Teknik-teknik yang Digunakan untuk Penilaian Risiko Bencana

Daftar berikut bukanlah semua model yang ada, namun hanyalah paparan dan penjelasan singkat dari cakupan luas teknik-teknik yang biasanya dikembangkan dan digunakan sebagai alat untuk menilai bencana.

Access Model

Access model adalah sebuah model yang meneliti individu atau kelompok yang relatif rentan terhadap bencana. Individu atau kelompok ini, terdampak oleh perbedaan akses kepada sumberdaya ekonomi dan politik yang digunakan untuk mendukung mata pencaharian mereka.

Kekuatan dari model ini adalah menyediakan analisis/pandangan yang luas dari sebuah kerentanan masyarakat, termasuk di dalamnya akar permasalahan. Pembobotan kajian ini diperuntukkan kepada bencana alam. Model ini juga sebagai kerangka kerja untuk melihat kerentanan mata pencaharian (livelihood) dan kerentanan.

Keterbatasan dari model ini adalah kemampuannya untuk menjelaskan kerentanan, bukan untuk mengukurnya. Model ini tidak bisa diaplikasikan secara operasional tanpa koleksi data dan analisis yang baik.

Teknik Dibantu Komputer

Teknik ini berfokus pada penggunaan dari program komputer untuk otomatisasi langkah-langkah dari proses penilaian risiko bencana. Sebagai contoh adalah penggunaan dari GIS dan Penginderaan Jauh yang telah memungkinkan dilakukannya pemetaan bencana secara lebih komprehensif.

Kelemahan dari penggunaan komputer ini, masih bergantung pada variasi teknik yang digunakan, namun secara umum, teknik ini bergantung pada peralatan dan keahlian. Kedua hal itu tidak selalu tersedia dalam sebuah masyarakat. Padahal, keduanya bisa meningkatkan kesenjangan informasi terhadap hasil penilaian risiko yang diproduksi, baik oleh ahli maupun masyarakat luas.

Analisis Manfaat Biaya

Proses ini biasanya dipilih sebagai upaya penanggulangan, dilakukan dengan menyeimbangkan biaya yang digunakan dalam setiap pilihan dan keuntungan yang didapat dari hal itu. Secara umum, biaya untuk mengelola risiko harus seimbang dengan keuntungan yang didapatkan.

Keuntungan dari teknik ini adalah sebagai usaha untuk meyakinkan masyarakat agar berinvestasi kepada kegiatan tersebut. Pada akhirnya, dapat memproduksi keuntungan yang sangat besar sesuai dengan nilai uang yang dikeluarkan.

Kelemahan dari teknik ini adalah kurangnya data dan metode yang diperlukan untuk menangkap manfaat dan biaya tidak langsung serta tak bisa dihitung. Tanggung jawab hukum dan sosial yang diperlukan seringkali mengesampikan kesederhanaan analisis manfaat dan biaya. Model ini juga kurang menguntungkan bagi pengukuran atau orang-orang tertentu.

Indeks Risiko Bencana

Indeks Risiko Bencana adalah teknik analisis kuantitatif yang menggunakan indikator statistik untuk mengukur dan membandingkan berbagai variabel.

Keuntungan dari teknik ini adalah efisiensi dalam pengukuran elemen kunci risiko bencana. Dalam teknik ini, pengulangan aplikasi sistem indikator memungkinkan pengawasan proses pengurangan risiko bencana. Sistem ini juga dapat diterapkan dengan cepat dan berbiaya sedikit. Sistem ini berguna di tingkat nasional untuk mengidentifikasi masyarakat yang terpapar bencana.

Keterbatasan dari teknik ini termasuk penggunaan indikator yang tidak mencerminkan kompleksitas kenyataan. Basis data di tingkat lokal dan nasional, saat ini tidak menggunakan data dan kerangka kerja analisis yang seragam. Selain itu, juga disebabkan karena tidak tersedianya data yang sesuai dalam hal cakupan dan akurasiannya. Di lain sisi, manakala melakukan peng-indeks-an, dimungkinkan perbandingan risiko relatif di antara dua wilayah geografis, namun tidak dapat digunakan untuk menggambarkan risiko aktual di setiap wilayah.

Penilaian Dampak Lingkungan

Teknik ini digunakan oleh pengambil keputusan yang dapat menyediakan informasi dampak pada lingkungan akibat suatu aktivitas.

Keuntungan dari teknik ini adalah meyakinkan sektor swasta atau individu untuk mempertimbangkan dampak dari kegiatan mereka pada beberapa faktor kerentanan. Sistem ini sebagai bagian dari penilaian risiko yang detil dapat menyediakan solusi alternatif. Selain itu, teknik ini dapat juga digunakan sebagai alat perencanaan untuk menyusun ulang penilaian dampak bencana.

Keterbatasan dari teknik ini karena hanya berfokus sekarang untuk penilaian dampak pasca bencana. Selain itu, karena tidak dipromosikan kegunaan teknik ini sebagai bagian dari proses perencanaan, walaupun hasilnya dapat dimasukkan ke dalam perencanaan masa depan. Sebagai informasi tambahan, masih ada cara lain sebelum teknik ini sepenuhnya digunakan.

Analisis Pohon Kejadian

Sebuah analisis berbasis konsekuensi  suatu kejadian telah atau belum terjadi atau suatu kompenen telah atau belum gagal. Pohon kejadian diawali dari kejadian pendahuluan. Konsekuensi dari kejadian tersebut diikuti serangkaian potensi kejadian lain. Setiap potensi kejadian lain itu diberikan nilai kemungkinan terjadinya, sehingga dapat dihitung variasi output yang mungkin dihasilkan.

Keunggulan dari teknik ini adalah kemampuannya dalam menganalisis konsekuensi yang terjadi dari suatu kegagalan atau terjadinya peristiwa yang tidak diinginkan.

Teknik Model Kegagalan dan Analisis Dampak

Sebuah teknik analisis, yang mengeksplorasi dampak suatu kegagalan atau kekeliruan fungsi satu komponen dalam sebuah sistem. Sebagai contoh, jika bagian ini gagal dalam cara ini, apa yang akan terjadi? Level dari risiko ditentukan oleh: Risiko=kemungkinan kegagalan x kerumitan kategori.

Teknik ini dapat digunakan untuk satu titik kegagalan, namun bisa juga diperluas untuk mengkaji kegagalan pararel dan sangat bernilai untuk melihat kembali di masa depan sebagai basis teknik penilaian risiko yang lain.

Analisis Pohon Kegagalan

Ini adalah teknis grafik yang menyediakan penjelasan  gabungan yang mungkin terjadi dalam sebuah sistem. Teknik ini dapat menghasilkan output yang tidak diinginkan. Output paling serius yang terpilih disebut sebagai Top Event. Proses analisis menjelaskan bagaimana Top Event tersebut dapat disebabkan karena kegagalan satu atau gabungan kejadian.

Keuntungan dari pendekatan ini adalah dapat mengidentifikasi penyebab dasar suatu kegagalan dan menginvestigasi keandalan dan keamanan sistem yang kompleks dan besar.

Keterbatasan dari pendekatan ini adalah tidak dapat mengukur kemungkinan. Oleh karena itu,  pengukuran pembanding diidentifikasi dari proses yang mungkin bukan berpotensi terbesar untuk mengurangi risiko.

Pemetaan Sistem Informasi Geografis

Teknik ini berisi penggunaan sistem informasi geografis, sebuah peralatan berbasis komputer untuk pemetaan risiko bencana. Teknologi SIG mengintegrasikan basisdata operasi dengan analisis manfaat geografis melalui peta.

Keuntungan dari teknis ini adalah penambahan produktivitas dari teknisi pemetaan bencana. Ini bisa memberikan hasil dengan kualitas tinggi yang bisa didapatkan secara manual dan bisa memfasilitasi pengambil keputusan. Teknik ini berguna dalam peningkatan efisiensi koordinasi di antara badan manakala efisiensi adalah barang yang langka.

Keterbatasan dari teknik ini termasuk kurangnya personel terlatih, kesulitan pertukaran data di sistem yang berbeda-beda, kesulitan dalam memasukkan variabel sosial, ekonomis, dan lingkungan. Kesulitan lain adalah variasi dalam mengakses komputer dan data yang berkualitas dan detil yang diperlukan untuk analisis SIG.

Analisis Geospasial

Analisis informasi risiko berdasarkan jarak, luasan, dan volume atau karakteristik spasial yang lain dalam batas geografis menggunakan GIS dan teknik pemetaan bencana.

Keuntungan dari teknik ini adalah mengidentifikasi bahaya dan daerah berbahaya pada berbagai skala, mulai dari lokal, regional, sampai ke benua. Keuntungan lainnya adalah sudut pandang risiko bukan hanya untuk satu jenis bencana, namun juga dari orientasi ke berbagai level relatif keterpaparan.

Keterbatasan dari teknik ini adalah sama dengan keterbatasan pada teknik SIG dengan tambahan pada dibutuhkannya batas geografis yang baik, seperti batas negara, kota, atau kecamatan.

Pemetaan Bencana

Berisi proses pemetaan dari informasi kebencanaan dengan area studi di berbagai skala, cakupan, dan kedetilan.

Pemetaan ini dapat dilakukan pada satu jenis bencana, seperti peta patahan atau banjir. Selain itu, pemetaan juga dapat dilakukan pada beberapa jenis bencana yang dikombinasikan dalam satu peta untuk memberikan gambaran komposit/gabungan dari bencana alam.

Keuntungan dari teknik pemetaan per satu jenis bencana adalah bentuk visual informasi untuk pengambil keputusan dan perencana yang mudah dimengerti. Sementara itu, peta multi bencana memberikan kemungkinan rekomendasi teknik mitigasi bersama, bahwa suatu daerah memerlukan informasi lebih, penilaian lanjutan, atau dapat diidentifikasi teknik khusus untuk menurunkan ancaman bencana. Lebih lanjut, keputusan penggunaan lahan dapat berdasarkan pada semua jenis bencana yang dipandang berkelanjutan.

Keterbatasan dari teknik ini adalah volume informasi yang dibutuhkan untuk manajemen bencana alam, terutama dalam konteks integrasi perencanaan pembangunan, seringkali melebihi kapasitas metode manual dan dengan demikian mendorong penggunaan teknik bantuan komputer.

Analisis Sejarah

Analisis ini merupakan informasi sejarah untuk menjelaskan tingkat risiko berdasarkan pengalaman yang sudah lampau.

Keuntungan dari teknik ini adalah identifikasi dari aspek dinamis yang terlibat dalam kerentanan. Kemudian juga adanya penyediaan kriteria untuk dimasukkan sebagai bobot relatif yang membedakan dimensi kerentanan dalam penilaian risiko.

Keterbatasan teknik ini adalah pada kepercayaan data sejarah kebencanaan dan kebutuhan untuk perbaikan, pengelolaan dan pengisian sistematis dataset kebencanaan. Sebagai tambahan statistikal dampak bencana sebelumnya dapat diandalkan dan jaran mencakup dampak sosial ekonomi dari bencana tersebut. Data kerentanan secara umum terbatas pada kerenatan fisik tergantung pada penilaian sejarah itu sendiri dapat menciptakan harapan yang keliru pada kesiapsiagaan bencana. Suatu bencana mungkin pernah terjadi di satu wilayah, namun belum menjadi pertimbangan.

Analisis dampak

Penggunaan analisis dampak adalah untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi konsekuensi negatif dan positif dari suatu bencana pada sistem alam dan manusia. Sebagai contoh, lingkungan, ekonomi, financial, dan sosial. Termasuk di dalamnya adalah metodologi dan standar untuk penilaian dampak dan kerusakan.

Keuntungan dari teknik ini adalah identifikasi hubungan antara kerentanan bencana dan dampak akibat bencana dengan kemampuan untuk menciptakan perangkat guna mengukur pengurangan kerentanan pada bencana-bencana tersebut.

Sementara itu, kelemahan teknik ini adalah ketergantungannya pada data sejarah bencana. Keterbatasan ini dituliskan dalam analisis sejarah. Kelemahan lainnya adalah teknik ini berfokus pada penilaian dampak pasca bencana dan tidak dipromosikan penggunaannya sebagai bagian dari proses perencanaan. Meskipun di lain sisi, hasil teknik ini dapat dimasukkan dalam perencanaan mendatang dan akhirnya untuk memenuhi kebutuhan analisis sosial ekonomi akibat bencana.

Analisis Induktif

Merupakan analisis risiko dengan mengintegrasikan lapisan informasi, seperti informasi bencana ddengan parameter sosial ekonomi dalam kenampakan geografis seperti unit administrasi, zona ekologi, kota atau jalan. Semua itu menggunakan teknik GIS.

Data dapat ditampilkan dalam bentuk peta, dengan variabel terkait dibagi ke dalam kelas-kelas atau kategori dan ditempatkan dalam tiap unit geografi.

Analisis Partisipatif

Teknik analisis risiko yang memperhitungkan orang terdampak dalam menentukan masalah dan kebutuhan, menentukan solusi untuk mereka, mengimplementasikan aktivitas yang telah disetujui untuk mendapatkan solusi dan atau mengevaluasi hasil.

Keuntungan dari teknik ini adalah peningkatan kapasitas, penciptaan manajemen risiko bencana dalam sikap dan kebiasaan, serta wawasan yang lebih dalam pada masyarakat untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Sebagai tambahan, analisis partisipatif akan lebih efektif dalam hal biaya untuk analisis jangka panjang daripada didorong oleh faktor eksternal. Secara khusus, dikarenakan analisis ini lebih sesuai dan karena prosesnya memungkinkan ide-ide untuk dites dan diperhalus sebelum diadopsi.

Keterbatasan teknik ini adalah kurang sesuai karena kerangka waktu yang kaku. Dampak akan dibatasi dengan baik apabila satu bagian dari masyarakat tergabung dan ketika peran serta mereka melibatkan perubahan sosial yang nyata. Ini menyebabkan kemungkinan perlawanan atau konflik dengan mereka yang secara tradisional memegang kekuasaan dan pengaruh.

Model Tekanan dan Rilis

Titik awal dari model tekanan dan rilis adalah, bahwa bencana adalah pertemuan antara dua kekuatan, yaitu proses yang menyebabkan kerentanan di satu sisi, dan keterpaparan fisik terhadap suatu bencana di sisi yang lain. Peningkatan tekanan dapat berasal dari dua sisi, namun kerentanan harus dikurangi untuk meringankan tekanan. Kerentanan dibagi dalam tiga tahap, yaitu sebab asal, tekanan dinamis, dan kondisi tidak aman.

Kekuatan dari model ini adalah dapat menyediakan sudut pandang yang lebar pada kerentanan. Ini memberikan bobot pada bencana alam, dan memberikan kerangka kerja untuk melihat pada aspek mata pencaharian dan kerentanan.

Keterbatasan dari model adalah perangkat ini digunakan untuk menjelaskan kerentanan, bukan untuk mengukurnya. Model ini tak bisa digunakan secara operasional tanpa pengumpulan data dan analisis.

Analisis Kualitatif

Ini jenis analisis yang lebih banyak menggunakan kata-kata daripada angka untuk menjelaskan dan mangukur kekuatan dari konsekuensi potensi dan kemungkinan dari terjadinya suatu konsekuensi. Skala ini dapat diadaptasi atau disesuaikan dengan keadaan dan penjelasan yang berbeda bisa digunakan untuk risiko yang berbeda.

Indikator kualitatif dipilih sebagai cara untuk menggabungkan banyak pihak jika memungkinkan. Sebagai tambahan, analisis ini digunakan pada saat:

  • Dilakukannya pemantauan aktivitas pendahuluan untuk mengidentifikasi risiko yang diperlukan untuk analisis yang lebih detil.
  • Ketika jenis analisis ini sesuai untuk pengambilan keputusan
  • Ketika data angka atau sumberdaya tidak mencukupi untuk analisis kuantitatif.
  • Analisis kualitatif semestinya menginformasikan data-data faktual jika tersedia.

Analisis Kuantitatif

Analisis ini menggunakan nilai-nilai numerik—daripada deskripsi yang biasa digunakan pada analisis kualitatif dan semi kualitatif—untuk perhitungan konsekuensi dan kemungkinan. Kualitas dari analisis bergantung pada akurasi dan kelengkapan nilai serta validitas dari model yang digunakan.

Perhitungan memiliki keterbatasan dan jelas tidak mungkin bisa digunakan untuk mengukur pengalaman manusia. Salah satu kritik terbesar adalah berkaitan dengan pembentukan indikator yang mencoba merumuskan proses yang kompleks dan beragam dalam bentuk angka-angka.

Analisis Penginderaan Jauh

Penginderaan jauh adalah proses merekam informasi di muka bumi menggunakan sensor yang terpasang di pesawat atau satelit. Teknik ini cocok digunakan untuk penanggulangan bencana alam karena hampir semua fenomena geologi, hidrologi, dan atmosfer adalah proses berulang yang senantiasa meninggalkan jejak atau bukti dari kejadian terdahulu.

Keuntungan dari teknik ini adalah dapat mengungkapkan lokasi dari kejadian masa lalu atau menentukan bagaimana kondisi saat terjadinya bencana. Hal ini memungkinkan dilakukannya identifikasi di area yang berpotensi terdampak bencana alam. Analisis ini menyediakan tampilan yang komprehensif dari informasi mengenai bencana, mencakup kerentanan, peningkatan proses pemetaan, dan pengawasan daerah terancam.

Keterbatasan dari teknik ini adalah ketersediaan ahli untuk menulis dan desain grafis. Kedua ahli ini berperan untuk menerjemahkan dan melaporkan hasil informasi ke dalam gambar atau penjelasan yang mudah dimengerti oleh pengguna yang lebih luas. Selain itu, manakala teknologi antariksa berkembang dengan pesat pada tahun-tahun terakhir, beberapa negara masih kekurangan sumber daya manusia, teknis, dan dana yang diperlukan untuk melakukan kegiatan terkait antariksa yang paling sederhana sekalipun.

Pemetaan Risiko

Peta risiko berisi zona masyarakat atau geografis yang mengidentifikasi lokasi atau struktur yang mungkin terdampat suatu bencana.

Produksi peta risiko memerlukan pertimbangan wilayah dan ancaman khas di dalam komunitas atau zona geografi. Selain itu, diperlukan juga konsultasi dengan orang atau sekelompok ahli, serta diskusi solusi yang mungkin diambil untuk mengurangi risiko.

Keuntungan dari teknik ini adalah dapat membantu untuk melokalisasi dampak bencana utama. Hasil analisis dapat membagi kriteria untuk pengambil keputusan, dapat juga menyediakan data kejadian di masa lalu yang menimbulkan dampak buruk pada masyarakat. Sebagai tambahan, analisis ini juga mengidentifikasi risiko sehingga komunitas dapat mengambil tindakan sebagai langkah solusi dan antisipasi sebelum terjadi bencana.

Analisis Semi-kuantitatif

Dalam analisis semi kuantitatif, diberikan nilai pada kala kualitatif. Tujuan dilakukannya hal ini adalah untuk memproduksi tingkat skala yang lebih besar daripada yang biasa didapatkan pada analisis kualitatif. Analisis ini bukan mewakili nilai sebenarnya untuk sebuah risiko seperti yang didapatkan dari analisis kuantitatif. Namun begitu, nilai yang dialokasikan pada setiap penjelasan tidak berhubungan secara akurat pada kekuatan sebenarnya dari konsekuensi atau kemungkinan. Nilai-nilai hanya tergabung menggunakan rumusan yang telah mengenali keterbatasan dari skala yang digunakan.

Keterbatasan penggunaan pendekatan ini adalah bahwa nilai yang dipilih bisa jadi tidak secara tepat mencerminkan sebuah hubungan, sehingga bisa menuju pada inkonsistensi atau ketidaktepatan hasil. Analisis semi-kuantitatif juga tidak membagi secara tepat antara risiko, terutama apabila konsekuensi dan kemungkinannya ekstrem.

Survei Sosial

Adalah survei yang menyediakan informasi untuk menetapkan konteks dilakukannya penilaian risiko dan kriteria untuk melakukan evaluasi pada risiko tersebut. Pengambil keputusan menimbang apakah ancaman suatu risiko perlu berdasarkan operasional, teknis, legal, lingkungan, kemanusiaan atau kriteria lain yang memungkinkan dilakukannya suveri tambahan.

Analisis SWOT

Analisis SWOT adalah perangkat yang digunakan dalam menilai suatu organisasi untuk mengetahui dan mengidentifikasi ruang lingkup geografis dan kegiatan organisasi tersebut. Analisis ini melihat efektivitas dan tingkat penerimaan serta dukungan anggota komunitas atau institusi lokal. Analisis dibagi dalam Strenghts (Kekuatan), Weaknesses (Kelemahan), Opportunities (Kesempatan), dan Threats (Ancaman).

Keuntungan dari teknik ini adalah dapat mengidentifikasi hubungan antara ancaman yang terlihat dengan kelemahan organisasi. Kelemahan tersebut berhubungan dengan kesempatan, dan kesempatan itu berkaitan dengan kekuatan. Perhatian terbesar adalah pada mitigasi ancaman, perbaikan kelemahan, peningkatan kesempatan, dan penggalangan kekuatan.

Analisis Temporal

Dasar dilakukannya analisis temporal adalah asumsi pola dari proses yang terjadi. Pemodelan proses yang terjadi memungkinkan dilakukan perkiraan dampak yang ditransformasikan ke peta pada satu waktu dan satu waktu +1.

Analisis waktu berurutan cocok digunakan untuk mengawasi suatu kejadian, seperti pengaruh iklim dan perubahan berkala lingkungan yang lain pada terjadinya suatu peristiwa. Skala bisa mulai dari musiman sampai geologis (ratusan sampai jutaan tahun). Sebuah peta dapat mengungkapkan perbedaan kerentanan alam dan efektivitas dari kesiapsiagaan dan tanggap darurat yang pernah dilakukan.

Matriks Analisis Kerentanan

Analisis Matriks adalah sebuah perangkat yang praktis dan logis dalam bentuk matriks sederhana yang mengukur kerentanan dan kapasitas dalam tiga hal besar dan wilayah yang terhubung, seperti fisik/materi, sosial/organisasi, dan motivasi/tingkah laku. Faktor yang lain ditambahkan ke dalam matriks untuk mencerminkan kenyataan yang kompleks seperti desegregasi berdasarkan jenis kelamin atau faktor ekonomi yang berubah seiring waktu, dalam skala yang berbeda dan lain-lain.

Keuntungan dari matriks adalah pendekatan ini praktis dan luas penerapanya, berhubungan dengan berbagai aspek yang berbeda dari kerentanan dan kapasitas.

Keterbatasan dari pendekatan karena tidak menyediakan indikator kerentanan dan kapasitas, namun sebagai kerangka kerja menyeluruh dan digunakan sendiri. Ini cenderung menggampangkan signifikansi bencana alam dengan berkonsentrasi pada aspek manusia dari bencana saja.

Sumber: http://www.disasterassessment.org/section.asp?id=20

Bekerja di Posko Penanggulangan Bencana Asap, Riau

Pada hari-hari ini kembali kabut asap menyelimuti Pekanbaru, Provinsi Riau. Saya jadi teringat penugasan ke sana pada medio Juni-Juli. Di sana, saya berada di Posko Penanggulangan Bencana Asap mendampingi teman-teman BPBD. Tugas saya adalah melakukan pendataan, menyusun laporan, dan membuat peta.

Sebagai catatan bagi diri saya sendiri, dalam penanggulangan bencana asap data-data yang harus dikumpulkan adalah:

Data sebaran hotspot

Data ini bisa bersumber dari http://www.weather.gov.sg/wip/pp/ssops/noaa18/suma.txt sayangnya, dari situs ini data yang ada masih berupa teks yang berisi koordinat lokasi terdapatnya hotspot. Adapun untuk data gambarnya, bisa diakses pada tautan berikut ini http://www.weather.gov.sg/wip/pp/ssops/noaa18_gif/suma.gif .

Kedua data tersebut di atas, baik data teks maupun data gambar belum bisa digunakan untuk analisis. Data teks belum menunjukkan di mana lokasinya, yakni lokasi administrasi, di kecamatan, kabupaten apa suatu hotspot itu berada. Di lain sisi, data peta belum juga menunjukkan lokasi administrasi karena masih disajikan secara umum.

Langkah yang bisa dilakukan adalah dengan mengubah data teks ke dalam formah shapefile untuk dimasukkan di dalam program pemetaan seperti ArcGIS agar nantinya bisa diidentifikasi lokasi administrasinya. Cara yang bisa dilakukan adalah copy-paste data teks ke dalam excel, gunakan fasilitas di Data-Text to Columns kemudian save dan bisa ditambahkan di ArcGIS. Dalam penanggulangan bencana, informasi lokasi administrasi sangat penting karena menyangkut siapa yang harus bergerak ke sana untuk memadamkannya.

hotspot_27Jun

TMC

TMC atau Teknologi Modifikasi Cuaca adalah teknologi yang diterapkan oleh BPPT untuk membuat hujan buatan. Garam dapur (NaCl) disemaikan di awan yang nantinya bisa mengikat uap air dan menjadi hujan.

Data yang dikumpulkan berupa arah terbang penyemaian awan dan jumlah sorti penerbangan yang dilakukan. Selain itu, dilengkapi pula dengan berapa banyak garam yang ditabur dalam satuan ton.

Water Bombing

Selain menggunakan TMC, upaya penanggulangan bencana asap juga mengandalkan beberapa helicopter yang dikerahkan untuk melakukan water bombing. Helicopter ini akan membawa air dalam jumlah tertentu, antara 500 liter sampai 5.000 liter untuk helicopter Sirkozky dari Rusia dan menjatuhkan muatan itu tepat di atas areal yang terbakar.

Data yang dikumpulkan untuk water bombing meliputi berapa helicopter yang bergerak, berapa sorty pengeboman dilakukan, dan arah terbang.

Pergerakan Satgas Darat

Dalam penanggulangan bencana asap, selain menggunakan TMC dan water bombing juga dikerahkan Satgas Darat. Satgas Darat terdiri dari unsur Manggala Agni, BPBD, TNI, Polri, dan masyarakat. Laporan biasanya mencakup jumlah personil yang dikerahkan dan pergerakan personil tersebut.

Penegakan Hukum

Beberapa lokasi yang terbakar ternyata sengaja dibakar oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Mereka ini telah melanggar peraturan perundang-undangan, di antaranya Undang-Undang tentang Lingkungan Hidup. Kepada mereka ini, penegak hukum dalam hal ini Polri menangkap dan memperkarakannya. Hal yang harus dilaporakan adalah jumlah tersangka, jumlah kasus, dan perkembangan penanganannya, apakah masuk dalam tahap penyidikan, penyelidikan, atau tahap penegakan hukum yang lain.

Semua pergerakan dan antisipasi komponen di atas dasarnya adalah peta hotspot yang disusun pada bagian terdahulu. TMC bergerak ke lokasi dengan kepadatan hotspot terbanyak, pun water bombing, Satgas Darat dan Penegakan hukum.

Selain komponen-komponen yang sudah disebutkan terdahulu, dalam Laporan Penanggulangan Bencana Asap juga mencantumkan indikator keberhasilan operasi. Indikator tersebut berupa Indeks Kualitas Udara dan Jarak Pandang (Visibility).

Kualitas udara (PSI) bisa dicari informasinya dari situs atau petugas yang berada di lapangan. Terdapat kelas-kelas indeks kualitas udara, mulai dari baik sampai dengan yang berbahaya bagi manusia. Visibility atau jarak pandang juga menjadi informasi penting, mengingat manakala asap masih melingkupi Riau, jarak pandangnya sangat terbatas. Dengan jarak pandang yang semakin jauh atau membaik, maka keberhasilan penanggulangan bencana asap bisa dikatakan berhasil.

Kejadian hujan adalah alat untuk mengukur keberhasilan operasi pemadaman asap dengan metode Teknologi Modifikasi Cuaca. Garam yang disemai telah berhasil mengikat awan dan menjadi hujan. Data di mana hujan terjadi, berapa intensitas dan durasinya menjadi penting untuk dicatat.

Sebagai data tambahan, maka perlu ditambahkan data pasien yang menderita penyakit pasca terjadinya kabut asap juga mesti dicantumkan.

Semua data yang diperoleh disajikan dalam laporan. Bentuknya bisa berupa peta yang menggambarkan persebaran hotspot dan pergerakan pasukan. Apabila memungkinkan juga pergerakan pesawat yang melakukan TMC dan lokasi tempat dilakukannya water bombing. Selain peta, disajikan pula data dalam bentuk grafik untuk jumlah hotspot, kualitas udara, dan visibility.

Sebagai catatan tambahan, titik panas (hotspot) juga bisa dipantau di http://geospasial.bnpb.go.id/monitoring/hotspot/

Gempa 7,4 SR di Maluku

Berkaitan dengan gempa berkekuatan 7,4 SR di barat laut Maluku Tenggara Barat pada Senin malam pukul 23.53, ahli gempa ITB, Irwan Meilano, mengatakan, mekanisme gempa kali ini adalah sesar naik miring. Gempa terjadi di timur Laut Banda, di mana konvergensi dari lempeng Australia terdistribusi pada busur belakang dan Laut Banda.

Menurut ahli dari BPPT, Widjo Kongko, kekuatan gempa itu sekitar 50 kali bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang. Berdasarkan perkiraannya, jenis patahan yang ada bukan sesar naik atau turun, melainkan sesar geser dan agak miring. Bidang patahan yang tebentuk panjang, mencapai 65×15 km dan dislokasi sekitar 2 meter.

Terjadi dinamika geologi yang kompleks di kawasan timur Indonesia. Lempeng Australia menumbuk dari selatan berkecepatan 7,5 cm per tahun. Dari sisi timur, Papua, pergerakan lempeng ke arah barat 9 cm per tahun.

Dalam 100 tahun terakhir, setidaknya ada 11 gempa bermagnitudo di atas 8 terjadi di sana. Di antaranya tahun 1904 (magnitudo 8,4), tahun 1916 (8,1), tahun 1932 (8,3), tahun 1938 (8,6), tahun 1950 (8,1), tahun 1963 (8,2), tahun 1971 (8,1), dan tahun 1979 (8,1).

Selain pergerakan lempeng, kontur di darat dan laut yang sangat curam juga memungkinkan terjadinya longsor. Apabila longsor terjadi di laut, maka bisa menimbulkan tsunami. Pada 1899 pernah terjadi longsor di Laut Seram yang dipicu gempa berkekuatan 7,8 SR. Kala itu, tsunami yang terbentuk setinggi 12 meter dan berakibat hilangnya Negeri (Desa) Elpaputih, dan menewaskan 3.000 orang.

Tulisan ini adalah rangkuman dari artikel di Koran Kompas, 12 Desember 2012, yang berjudul ‘Gempa Maluku, Peringatan untuk Indonesia Timur’.

Bakau dan Api-api Melindungi Karimunting

Keberadaan Karimunting, sebuah desa di pesisir Kalimantan Barat, sempat terancam oleh abrasi yang lajunya amat tinggi. Berbagai pihak bahu-membahu membuat benteng hidup melalui penanaman mangrove di sepanjang pesisir pantai desa itu.

Keresahan penduduk Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, terhadap baya abrasi terasa sejak tahun 2005. Sejumlah warga memperkirakan, laju abrasi berkisar 30-50 meter dalam lima tahun pada waktu itu. Dampak abrasi makin terasa karena sebagian wilayah pesisir Kalbar biasanya mengalami pasang dan surut yang ekstrem.

Untuk menghentikan laju abrasi, warga menanam mangrove berjenis bakau dan api-api di sepanjang pesisir Desa Karimunting tahun 2006. Sepanjang 2006-2008, masyarakat Karimunting berusaha mencari cara mempertahankan wilayah mereka dari ancaman abrasi. Namun, upaya itu selalu terhadang ombak besar saat pasang.

Ancaman abrasi tak hanya pada wilayah budidaya dan permukiman penduduk, tetapi juga jalan raya yang menjadi akses utama dari Kota Pontianak ke Kota Singkawang. Tahun 2008, proyek pemasangan beton pemecah ombak di sepanjang pesisir Kalbar bagian utara akhirnya sampai di Kecamatan Sungai Raya Kepulauan. Beberapa bulan setelah beton pemecah ombak terpasang, warga Karimunting mendapat dukungan dari sejumlah lembaga untuk memulai lagi penanaman mangrove.

Kini kemungkinan bakau dan api-api bisa hidup dan tumbuh sangat besar karena pada masa awal pertumbuhan, tanaman tak terganggu ombak. Selain ikut menanam, masyarakat juga diminta untuk memelihara dan menjaga tanaman itu.

Beberapa lembaga yang terlibat dalam penanaman bakau dan api-api di Karimunting, antara lain: WWF Indonesia Program Kalbar, LSM Pemuda Peduli Lingkungan, Sakawana, dan Direktorat Polisi Perairan Polda Kalbar.

Penanaman mangrove bukanlah hal yang mudah. Setelah mangrove ditanam, tahap yang sering dilupakan adalah pemeriksaan tanaman dan penyulaman jika ada tanaman yang mati.

Keterlibatan banyak lembaga dan peran aktif masyarakat memelihara mangrove berdampak baik di Karimunting. Mangrove bisa hidup dan tumbuh subur. Setelah tanaman bakau mulai hidup, tanaman api-api yang juga memiliki fungsi sama untuk menahan abrasi dan angin laut bisa tumbuh sendiri. Setelah tiga tahun, warga Desa Karimunting merasakan manfaat penanaman mangrove itu.

Tanaman bakau dan api-api di sepanjang pesisir Karimunting saat ini sudah setinggi 2-4 meter. Tanamannya juga sangat rapat sehingga permukiman penduduk terhindar dari embusan angin laut yang panas. Ada sekitar 5.000 penduduk tinggal di Karimunting. Ada tiga kampung yang permukimannya langsung berbatasan dengan pesisir, yakni Tengah Karimunting, Sinjun, dan Batu Payung.

Keberhasilan penanaman mangrove di Karimunting tidak saja mampu menyelamatkan kawasan permukiman penduduk dan jalan serta menahan angin laut dan abrasi. Masyarakat setempat bahkan mendapat manfaat ganda karena kawasan mangrove dan api-api jadi habitat biota laut berupa tungkuyung api-api.

Tulisan ini adalah rangkuman dari berita di Koran Kompas, 07 September 2012, berjudul ‘Benteng Hidup untuk Karimunting’

Dari Riau untuk Penanggulangan Kabut Asap

Kabut asap yang makin tebal sepekan terakhir di wilayah Sumatera, terutama Riau, diantisipasi dengan modifikasi cuaca. Hal ini dilakukan dengan menyemai hujan, yakni menaburkan garam halus pada awan yang berpotensi hujan.

“Sejak pertengahan Juli, wilayah Indonesia dilanda El Nino lemah sampai akhir tahun, yang menyebabkan sebagian wilayah kekeringan.” Kata Direktur Tanggap Darurat, BNPB, Tri Budiarto. Lebih lanjut, beliau mengatakan, “Riau ditetapkan sebagai lokasi pusat pengendali kabut asap di Sumatera. Modifikasi cuaca untuk mengantisipasi kabut asap juga dilakukan sepanjang pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional mulai 9-23 September.”

Sebagai pusat pengendali di Sumatera, jika ada asap di Jambi dan Sumatera Selatan, tindakan pencegahan dan pengendalian dilakukan dari Riau. Adapun untuk Kalimantan dipusatkan di Palangkaraya. Anggaran yang dialokasikan untuk pencegahan kabut asap sejumlah Rp 10 miliar.

BNPB akan berkoordinasi dengan Gubernur Riau dan semua bupati/wali kota se-Riau untuk mendukung operasi dari darat. Sementara itu Gubernur menyatakan sangat berterima kasih dengan bantuan pemerintah pusat. Beliau bersama dengan kepala daerah akan mengaktifkan operasi darat dengan melibatkan pasukan Manggala Agni dan Masyarakat Peduli serta akan dilakukan sosialisasi kepada masyarakat di lokasi rawan bencana.

Data dan Fakta

Sejak 1 Januari 2012 sampai dengan 09 Agustus 2012 beberapa titik api yang tercatat adalah sebagai berikut:

Provinsi

Jumlah Titik Api

Riau 3.486
Sumatera Selatan 2.759
Kalimantan Barat 2.150
Jambi 1.341
Kalimantan Tengah 978