Bab II Capturing and Packaging of Operational Experiences and Lesson Learned

A.      Waktu dan Tempat

Lokakarya diselenggarakan pada tanggal 26-28 Maret 2014 di Universitas Gadjah Mada, Jl. Pancasila No. 2 Bulaksumur, Yogyakarta.

B.      Narasumber dan Peserta

Narasumber:

  • Steffen Janus (Program Manager, Knowledge Hub, World Bank)
  • Nicolas Meyer (Learning Specialist at the World Bank Institute)
  • Mathy van Buel (International Expert on Learning Technologies)

Peserta:

  • Direktorat Kesiapsiagaan, BNPB
  • Direktorat Pemberdayaan Masyarakat, BNPB
  • Direktorat Pengurangan Risiko Bencana, BNPB
  • Pusdiklat, BNPB
  • Pusdatin, BNPB
  • BPBD Prov. DIY, Kab. Sleman, dan Kab. Bantul
  • MTBA (Magister Teknik Bencana Alam, UGM)

C.      Latar Belakang dan Tujuan Lokakarya

Workshop/Lokakarya “Capturing and Packaging of Operational Experiences and Lesson Learned” adalah tindak lanjut dari perintah Kepala BNPB untuk meningkatkan kapasitas BNPB agar lebih sistematis dalam merekam, mengemas, dan membagikan pengalaman-pengalaman operasional dalam semua bidang kerja BNPB.

Pengalaman yang paling relevan untuk efektivitas sebuah organisasi adalah berasal dari para praktisi tematik dan pembuat kebijakan di organisasi tersebut. Sayangnya, beliau ini tidak memiliki waktu untuk berbagi pengalaman yang telah diperoleh dengan pihak lain baik di dalam maupun di luar organisasinya. Pengalaman tersebut berupa pengetahuan tersirat (tacit knowledge) yang ada di kepala para praktisi dan pembuat kebijakan yang dapat hilang manakala beliau pindah atau pensiun.

Banyak organisasi yang tidak memiliki proses yang sistematis dan terlembagakan untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan pelajaran-pelajaran penting dari pelaksanaan tugas-tugas operasionalnya. Dalam seni merekam dan mengemas pengetahuan mencakup langkah-langkah dasar yang diperlukan dalam kaitannya dengan pengetahuan teknis. Inti kegiatan ini adalah penguatan kapasitas penting dalam mengidentifikasi, merekam, memvalidasi dan pengemasan pengalaman-pengalaman operasional.

Tujuan dari lokakarya, diharapkan pada akhir kegiatan peserta akan mampu memahami dan menerapkan langkah-langkah pertama berbagi pengetahuan (dari identifikasi, merekam, sampai pengemasan). Peserta dapat memilih teknik dan alat yang tepatguna untuk melaksanakan setiap langkah. Peserta juga dapat mengevaluasi secara mandiri hasil kerjanya. Akhirnya, peserta dapat memahami keseluruhan siklus berbagi pengetahuan dan manfaatnya untuk diri sendiri dan organisasi.

D.      Hasil Lokakarya

Metode yang digunakan dalam lokakarya ini adalah learning by doing. Kegiatan-kegiatan praktik merekam pengetahuan dikombinasikan dengan sesi eksplorasi kelompok, diskusi, penugasan-penugasan praktis, dan penilaian akhir untuk memastikan pengalaman belajar yang kaya dan sangat interaktif. Studi kasus dalam lokakarya ini adalah proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana erupsi Merapi.

Pertama-tama, peserta harus mengidentifikasi pengetahuan yang akan dibahas terkait dengan proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca Merapi. Semua peserta mengajukan pertanyaan dan dikelompokkan ke dalam 8 topik. Pada saat yang sama, peserta yang berpengalaman dalam penanggulangan bencana Merapi, terutama pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi diminta untuk memaparkan pengetahuannya. Selanjutnya, peserta dibagi ke dalam 8 grup sesuai topik dan di masing-masing grup ada expert/ahli/narasumber, yaitu orang yang berpengalaman tadi.

Proses berbagi pengetahuan mengikuti siklus ‘Art of Capturing and Packaging’ yang digambarkan sebagai berikut:

Picture1

Gambar 2. Siklus ‘Art of Capturing and Packaging Knowledge’

Langkah pertama adalah identifikasi pengalaman operasional dan pembelajaran yang layak direkam. Metode yang digunakan untuk melakukan proses identifikasi adalah:

  1. Kuesioner 5W1H
  2. Cheklist: sesuai dengan kriteria pada identifikasi pengetahuan
  3. Audit pengetahuan
  4. Analisis Kesenjangan Pengetahuan

Identifikasi pengalaman operasional atau pengetahuan ini perlu dilakukan agar suatu pengetahuan/pengalaman bermanfaat untuk digunakan oleh orang lain. Sebuah pengetahuan yang layak untuk direkam harus memenuhi kriteria:

  • Dibutuhkan oleh orang banyak
  • Dijelaskan dengan baik
  • Dapat direkam/disimpan/dicatat
  • Dapat dibagikan ke orang lain
  • Dapat dilaksanakan oleh orang lain
  • Sesuai dengan topik bahasan

Langkah kedua setelah identifikasi pengetahuan untuk dibagi adalah proses perekaman pengetahuan. Guna melakukan hal ini, banyak metode dan peralatan yang dapat digunakan untuk merekam pengalaman operasional dan pembelajaran. Metode tersebut di antaranya adalah:

  • Wawancara
  • Bercerita (story telling)
  • Review dan evaluasi (after action reviews)
  • Laporan di kantor
  • Grup Diskusi (focus group)
  • Observasi
  • Panduan Bagaimana Untuk … (How to Guides)
  • Blog
  • Wiki
  • Ruang Kerja Bersama
  • Konferensi
  • Forum
  • Komunitas Praktisi

Dengan mengetahui metode perekaman, bukan berarti tugas selesai. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana peserta dapat menerapkan metode tersebut. Guna mengatasi hal itu, setiap kelompok harus mengisi template rencana perekaman yang terdiri dari:

  • Pengetahuan apa yang ingin direkam
  • Siapa ahli yang akan menjadi narasumber
  • Bagaimana teknik perekaman dilakukan
  • Di mana dilakukan perekaman
  • Kapan waktu perekaman
  • Bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan
  • Peran dan tanggung jawab, siapa melakukan apa
  • Risiko yang mungkin dihadapi
  • Kesempatan atau tindak lanjut apa yang mungkin terjadi

Pada lokakarya ini, dalam grupnya masing-masing ada peserta yang berperan sebagai pewawancara dan narasumber. Pewawancara menyiapkan serangkaian pertanyaan yang berkaitan dengan topik di masing-masing grup. Namun, dalam perkembangannya digabungkan metode wawancara dan story telling. Hal ini dilakukan agar semua pewawancara memiliki pemahaman yang sama terlebih dahulu tentang topik yang dibahas.

Setelah proses perekaman selesai dilakukan, peserta/pewawancara harus mengisi template perekaman. Template ini terdiri dari:

  • Topik apa yang ingin direkam pengetahuannya,
  • Latar belakang topik tersebut dipilih,
  • Tantangan yang dihadapi,
  • Solusi untuk mengatasi tantangan dan keberhasilan atau kegagalan solusi tersebut,
  • Pembelajaran,
  • Rekomendasi.

Setelah sebuah pengalaman atau pengetahuan bisa direkam, maka perlu dilakukan validasi terhadap informasi yang didapatkan. Validasi tersebut dapat dilakukan oleh manajemen, penulis/pewawancara sendiri, ahli lain, dan kawan-kawan pewawancara sendiri. Cara yang bisa dilakukan adalah melakukan perulangan proses wawancara atau story telling dengan pertanyaan yang sama atau menanyakan hal-hal yang dirasa masih kurang jelas.

Manakala proses validasi selesai dilakukan, maka proses selanjutnya adalah pengemasan pengetahuan. Banyak pilihan untuk mengemas pengetahuan agar bisa dibagi ke orang lain. Hal yang umum dilakukan misalnya dalam bentuk paparan untuk disajikan kepada peserta atau pihak yang membutuhkan. Selain itu, pengemasan juga bisa dilakukan dalam bentuk rekaman audio, video, tulisan di website, buku, laporan dan lainnya.

Seluruh hasil kemasan pengetahuan tersebut selanjutnya perlu dilembagakan secara resmi oleh organisasi agar lebih terbaca dan ada legitimasinya.

Pada hari terakhir, di hari ketiga lokakarya diisi dengan paparan peserta atas hasil diskusi. Dalam hal ini adalah pengetahuan yang telah dikemas ke dalam berbagai bentuk. Sebagian besar peserta memaparkan dalam bentuk presentasi menggunakan power point. Namun, presentasi tersebut ada yang dilengkapi dengan video, rekaman audio, bahkan ada satu kelompok yang memafaatkan media leaflet.

Satu demi satu grup menampilkan hasil kemasan pengetahuannya dan dikomentari oleh grup lain serta instruktur. Selanjutnya adalah tindak lanjut, yaitu adanya rencana aksi sebagai tindak lanjut untuk melengkapi pengetahuan tersebut. Rencana aksi yang dimaksud mencakup beberapa hal berikut:

  • Klarifikasi dari definisi pengetahuan
  • Second opinion
  • Kapan akan dilakukan rencana tindak lanjut tersebut
  • Apa pertanyaan lain yang muncul

Catatan penting dari rencana aksi ini adalah, apa pun rencana yang muncul harus bisa dilakukan.

Dengan dilakukannya paparan oleh semua kelompok, maka sejatinya lokakarya sudah selesai. Namun, tim instruktur berkenan untuk mengajarkan kepada peserta yang berminat bagaimana memanfaatkan media presentasi, termasuk power point, video dan audio secara efektif untuk merekam pengetahuan.

Dalam penggunaan power point, pertanyaan pertama yang harus dijawab adalah, “Apabila Anda dapat menjelaskan tanpa power point, kenapa Anda harus menggunakannya?”

Beberapa petunjuk yang bisa dimanfaatkan saat akan menggunakan power point adalah:

  • Cerita apa yang ingin disampaikan dalam paparan tersebut, bagaimana alurnya?
  • Hati-hati dalam memilih gambar yang akan digunakan dalam power point
  • Jangan pernah lupa tujuan presentasi itu sendiri
  • Fokuslah pada ide dan gunakan gambar
  • Setiap presentasi selalu menjual produk/sesuatu
  • Setiap slide harus memiliki tujuan mandiri yang mendukung keseluruhan cerita
  • Kunci dari presentasi adalah mencari kunci dari sebuah produk/pengetahuan
  • Hal yang paling penting adalah bagaimana menarik perhatian peserta
  • Jangan gunakan satu power point untuk berbagai kesempatan, sesuaikan paparan dengan peserta yang hadir.
  • Harus berhati-hati saat akan menambahkan animasi pada paparan
  • Berlatih memaparkan power point kita secara terus menerus
  • Gunakan standar huruf (ukuran/jenisnya) sesuai yang disarankan oleh power point.

E.       Kesimpulan dan Tindak Lanjut

  • Pengalaman atau pengetahuan perlu direkam, dikemas, dan dibagikan agar kinerja suatu organisasi efektif.
  • Saat seorang praktisi atau ahli yang berpengalaman pindah kerja atau pensiun, maka pengalaman dan pengetahuan yang dimilikinya bisa ditularkan kepada orang lain di luar atau di dalam organisasi.
  • Kemasan pengetahuan yang dihasilkan hendaknya dilembagakan agar memiliki legitimasi.

F.       Lain-Lain

  • Dokumen yang terkait dengan lokakarya ini adalah:
  • Template for Capturing Plan
  • Detailed action plan
  • Short description template
  • Paper “The Art of Capturing and Packaging Knowledge”
  • Template Form Validasi
  • Hasil-hasil diskusi bisa diakses di www.dewantoedi.net

Laporan Pelatihan: Bab I Pembangunan Kapasitas Pembelajaran Jarak Jauh untuk BNPB

A.      Waktu dan Tempat
Lokakarya diselenggarakan pada 25 Maret 2014 di GDLN Center di Kampus UI, Gedung IASTH Lantai 1, Jl. Salemba 4, Jakarta.

B.      Narasumber dan Peserta

Narasumber: Mr. Mathy van Buel, seorang ahli internasional dalam bidang teknologi pembelajaran.

Peserta: BNPB (Pusdiklat dan Pusdatin), World Bank, Universitas Indonesia

C.      Latar Belakang dan Tujuan Lokakarya

Sebagai bagian program dukungan untuk BNPB dalam pembangunan kapasitas perekaman dan pembagian pengetahuan, World Bank mengundang BNPB dalam lokakarya ‘Developing Distance Learning Capacity for BNPB’.

Dalam Lokakarya ini diberikan informasi desain pusat pelatihan BNPB dan penggunaan teknologi secara strategis yang akan digunakan untuk program pelatihan bagi BPBD dan mitra-mitra BNPB. Tempat lokakarya adalah di Global Development Learning Network (GDLN) yang berada di Universitas Indonesia. Diharapkan dari lokakarya ini peserta mendapatkan gambaran singkat pengaturan teknologi dan bagaimana hal itu digunakan untuk proses pembelajaran, pelatihan, dan dialog pada tingkat nasional dan internasional.

D.      Hasil Lokakarya

Teknologi dan metodologi yang handal dapat secara efektif mendukung upaya berbagi pengetahuan dan pengalaman praktis ke seluruh Indonesia, bahkan mancanegara. BNPB yang bekerja di wilayah sebesar Indonesia dan memiliki kompleksitas geografis yang terpisah-pisah dapat menggunakan teknologi dan metodologi pembelajaran jarak jauh. Fasilitas pendidikan dan pelatihan BNPB yang baru di Sentul dapat menggunakan metode pembelajaran jarak jauh untuk berbagai pengetahuan ke BPBD di seluruh Indonesia atau mitra-mitra dari luar negeri.

Fasilitas GDLN yang ada di UI dibangun oleh World Bank dengan biaya US$ 200.000, memiliki kapasitas tempat duduk 60 orang, ruangannya kedap suara dan ada satu ruang untuk penterjemah. Di bagian depan, terdapat dua layar proyektor untuk menampilkan near sight dan far sight. Peserta seminar atau paparan jarak jauh yang ada di UI ditampilkan di layar ‘near sight’ sementara yang berada di tempat lain ditampilkan di layar ‘far sight’.

Picture1

Gambar 1. Contoh Pemanfaatan Fasilitas GDLN

Guna melakukan video conference diperlukan jaringan internet dengan kapasitas 2-5 MB. UI sendiri saat ini memiliki dua fasilitas GDLN yang berada di Salemba dan Depok.

Sejauh ini, GDLN di UI pernah digunakan untuk melakukan video conference dengan peserta dari 22 universitas yang berbeda di seluruh Indonesia. Seluruh peserta terlibat aktif dalam seminar jarak jauh tersebut. Layar GDLN di UI dapat menampilkan sampai dengan maksimal 9 peserta dan secara berganti-ganti menampilkan 22 peserta lainnya.

Dalam melaksanakan video conference, selain prasarana dan sarana untuk melakukan seminar jarak jauh, diperlukan juga peserta, narasumber, dan teknisi. Selain itu, berbagai pertimbangan juga perlu dirancang sebelum seminar jarak jauh dilakukan. Catatan lainnya: perlu interaksi yang aktif di antara peserta seminar dan moderator yang cakap untuk mengatur jalannya video conference. Hal yang tidak boleh dilupakan adalah rencana cadangan manakala terjadi gangguan misalnya terjadi kegagalan jaringan internet.

Kendala lain apabila sistem pembelajaran jarak jauh diterapkan di BNPB adalah banyak pelatihan yang dilakukan memerlukan praktik. Kondisi ini dapat diatasi dengan adanya asisten lokal yang berada di daerah untuk membantu peserta selama praktik dilakukan.

Sebuah seminar atau kelas jarak jauh hendaknya tidak melibatkan terlalu banyak peserta dan harus ada sistem yang memungkinkan seluruh peserta aktif terlibat dalam kegiatan. Hal ini diperlukan agar semua peserta tidak teralihkan perhatiannya dan narasumber mudah mengontrol kelas. Dengan demikian, narasumber yang terlibat dalam kegiatan ini haruslah memiliki keahlian dan keterampilan yang baik.

E.       Kesimpulan dan Tindak Lanjut

  • BNPB tertarik untuk menggunakan metode pembelajaran jarak jauh di bidang penanggulangan bencana kepada BPBD dan mitra lain dalam dan luar negeri.
  • Pusdiklat BNPB bertanggung jawab dalam bidang kurikulum dan penyelenggaraan pelatihan. Pusdatin BNPB mendukung dari sisi teknologi dan sarana untuk jalannya video conference.
  • Perlu ada Training of Trainer bagi narasumber yang akan terlibat dalam pembelajaran jarak jauh.
  • Sebelum sistem pembelajaran jarak jauh diterapkan di BNPB, Pusdiklat menginginkan dilakukan uji coba terlebih dahulu dengan menggunakan fasilitas GDLN yang ada di UI dan universitas lain di seluruh Indonesia.

F.       Lain-Lain

Dokumen yang terkait dengan lokakarya ini adalah:

  1. Pengalaman GDLN di wilayah Asia-Pasifik
  2. Panduan Pembangunan Fasilitas GDLN
  3. Paparan mengenai GDLN
  4. Paparan Pembelajaran Penyelenggaraan Kuliah Jarak Jauh di UI
  5. Defining Blended Learning in the GDLN Context

Ringkasan Eksekutif Laporan Kegiatan Pelatihan BNPB-World Bank

BNPB didukung oleh World Bank akan mengembangkan fasilitas pembelajaran jarak jauh di InaDRTG. Fasilitas ini serupa dengan yang ada di Universitas Indonesia dan merupakan bagian dari GDLN (Global Development Learning Network). Dengan adanya fasilitas ini, maka proses belajar dan pelatihan dapat dilaksanakan untuk seluruh wilayah Indonesia tanpa peserta harus datang ke pusat pelatihan BNPB.

Universitas Indonesia telah memanfaatkan fasilitas GDLN untuk menyelenggarakan seminar dan kuliah jarak jauh dengan metode video conference. BNPB yang memiliki wilayah kerja di seluruh Indonesia dan bermitra dengan BPBD sudah selayaknya meniru apa yang dilakukan oleh UI. Harapannya, proses pelatihan dan pembelajaran dapat dilakukan secara jarak jauh. Laporan lengkap kunjungan ke GDLN dapat dibaca di Bab I. Pembangunan Kapasitas Pembelajaran Jarak Jauh untuk BNPB

Selanjutnya, BNPB telah berpengalaman dalam melakukan upaya penanggulangan bencana di seluruh Indonesia. Kendati demikian, upaya pencatatan pengalaman dan pengetahuan praktis tersebut masih jarang dilakukan. Suatu saat, para staf, pejabat, dan tenaga ahli yang ada di BNPB akan pindah kerja atau pensiun. Sangat disayangkan apabila pengalaman dan pengetahuan praktis tersebut hilang seiring dengan ketidakhadiran beliau di BNPB.

Guna mengatasi hal ini, maka BNPB didukung oleh World Bank menyelenggarakan lokakarya ‘The Art of Capturing and Packaging Knowledge’. Sebuah pengetahuan yang dimiliki oleh para ahli dapat dimanfaatkan oleh pihak lain, namun harus diidenfitikasi, dan dikemas. Bagaimana melakukan itu semua, dapat dibaca pada laporan di Bab II. Capturing and Packaging of Operational Experiences and Lesson Learned

Sebuah pengetahuan atau pengalaman yang telah dikemas kemudian harus disebarluaskan, dibagi, atau ditukarkan (exchange). Bagaimana kegiatan pertukaran pengetahuan ini dilakukan secara efektif?

Sebuah model berbagi pengetahuan telah dikembangkan oleh World Bank, dinamakan ‘Bridge Model’. Implementasi ‘Bridge Model’ dilakukan dengan mempertimbangkan tujuan pertemuan, siapa peserta yang hadir, siapa narasumber yang datang, waktu yang tersedia, sampai dengan jumlah anggaran yang ada. Dalam kegiatan pertukaran pengetahuan, perlu dilakukan pemilihan instrumen dan aktivitas yang tepat. Bagaimana penyusunan kegiatan pertukaran pengetahuan tersebut dilakukan, bisa dibaca pada laporan di Bab III. The Art of Knowledge Exchange Workshop and Training

BNPB sebagai ‘Center of Excellent’ dalam penanggulangan bencana hendaknya mampu mengemas pengetahuan dan keahlian yang dimiliki agar dapat bermanfaat untuk pihak lain di Indonesia dan dunia. Dalam rangka hal itu, maka perlu fasilitas untuk berbagi pengetahuan dan penyelenggaraan kegiatan berbagi pengetahuan yang baik. Semoga laporan ini dapat bermanfaat untuk mendukung upaya tersebut.

Tulisan Ilmiah Populer (Menulis Laporan Ilmiah Secara Naratif)

Berikut ini adalah catatan saya saat mengikuti kegiatan pertemuan penyusunan ‘Buku Data Bencana Tahun 2013’ pada tanggal 21 April 2014 kemarin. Catatan ini berdasarkan paparan dari Ahmad Arif, beliau adalah jurnalis Kompas yang diundang oleh Pusdatinmas, BNPB, untuk memberikan pemahaman mengenai tulisan ilmiah populer. Silakan disimak poin-poin berikut, semoga bermanfaat.

  1. Suatu karya tulis hendaknya disajikan dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti
  2. Tulisan populer ditujukan untuk semua kalangan, kaya data, dan enak dibaca
  3. Harus ada aspek manusia dalam sebuah tulisan populer
  4. Struktur tulisan populer: mulai dari informasi terkuat/terpenting → sembunyikan bagian terlemah → buat ending yang terkuat (akurat berdasarkan fakta-fakta)
  5. Tips dalam menulis populer: gunakan kalimat sederhana, hindari istilah asing, jargon dan pakailah singkatan yang umum digunakan, buat analogi, don’t tell but show.
  6. Tulisan populer harus mengandung nilai-nilai aktual: hubungannya dengan masyarakat, peristiwa terbaru, konteks dengan masalah yang menjadi tren. Tujuannya adalah tulisan Anda layak untuk dibaca sekarang juga dan bukan besok-besok.
  7. Kalimat sederhana ditandai dengan penggunaan Subyek-Predikat-Obyek, hindari menggunakan anak kalimat, sebuah kalimat idealnya maksimal terdiri dari 13 kata, satu paragraf maksimal 3 kalimat atau 5 baris dalam format MS Word.
  8. Penyajian tulisan populer dapat mengikuti saran sebagai berikut: judul yang memikat, lead yang berbicara (kata, kalimat, paragraf pertama jangan bertele-tele), kalimat yang mengalir (jangan biarkan pembaca kehilangan semangat untuk melanjutkan membaca), ending yang berkesan.
  9. Layout sebuah buku sangat menentukan
  10. Saat ini tuntutannya adalah penyajian yang interaktif
  11. Tim ekspedisi cincin api terdiri dari:
  • 1-2 orang penulis
  • 1-2 orang fotografer/videografer
  • 1-2 orang layouter
  • Catatannya: harus ada satu orang yang menangani keseluruhan buku dari awal sampai akhir.

4 langkah mudah menggunakan Garmin ‘GPSmap 62s’

Capture_GPS

  • Nyalakan GPS

Tekan dan tahan tombol power dan kemudian biarkan GPS receiver menerima sinyal satelit. GPS receiver bisa digunakan ketika dapat menangkap minimal 3 sinyal satelit.

  • Baca Posisi

Setelah GPS receiver menerima sinyal satelit, maka posisi koordinat Anda saat ini bisa langsung dibaca di perangkat.

  • Simpan Waypoint

Plotting titik (mark waypoint) berarti pembuatan titik atau ploting lokasi, syaratnya Anda tidak diperkenankan pada posisi bergerak, anda harus berhenti pada lokasi tersebut sampai berhasil melakukan mark waypoint.
Untuk melakukan mark waypoint, tekan beberapa saat tombol MARK, maka akan muncul halaman Mark Waypoint. Selanjutnya arahkan highlight biru pada tombol DONE, dan tekan tombol Enter.
Melalui Waypoint Manager, Anda bisa mengubah (edit) dan menghapus (delete) suatu waypoint.
Mengubah Titik (Editing Waypoint). Tekanlah MENU dan pilih Waypoint Manager.

  • Go To

Tekan tombol Find, pilih waypoint yang akan dituju. Tekan tombol Enter untuk masuk ke halaman waypoint. Arahkan highlight kuning pada tombol Go, kemudian tekan tombol Enter untuk menampilkan navigasi arah dalam peta ke waypoint tersebut.

Materi ini disiapkan sebagai bahan ajar dalam Forum Komunikasi Wartawan di Surabaya 15-17 April 2014 yang diselenggarakan oleh Bidang Humas, Pusdatinmas, BNPB