Kenapa GIS Luar Biasa? 

Setiap orang membutuhkan informasi ‘di mana’. Pada satu berita, harus ada informasi ‘di mana’-nya. Saat ada diskon besar-besaran, perlu informasi ‘di mana’. Ketika ada tempat makan atau ngopi yang baru, maka ‘di mana’ itu pun akan menyeruak.

Setelah informasi ‘di mana’ didapat, maka orang kemudian akan bertanya ‘bagaimana menuju ke sana?’ Ini bisa saja dari rumah, kantor, atau di mana pun posisi Anda saat ini.

Kini, dengan adanya telepon pintar yang sudah dilengkapi dengan GPS, kedua pertanyaan di mana dan bagaimana itu bisa dengan mudah dijawab. GPS yang dibenamkan di telepon pintar sudah sama pentingnya dengan jaringan komunikasi yang ada pada telepon itu sendiri.

Semua hal itu, informasi di mana, bagaimana, begitu juga dengan GPS adalah contoh-contoh pemanfaatan GIS. Selain yang sudah disebutkan, masih banyak lagi penggunaan GIS dalam kehidupan sehari-hari dan di berbagai sektor.

Populasi penduduk

Sumber: www.petatematikindo.wordpress.com

Dengan GIS informasi persebaran penduduk dapat dengan mudah dilihat. Informasi ini sangat bermanfaat untuk berbagi bidang yang terkait, seperti bisnis, tata ruang, sosial kemasyarakatan, hingga penanggulangan bencana.

Bisnis

Sumber: http://www.franchiseopportunitiesjournal.com

Dengan bantuan berbagai perangkat, data, dan informasi yang tergabung dalam satu sistem GIS, maka bisa jadi bisnis Anda akan lebih berhasil. Ini berkaitan dengan poin sebelumnya mengenai populasi penduduk. Sebagai contoh, Anda membuka toko tentu harus memilih lokasi yang pasarnya bagus, misalnya lokasi dengan kepadatan penduduk tinggi. Sebaliknya, saat Anda membangun peternakan, tentu dipilih lokasi yang jauh dari permukiman, namun dekat dengan sungai atau jalan. Nah, GIS dapat membantu Anda dalam pemilihan lokasi semacam ini.

Perencanaan

Sumber: http://denpasarkota.go.id

Perencanaan di sini bisa berupa tata ruang, penggunaan lahan, atau pun infrastruktur. Barangkali Anda sering merasa ada yang keliru dengan penataan ruang di satu kota. Misalnya saja di bagian tertentu terlalu banyak pertokoan besar yang berdampingan dengan pasar tradisional dan terminal. Seandainya GIS digunakan dalam perencanaan kota, maka keruwetan semacam itu bisa dihindari. GIS akan memperlihatkan areal kota secara keseluruhan, kemudian menginformasikan di mana lokasi pasar, terminal, stasiun, pertokoan, dan lain-lain. Selanjutnya, perencana tinggal menentukan, mengarahkan, melarang, mengatur dan menata ruang-ruang lain di kota itu agar perkembangannya seimbang.

Penanggulangan Bencana

Sumber: http://geospasial.bnpb.go.id

GIS sangat membantu institusi yang berkepentingan untuk menyelenggarakan upaya penanggulangan bencana. Semua tahap dalam ‘lingkaran penanggulangan bencana’ yang terdiri dari tahap pra, saat, dan pasca bencana dapat medayagunakan kecanggihan GIS. Sistem ini membantu untuk melakukan monitoring (pengawasan) untuk mitigasi bencana, memetakan dampak bencana, hingga menghitung kerugian setelah bencana terjadi.

Selain berbagai manfaat GIS yang telah disebutkan di atas, masih banyak kegunaan lain dari sistem yang luar biasa ini. Sebagai contoh dalam bidang pertanian, kriminalitas, perhubungan, penelitian, dan masih banyak lagi.

Drones untuk Penyelamatan Hutan

Oleh: Sebastien Chalmeton

drones_3130989b

Dunia menghadapi tantangan dengan maraknya deforestasi yang menyebabkan perubahan iklim. Saat ini, tiap tahun sebanyak 26 milyar pohon dibabat dan hanya mampu menanam kembali 15 milyar. Upaya pemerintah dan berbagai organisasi untuk melakukan penanaman kembali seakan-akan menjadi tak berarti karena tetap saja tidak bisa mengimbangi laju deforestasi.

Metode standard menggunakan tenaga manusia untuk menanam kembali sangatlah lambat dan memakan banyak biaya. Bayangkan jika Anda harus menanam satu milyar pohon dalam setahun. Ini berarti setiap hari harus ditanam 2,8 juta pohon! Angka yang sangat besar, bukan?

Beberapa latar belakang tersebut di atas maka sebuah perusahaan startup ingin melakukan otomatisasi proses penanaman pohon dengan memanfaatkan teknologi drone. Perusahaan BioCarbon Engineering yang berbasis di Oxford itu sedang mengembangkan teknologi penanaman yang terintegrasi dengan sensor pada drones untuk pemetaan dan penanaman. Idenya adalah menggunakan informasi geospasial dalam bidang perencanaan hutan dan manajemen.

“Kami ingin menghadapi laju deforestasi dalam skala industri dengan reforestasi pada skala yang sama. Perusakan hutan global karena penebangan, pertambangan, pertanian dan perluasan kota merusak 26 milyar pohon per tahun. Kami percaya bahwa laju deforestasi dalam skala industri ini hanya bisa dilawan dengan teknologi otomatisasi terkini.” Demikian dikatakan BioCarbon Engineering.

Drones tersebut pertama-tama akan melakukan identifikasi bentukan topografi dan tipe tanah. Pada saat yang sama juga akan melakukan pemetaan tiga dimensi dengan kualitas tinggi pada area yang akan dihutankan kembali. Tujuanny adalah agar spesies yang tepat dapat ditanam di tempat yang tepat pula. Bukan hanya itu, namun diharapkan agar dengan cara ini dapat diperoleh proporsi panen yang tinggi tanpa merusak keanekaragaman hayati yang sudah ada. Drones itu kemudian akan menanam benih yang dapat diurai dan kaya nutrisi.

Nilai lebih dari pemanfaatan drones di bidang kehutanan ini adalah untuk meningkatkan produksi dan efisiensi tenaga kerja. Sebagai perbandingan, dua orang penanam biji hanya mampu menanam sekitar 3.000 benih per hari. Sementara itu, dua operator drones yang mengendalikan beberapa drones dapat menanam hingga 36.000 benih per hari. Dengan kata lain, lebih banyak benih dapat ditanam dalam sehari di lahan yang lebih luas dengan biaya hanya 15% dari proses penanaman tradisional menggunakan tenaga manusia.

Sebastien Chalmeton adalah pendiri dan CEO Mighty Things, perusahaan strategi global dan inovasi untuk dunia yang semakin terkoneksi.
Sumber: https://medium.com/mighty-things/saving-forests-with-drones-d6d839274310

Sumber gambar dari sini

Peran GIS dalam Penanggulangan Bencana

Susan Cutter, profesor geografi dari Universitas South Carolina, mendiskusikan bagaimana GIS digunakan dalam penanggulangan bencana, serta perannya untuk menjawab pertanyaan ‘kenapa’ dan ‘di mana’ ketika kita bekerja dengan peta.

Susan L. Cutter adalah profesor bidang geografi terkemuka di Universitas South Carolina. Di sana, beliau menjadi direktur dari Institut Bahaya dan Kerentanan. Ketertarikan beliau pertama-tama adalah pada ilmu kerentanan/ketangguhan menghadap bencana. Beliau mengukur faktor apa saja yang menyebabkan suatu lingkungan tempat hidup manusia menjadi begitu rentan karena satu kejadian ekstrem, serta bagaimana jalan keluar, monitoring, dan penilaian dilakukan.

Cutter adalah ‘guru’ pemetaan bahaya menggunakan GIS yang mendukung fungsi manajemen penanggulangan bencana. Saya memberikan kepadanya beberapa pertanyaan mengenai pemetaan dan memintanya menjawab melalui tulisan. Dalam tanggapannya, Cutter kembali mengingatkan pentingnya bertanya ‘kenapa dan di mana’ ketika kita melihat peta.

Bagaimana evolusi pemetaan bencana di AS serta bagaimana bila dibandingkan dengan proses serupa di negara lain?

Pemetaan bencana memiliki sejarah panjang di AS. Bila kita melihat ke belakang pada tahun 1960, Gilbert F. White ‘memaksa’ kita bukan hanya sekadar melihat lokasi bahaya mungkin terjadi, namun juga di mana manusia tinggal dan bekerja serta hubungannya dengan risiko bencana. Hal ini kemudian disebut sebagai ‘penguasaan manusia pada area bahaya’. Pemetaan bencana menunjukkan kepada kita bahwa kita tak pernah bisa benar-benar mengontrol alam.

Proses pemetaan sendiri telah berubah, bukan hanya berfokus pada kejadian bencana (sebagai model proses fisik), namun lebih menitikberatkan pada interaksi antara manusia dan lingkungannya. Amerika, karena keanekaragaman ancaman bencananya, maka menjadi pelopor dalam pemetaan bahaya serta dalam menggabungkan berbagai peralatan/aplikasi, seperti GIS, penginderaan jauh, GPS ke dalam siklus manajemen darurat.

Selain pemetaan bahaya banjir, daerah terdampak gempa, dan sejenisnya, menurut Anda apa peran lain GIS untuk manajer penanggulangan bencana?

GIS bukan hanya proses pemetaan itu sendiri. Sistem ini juga mencakup analisis, manajemen data, dan alat untuk visualisasi. GIS dapat digunakan untuk peningkatan kewaspadaan, menentukan lokasi suatu aset sebelum bencana terjadi, mengetahui hubungan antara keterpaparan bencana dan kerentanan sosial yang menjadi bagian dari rencana mitigasi bencana. Pemodelan dan simulasi menggunakan GIS memungkinkan pengambil keputusan untuk melakukan geladi tanggap darurat dan rehabilitasi pada masa damai tidak terjadi bencana. Selain itu, para pemimpin juga dapat mengetahui berbagai kemungkinan situasi yang harus dihadapi apabila bencana benar-benar terjadi. Lebih khusus, jika Anda memiliki data yang dapat dipetakan, dianalisis, dan digunakan, maka keputusan yang diambil pun dapat lebih baik.

Hal terbaik yang dapat dilakukan oleh manajer penanggulangan bencana adalah mengidentifikasi lembaga terkait di tingkat lokal yang dapat membantu pemetaan dan analisis kebutuhan. Lembaga tersebut terdiri dari komunitas pendidikan lokal atau universitas. Hal ini dapat diawali dengan penilaian bahaya oleh pihak lokal atau negara bagian yang melibatkan kualifikasi dan kepakaran para ahli bencana. Pilihan lainnya adalah melalui dinas perencanaan lokal dan dewan pertimbangan pemerintah. Fokus kegiatan adalah pada proses perencanaan, sementara pekerjaan mereka sendiri berkaitan dengan topik manajemen bencana seperti mitigasi bencana dan penilaian risiko.

Terdapat bermacam-macam data sosial, mulai dari informasi usia, pendapatan, etnisitas yang bersumber dari sensus AS atau data yang didapatkan dari sosial media. Data tersebut dapat digunakan untuk mengetahui lokasi anggota masyarakat yang rentan dan berkebutuhan khusus. Dengan mengetahui kerentanan sosial tersebut, maka dapat membantu mengidentifikasi populasi mana yang membutuhkan bantuan, sehingga bisa disiapkan respon dan upaya pemulihan pasca bencana.

Data yang diperoleh dari sosial media saat ini digunakan untuk menyebarluaskan pesan dan informasi dari institusi penanggulangan bencana melalui pendekatan top-down. Beberapa metode digunakan dalam penelitian untuk memanfaatkan ‘warga sebagai sensor’ guna menciptakan gambaran yang lebih realistis mengenai situasi kewaspadaan sehingga bisa membantu para pengambil keputusan.

Pemilihan software yang digunakan berdasarkan sumberdaya dan keahlian yang tersedia. Jika Anda tak punya seseorang dengan keahlian GIS, maka tak perlu software ESRI yang sangat lengkap. Dalam kondisi tersebut, menggunakan data yang tersedia secara online adalah pilihan paling tepat. Di lain pihak, web-mapping, pengumpulan dan analisis data secara mobile, serta pemodelan desktop menggunakan software ESRI saat ini telah terjangkau dan sangat bermanfaat untuk pengguna dengan keahlian rata-rata seperti saya.

Anda dan universitas mendukung Divisi Manajemen Bencana South Carolina (SCEMD). Menurut Anda, apakah orang lain dapat melakukannya juga? Jika memang bisa, apa mekanisme yang paling tepat untuk negara bagian dan universitas saat akan menjalin kemitraan?

Kemitraan yang kami bentuk dengan SCEMD sangatlah menguntungkan, para siswa dapat mempraktikkan ilmu yang diperolehnya dalam dunia kerja; SCEMD mendapatkan dukungan secara keilmuan dalam program-program mereka serta di beberapa persoalan dapat menjadi model untuk negara bagian lainnya. Ini adalah win-win solution. Tiap negara bagian akan mempunyai mekanisme yang berbeda-beda dalam menjalin kemitraan. Tidak semua manajer penanggulangan bencana menerima, demikian juga tak semua universitas akan menyambutnya. Kuncinya adalah mengidentifikasi mereka yang bersedia bekerja bersama untuk mencapai tujuan dan mengawalinya dari sana. Jika ada kemauan untuk bekerja bersama demi kemajuan negara bagian, maka mekanisme dapat disusun untuk menjalin kerja sama.

Teknologi mobile terkini seperti smartphone atau tablet dengan didukung oleh internet berkecepatan tinggi telah merevolusi metode kita untuk mengakses data. Menurut Anda, apa dampak hal ini pada pemetaan menggunakan komputer, bagaimana kita harus beradaptasi terutama untuk tujuan penanggulangan bencana?

Teknologi tersebut telah merevolusi penanggulangan bencana dan pemetaan. Sebagai contoh, saat ini kita mengumpulkan data lapangan untuk rehabilitasi menggunakan iPad dan secara langsung mengunggah datanya ke cloud atau server kami di universitas. Perkembangan teknologi ini bukan hanya memangkas waktu pemrosesan dan juga kekeliruan, namun juga dapat memetakan secara lebih cepat. Data kerusakan secara real time dapat dikumpulkan menggunakan metode ini untuk keperluan penanganan pasca bencana, artinya data detil penilaian kerusakan dapat dibuat dalam hitungan jam dan bukan hari. Apabila data-data tersebut masih ditambah data sensor warga yang diperoleh dari sosial media, maka data kerusakan dan upaya yang sumbernya dari masyarakat dapat menjadi kenyataan.

Social media terus meningkat penggunaannya, sehingga memengaruhi aktivitas sehari-hari warga. Secara umum, apa keuntungan dari proses pemetaan yang memanfaatan sosial media untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat?

Di dalam peralatan mobile terdapat geocoding. Saat ini kita dapat melihat apa yang sedang hangat dibicarakan di twitter serta lokasi pengiriman twitter tersebut. Peta yang memanfaatkan percakapan di twitter dan lokasinya dapat memberikan gambaran yang lebih baik mengenai kewaspadaan, dampak, dan status warga di lokasi terdampak. Hal ini lebih baik daripada menggunakan pendekatan top-down. Bidang ini menjadi sangat menarik dan belum banyak dilakukan penelitian.

Anda telah memberikan saran yang sangat bagus mengenai pemanfaatan GIS untuk meningkatkan upaya penanggulangan bencana. Apa kekeliruan yang biasanya dilakukan oleh seseorang saat menggunakan GIS untuk penanggulangan bencana serta apa langkah yang harus dilakukan untuk menghindari kesalahan tersebut?

Salah satu isu terbesar adalah menyangkut kartografi (seni dan pengetahuan untuk membuat peta). Seseorang yang hanya berlandaskan pengetahuan menggunakan perangkat lunak GIS, maka belum memahami dasar-dasar relasi spasial. Mereka masih perlu bertanya lebih lanjut mengenai ‘apa dan di mana’ saat melihat peta. Peta misalnya menunjukkan distribusi shelter dan kepemilikan, namun pertanyaan selanjutnya adalah ‘kenapa ada shelter yang ditinggali dan ada yang tidak?’ Selain itu, seorang personel GIS harus memahami penggunaan klasifikasi dan simbolisasi yang tepat untuk menghindari kesalahan interpretasi atau menampilkan data yang tidak relevan.

Apakah ada hal lain yang ingin Anda tambahkan?

Sebagai pribadi dan profesional, menurut saya sangat penting suatu penelitian digunakan untuk meningkatkan kondisi umat manusia, praktisi hendaknya menyediakan dasar-dasar empiris untuk mendukung kebijakan publik. Anda dapat mengetahui lebih jauh mengenai aktivitas kami dengan mengunjungi website HVRI di www.webra.cas.sc.edu/hvri.

Pewawancara adalah Eric Holdeman, kontributor untuk Emergency Managemeng, beliau adalah mantan Direktur Kantor Emergency Management King County, Washington.

Sumber tulisan dari sini

Peta untuk Ketangguhan Hadapi Bencana

Komunitas manajemen risiko bencana (DRM) Bank Dunia menilai kerusakan yang terjadi pasca gempa yang melanda Haiti pada 12 Jan 2010. Selain itu, mereka juga mendukung pemerintah Haiti untuk merencanakan tindakan yang masif dan dalam jangka waktu lama untuk proses pemulihan setelah bencana yang demikian dahsyat. Peta yang akurat dan terbaru menjadi satu komponen yang sangat penting untuk mendukung perencanaan. Peta-peta tersebut bermacam-macam sumbernya, termasuk dari komunitas global relawan pemetaan. Mereka ini menggunakan koneksi internetnya untuk mengakses citra satelit dan kemudian berpartisipasi untuk memetakan Haiti dari rumah mereka masing-masing.

Pasca gempa bumi di Haiti, World Bank, Google, dan beberapa institusi lain membuat citra resolusi tinggi wilayah terdampak yang dapat diakses oleh publik. Selanjutnya, lebih dari 600 orang dari OpenStreetMap (OSM) mulai melakukan digitasi citra, menelusuri jalan, batas bangunan, dan infrastruktur lain. Bersama-sama mereka membuat peta pertama yang paling detil untuk wilayah Port au Prince. Relawan dari 29 negara membuat 1,2 juta perubahan pada peta, pekerjaan kartografi yang bisa bertahun-tahun tersebut bisa diselesaikan hanya dalam waktu dua puluh hari! Upaya ini membuka mata Bank Dunia dan institusi internasional lain mengenai ‘open data’ dan ‘community mapping’.

OSM sering disebut sebagai Wikipedia-nya peta, adalah basis data online dan sebuah komunitas global dengan lebih dari sejuta kontributor yang bekerja sama untuk membangun peta dunia yang gratis dan terbuka. Di OSM, setiap orang dapat berkontribusi dan memanfaatkan peta-peta tersebut menggunakan berbagai perangkat lunak untuk berbagai analisis.

World Bank telah menggunakan OSM platform untuk membangun data spasial mengenai lokasi dan berbagai karakteristik bangunan maupun lingkungan di sekurangnya 10 negara. Upaya ini diawali pada tahun 2010 setelah gempa bumi Haiti.

Open Cities

Saat ini, tantangan yang harus dihadapi wilayah Asia Selatan adalah bagaimana cara untuk membangun ketangguhan masyarakat apabila bencana alam terjadi. Tingkat migrasi dari desa ke kota mencapai angka 6-7% per tahun. Pada tahun-tahun yang akan datang, sekitar 500 juta orang diperkirakan akan berpindah ke kota. Proses ini akan menyebabkan permukiman yang tidak terencana dengan bangunan yang berbahaya dan meningkatkan risiko bencana. Seperti halnya usaha rekonstruksi di Haiti, peta akan membantu untuk menjelaskan lokasi dan karakteristik pusat-pusat populasi, infrastruktur penting, serta risiko bencana akan menjadi kunci utama untuk tahap perencanaan.

Dengan memahami hal tersebut, maka DRM Team meluncurkan program ‘Open Cities’ pada bulan November 2012. Kegiatan ini bekerja sama dengan Innovation Lab di Global Facility for Disaster Reduction and Recovery (GFDRR), South Asia Climate and Disaster Risk Management (DRM) Unit, dan Humanitarian OpenStreetMap Team (HOT). Open cities juga bekerja bersama relawan dan menggunakan OSM platform dalam pemetaan berbasis komunitas untuk mendukung perencanaan kota serta menjadi sebuah investasi pada penanggulangan risiko bencana di kota-kota di Asia Selatan.

Open Cities diharapkan dapat memberikan pemahaman mengenai pendekatan apa yang paling tepat untuk mengetahui tantangan dan risiko bencana di kota-kota Asia Selatan. Tiga kota dipilih sebagai lokasi dilakukannya ‘Open Cities’, yaitu Batticaloa, Sri Lanka; Dhaka, Bangladesh, dan Kathmandu, Nepal. Kota-kota tersebut dipilih karena tingginya risiko bencana yang ada di sana, kehadiran World Bank dengan aktivitas utamanya adalah untuk melakukan perencanaan kota dan penanggulangan bencana yang akan menguntungkan pada akses data yang lebih baik.

Di Batticaloa, kegiatan dilakukan selama dua bulan dengan menggandeng institusi pemerintah dan telah dipetakan 30.000 bangunan, termasuk bangunan yang rentan. Di Kathmandu, mahasiswa menilai kerentanan struktur bangunan sekolah dan fasilitas kesehatan. Di sana, pekerjaan ini menjadi penyedia data pertama yang gratis dan terbuka mengenai tiap sekolah di lembah Kathmandu. Di Dhaka, dipetakan rumah bagi 125.000 orang yang dilakukan oleh relawan dan konsultan teknologi.

Hasil dari upaya ini adalah peningkatan kesadaran risiko bencana di pemerintahan serta kesepakatan di antara kementerian untuk mengurangi risiko. Open cities telah dan akan melanjutkan kegiatan ini sebagai bentuk investasi World Bank di dua lokasi dari tiga yang menjadi pilot project. Hal ini termasuk US$ 212 juta investasi di Sri Lanka yang telah disetujui pada tahun 2014 dan US$ 125 juta untuk Proyek Ketangguhan Kota di Bangladesh yang sedang disiapkan.

Belajar dari Contoh Terdahulu

Manakala pengalaman OSM di Haiti menunjukkan bahwa relawan yang bekerja bersama dalam ‘open data’ dapat secara cepat membangun informasi yang akurat dan terpercaya, proyek lain dilakukan di Indonesia dengan nama Pemetaan Komunitas untuk Keterpaparan. Kegiatan ini dilakukan untuk membangun lokal data sebelum terjadinya bencana untuk kesiapsiagaan dan kegiatan penyusunan rencana kontijensi. Bekerja bersama pemerintah daerah, mahasiswa, serta kelompok sosial masyarakat, kerja pemetaan difokuskan pada infrastruktur penting yang berada di Jakarta, seperti sekolah, rumah sakit, fasilitas umum, dan tempat ibadah. Data yang dihasilkan kemudian dikombinasikan dengan informasi bencana dari berbagai sumber untuk membentuk skenario wilayah terdampak menggunakan perangkat lunak InaSAFE. Perangkat lunak ini adalah open source yang dikembangkan oleh AusAID, Pemerintah Indonesia, dan World Bank yang secara khusus dikembangkan untuk proyek ini, namun kini telah berkembang untuk berbagai kegiatan pengurangan risiko bencana yang lain.

Membangun Kemitraan

Sejak dimulainya program, Open Cities telah memadukan pengambil kebijakan baik itu dari pihak pemerintah, lembaga donor, swasta, universitas, dan kelompok masyarakat lainnya untuk membangun basis data informasi yang sangat bermanfaat dengan menggunakan teknik pemetaan partisipatif. Bersama-sama, mereka mengembangkan aplikasi dan peralatan untuk membantu pengambilan keputusan, sementara di saat yang sama juga membangun jaringan kepercayaan sebagai modal sosial yang sangat diperlukan agar upaya ini dapat berkelanjutan. Proses ini menjadi suatu evolusi dengan berbagai kemungkinan untuk percobaan, pembelajaran, kegagalan, serta adaptasi yang semuanya tergabung dalam perencanaan kegiatan.

Selesainya tahap pertama proyek Open Cities menjadi penanda pentingnya keberlanjutan pekerjaan ini untuk pengembangannya di berbagai kota di wilayah ini.

Tindak Lanjut

Tim Pengurangan Risiko Bencana Asia Selatan akan bekerja dengan berbagai rekan di wilayah lain untuk melanjutkan pekerjaan dengan menggandeng GFDRR Innovation Lab untuk mempertimbangkan apa yang selama ini sudah terbukti sebagai sebuah model guna meningkatkan kewaspadaan dan kesepakatan menghadapi risiko bencana.

Sumber tulisan dari sini

ESRI Meluncurkan Peta Interaktif untuk Wabah Ebola

Sebuah peta interaktif untuk melihat sejarah dan kondisi terkini penyebaran wabah Ebola diluncurkan oleh ESRI.

Peta penyebaran wabah ebola tersebut dapat ditambahkan di situs berita untuk memberikan gambaran kepada pembaca mengenai dampak dari wabah yang terjadi.

Pengguna dapat melihat bagaimana awal mula penyebaran wabah terjadi di Republik Demokratik Congo pada tahun 1976 dan juga kejadian-kejadian lain yang menyusul berikutnya setelah penyebaran pertama tersebut.

Data statistik termasuk korban meninggal dan tingkat kematian juga disajikan dalam peta interaktif tersebut. Pembaca dapat mengakses data tersebut dengan mengeklik pada peta dan juga dilengkapi dengan waktu-waktu kejadiannya.

ESRI juga bekerja sama dengan Pusat Penyebaran dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) untuk mengembangkan peta guna memprediksi penyebaran penyakit dan pergerakan penduduk di area terdampak Afrika Barat.

Anda bisa klik di sini untuk mengakses peta interaktif penyebaran wabah penyakit Ebola tersebut.