Green Growth: Model Baru Pembangunan Berkelanjutan di Asia

Benua Asia dikenal dengan keanekaragaman hayatinya dan juga berbagai jenis sumber daya alam. Hanya saja, di sisi lain, benua ini juga menghadapi peningkatan populasi, kelangkaan beberapa sumber daya alam, ketahanan energi dan pangan, serta berbagai bencana alam yang makin parah karena pengaruh terjadinya perubahan iklim.

Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, Asia perlu menerapkan sistem pertumbuhan ekonomi yang baru. Sebuah sistem yang dapat mempercepat pembangunan, mengurangi kemiskinan, serta menyediakan kualitas kehidupan yang tinggi.

Sistem ekonomi yang dimaksud adalah Green Growth (pertumbuhan hijau). Penerapan sistem ini diharapkan dapat mengurangi pelepasan karbon akibat polusi, pelibatan berbagai lapisan sosial dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya. Green Growth dapat dicapai dengan menerapkan kebijakan yang tepat, berbagi pengetahuan, dan juga pemberian insentif. Selain itu, penerapan sistem ini juga mempertimbangkan strategi pembangunan yang rendah polusi.

Segala hal tersebut hendaknya tertuang dalam Kerangka Kerja Pembangunan Nasional, yang terdiri dari analisis persoalan, perencanaan, dan pelaksanaan. Analisis yang dilakukan bukan hanya melakukan identifikasi masalah, namun juga dengan melihat kekuatan yang tersembunyi pun tantangan lain yang mungkin akan dihadapi. Dalam pelaksanaannya, kerangka kerja pembangunan nasional mencakup peningkatan efisiensi, pengurangan efek rumah kaca, pertumbuhan ekonomi, serta peningkatan ketangguhan dalam menghadapi perubahan iklim.

Aplikasi Pembanguan Hijau

Sektor Kehutanan
Sektor ini harus dapat menjamin terlaksananya pembangunan yang berkelanjutan. Bidang kehutanan juga menjadi salah satu sarana untuk penyimpanan karbon akibat polusi. Pembangunan di bidang ini juga hendaknya menjaga keanekaragaman hayati, menjaga tata guna air, dan mengurangi erosi tanah yang terjadi.

Beberapa tindakan yang harus segera diambil adalah dengan melakukan perlindungan pada hutan, merestorasi hutan yang rusak, menghentikan pembalakan liar dan pembersihan hutan serta dengan mempromosikan manajemen yang berkelanjutan.

Sektor Pertanian
Sektor ini sangat penting mengingat tantangan pertambahan populasi di masa mendatang akan sangat memengaruhi. Dengan demikian, maka pembangunan hijau pada sektor ini harus mempertimbangkan ketahanan pangan untuk jangka panjang guna memenuhi kebutuhan pangan penduduk. Selanjutnya, bidang ini juga diharapkan dapat membantu untuk mengurangi kemiskinan. Salah satu metode yang dapat ditempuh adalah dengan menanam varietas tanaman pertanian yang dapat tumbuh pada kondisi ekstrem seperti pada daerah yang mengalami kekeringan atau di lahan banjir.

Pembangunan sektor pertanian sebisa mungkin dilakukan dengan pertimbangan dapat menghindari potensi kehilangan (losses) hasil produk pertanian. Selain itu, segala upaya di bidang ini dilakukan untuk menambah pendapatan bagi petani. Strategi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan investasi dan promosi pertanian organik. Khusus untuk industri pertanian, maka upaya yang dapat dilakukan adalah dengan pemberian ‘Green Labels’ atau Label Hijau. Lebih lanjut lagi, pengembangan sektor pertanian dapat juga dilakukan dengan memasukkannya sebagai bagian dari sektor pariwisata dengan program khusus seperti Ecotourism. Semua hal tersebut, nantinya akan menjadi ‘Green Jobs’.

Sektor pertanian dibangun dengan mempertimbangkan perlindungan pada ekosistem yang penting. Di antara ekosistem yang harus diperhatikan adalah pollinator (penyebaran benih oleh hewan) dan kejernihan air yang terjaga.

Sektor Energi
Seperti halnya sektor pertanian, energi memainkan peran yang sangat vital seiring dengan pertambahan polusi yang terjadi. Pembangunan dalam bidang ini hendaknya didukung dengan berbagai kebijakan dan peraturan perundang-undangan. Pemanfaatan energi juga sebisa mungkin memperhatikan efisiensi. Sektor ini juga perlu dukungan pendanaan melalui investasi dan pengembangan teknologi melalui inovasi-inovasi.

Kendati demikian, sektor energi diharapkan dapat memberikan keuntungan dan ketahanan energi pada masa yang akan datang. Langkah yang dapat ditempuh di bidang energi adalah dengan melakukan penelitian mengenai sumber-sumber energi mikro dan peningkatan energi akses bagi semua lapisan masyarakat.

Sektor Transportasi
Fokus utama pembangunan hijau pada sektor transportasi adalah mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas dan polusi udara. Selain itu, sektor ini juga diharapkan dapat membantu mengurangi tingkat kemiskinan. Metode yang dapat ditempuh adalah dengan promosi penggunaan moda transportasi massal. Selain itu, hendaknya sektor transportasi juga mempertimbangkan efisiensi pemanfaatan bahan bakar minyak dan mendorong pemakaian kendaraan berbahan bakar listrik.

Pengambil kebijakan dapat mendorong terwujudnya standard polusi bagi kendaraan yang lalu-lalang di jalanan. Hal lain yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan kampanye transportasi hijau, misalnya dengan penggunaan sepeda atau jalan kaki. Pada akhirnya, pembangunan sektor ini diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja hijau.

Akhirnya, pembangunan hijau sebisa mungkin adalah pembangunan yang pintar atau ‘smart development’. Jenis pembangunan ini dilakukan dengan melibatkan semua pihak termasuk pemerintah, swasta/bisnis, kelompok masyarakat dan individu-individu. Setiap orang harus mengetahui apa peran masing-masing….

Dalam sistem pembangunan hijau ini, apa peran Anda?

Lebih jauh tentang ‘Green Growth’ dapat dilihat di: www.asialeds.org
Tulisan ini dapat dilihat penjelasannya dalam bentuk video di sini

Populasi Dunia yang Berlebih tak Berkurang karena Perang, Bencana atau Penyakit

National Academy of Sciences mengungkapkan, bahwa jumlah populasi tak terpengaruh oleh perang yang brutal atau pandemi penyakit yang mengerikan.

Laju pertumbuhan penduduk sangatlah cepat, bahkan pembatasan kelahiran, pandemi penyakit atau perang dunia ketiga tak mengurangi jumlah manusia yang menyebabkan bumi tak kuasa lagi untuk memenuhi semua kebutuhan mereka. Demikian hasil sebuah penelitian.

Daripada mengurangi jumlah manusia, maka usaha memangkas konsumsi sumber daya alam dan upaya daur ulang akan meningkatkan kemungkinan pemanfaatan SDA secara efektif dan berkelanjutan dalam 85 tahun ke depan, demikian hasil laporan dalam proceeding yang diterbitkan oleh National Academy of Sciences.

“Kami terkejut bahwa skenario lima tahun perang dunia ketiga dengan korban yang hampir sama dengan gabungan korban pada perang dunia satu dan dua, nyaris tak mengubah jumlah jumlah populasi manusia di abad ini.” Demikian dikatakan Prof. Barry Brook, koordinator penelitian dari Universitas Adelaide, Australia.

Perang dunia kedua menimbulkan korban antara 50 sampai 85 juta anggota militer dan masyarakat sipil adalah konflik yang paling brutal dan paling banyak korban dalam sejarah manusia. Sementara itu, lebih dari 37 juta orang meninggal dunia akibat perang dunia pertama.

Menggunakan pemodelan berbasis komputer untuk data kependudukan dari WHO dan Biro Sensus Amerika, para peneliti mencoba berbagai skenario pengurangan populasi. Penemuan mereka adalah, dalam kondisi saat ini untuk tingkat kelahiran, kematian, dan usia rata-rata ibu melahirkan pertama kali, maka populasi global akan meningkat dari 7 milyar pada tahun 2013 ke angka 10,4 milyar pada tahun 2100.

Perubahan iklim, perang, pengurangan kematian dan kelahiran, serta peningkatan usia melahirkan sedikit memengarungi prediksi ini. Pandemi global berbahaya yang menyebabkan 2 milyar orang meninggal hanya akan mengurangi populasi ke angka 8,4 milyar, sementara jika 6 milyar meninggal, maka akan tersisa 5,1 milyar.

“Populasi global meningkat sangat cepat pada abad terakhir, sekitar 14% dari total manusia yang pernah ada masih hidup hingga saat ini. Itu adalah angka yang sangat serius. Hal tersebut dinilai berbahaya karena beberapa alasan, yaitu ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi semua manusia, serta dampaknya bagi iklim dan lingkungan.” Kata Prof. Corey Bradshaw, peneliti dari Universitas Adelaide.

Beliau menambahkan, “Kami telah mencoba berbagai skenario untuk perubahan populasi manusia di seluruh dunia sampai tahun 2100 dengan menyesuaikan tingkat kelahiran dan kematian untuk menentukan tingkat populasi yang masuk akal di akhir abad. Penerapan kebijakan satu anak di seluruh dunia seperti di China sampai dengan akhir abad, atau kematian masal seperti konflik global atau pandemi penyakit, akan tetap menyisakan 5-10 milyar penduduk pada 2100.

Menurut, Brook, yang sekarang di Universitas Tasmania, pengambil kebijakan perlu lebih banyak mendiskusikan pertumbuhan penduduk, namun juga memperingatkan bahwa momentum jumlah penduduk yang tak dapat dihindari tersebut akan membuat berbagai upaya cepat demografi dikesampingkan, seperti pada masalah keberlanjutan kita.

“Hasil penelitian kami menunjukkan, bahwa perencanaan keluarga yang efektif dan pendidikan reproduksi yang dilakukan secara global akan memberikan hasil yang positif untuk menahan laju populasi dan meringankan beban pada ketersediaan sumberdaya dalam jangka waktu yang lumayan lama. Anak cucu kita akan menikmati keuntungan dari perencanaan semacam itu, namun manusia yang hidup sekarang tidak.” Demikian kata Prof. Brook.

Bradshaw kembali menambahkan, “Akibat dari penelitian ini adalah, usaha bersama untuk keberlanjutan sumberdaya akan diarahkan secara produktif pada pengurangan dampak yang sebisa mungkin menggunakan inovasi teknologi dan sosial.”

Hal tersebut dengan demikian menggarisbawahi apa yang sudah diperingatkan oleh Thomas Malthus mengenai kecepatan laju populasi di abad 18. Laporan tersebut juga memperingatkan, bahwa demografi momentum sekarang ini mengindikasikan tak adanya kebijakan yang mampu untuk mengubah jumlah populasi terutama pada tahun-tahun yang akan datang, seperti misalnya pengurangan secara ekstrim dan cepat pada angka kelahiran.

“Ini membutuhkan waktu yang sangat lama sementara target jangka panjangnya masih belum jelas.” Demikian dilaporkan. “Namun, beberapa pengurangan dapat dicapai pada pertengahan abad dan mengurangi jumlah orang yang harus diberi makan. Hasil yang lebih cepat untuk suatu keberlanjutkan dapat dicapai dengan kebijakan dan teknologi yang tidak memanfaatkan banyak sumber daya.”

Dengan tak adanya bencana atau pengurangan angka kelahiran yang besar, penelitian menunjukkan bahwa Afrika dan Asia Selatan adalah yang paling menderita karena perubahan ekosistem di masa datang.

Laporan yang diterbitkan minggu lalu oleh para peneliti dari Universitas Lund, Swedia, menunjukkan bahwa kemampuan produksi pangan di wilayah Sahel, Afrika tidak sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Sementara itu, pemanasan global justru akan makin mempertajam ketidakseimbangan tersebut.

Tulisan ini adalah hasil terjemahan dari sini