk setempat.

Keempat, baik keputusan untuk hidup di lingkungan gunung api yang berbahaya dan kurangnya ketersediaan sumberdaya berakar dari kendala struktural jangka panjang yang terhubung dengan faktor ekonomi politik, seperti distribusi sumberdaya, relasi patron-klien, beban utang, serta kebijakan perdagangan global.

Daftar Pustaka

Saragih, Bonar, 2014, Asmaradana Merapi, Narasi Ketangguhan Orang-orang Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan UNDP Indonesia, Jakarta.