Sapaan Merapi

Sebelum Merapi meletus, dia selalu menunjukkan gelagat, semacam sapaan. Hal tersebut bisa berupa harimau yang turun, kemudian burung, lalu monyet dan kijang. Namun, karena satwa-satwa tersebut nyaris tidak ada lagi, bahasa Merapi yang satu ini sudah mulai sirna, dan itu berarti khazanah penting pengetahuan tradisional tentang Merapi pupus.

Perilaku binatang yang tidak seperti biasanya, seperti monyet dan kijang yang berlarian turun gunung, anjing menggonggong terus menerus, burung kedasih berkicau pada malam hari, hingga cacing-cacing keluar dari tanah, menandakan timbulnya hawa panas di sekitar mereka.

Pengetahuan ini bisa diterjemahkan ke dalam bahasa ilmu pengetahuan modern-salah satu bentuk rasionalisasi. Pengetahuan lokal sangat berkaitan dengan hal praktis kehidupan sehari-hari warga di daerah rawan bencana.

Mitigasi Merapi

Kewajiban melakukan mitigasi disebut dalam UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana Nasional. Undang-undang tersebut berfungsi sebagai pedoman dasar yang mengatur wewenang, hak, kewajiban dan sanksi bagi segenap penyelenggaran dan pemangku kepentingan di bidang penanggulangan bencana. Menurut UU tersebut, penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam situasi berpotensi terjadi bencana meliputi kesiapsiagaan, peringatan dini, dan mitigasi bencana.

Kesiapsiagaan dilakukan untuk memastikan upaya yang cepat dan tepat dalam menghadapi bencana. Sedangkan peringatan dini dilakukan untuk pengambilan tindakan cepat dan tepat dalam rangka mengurangi risiko terkena bencana serta mempersiapkan tindakan tanggap darurat. Mitigasi dilakukan untuk mengurangi risiko bencana bagi masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana. Mitigasi bencana Gunung Merapi bisa diartikan sebagai segala usaha dan tindakan untuk mengurangi dampak bencana yang disebabkan oleh erupsi Gunung Merapi. Mengingat begitu padatnya penduduk yang bermukim di sekitarnya, bencana erupsi Merapi dapat terjadi sewaktu-waktu.

Berdasarkan tugas dan fungsinya, PVMBG termasuk BPPTK sebagai salah satu unitnya, turut berperan dalam manajemen krisis bencana erupsi. Pada fase pra kejadian, peranannya meliputi langkah-langkah penilaian risiko bencana, pemetaan daerah rawan bencana, pembuatan peta risiko, dan pembuatan simulasi skenario bencana. Tindakan lain yang perlu dilakukan adalah pemantauan gunung api dan menyusun rencana keadaan darurat. Adapun pada fase kritis, badan ini sudah harus melakukan tindakan operasional berupa pemberian peringatan dini, meningkatkan komunikasi dan prosedur pemberian informasi, menyusun rencana tanggap darurat yang berupa penerapan dari tindakan rencana keadaan darurat, dan sesegera mungkin mendefinisikan perkiraan akhir dari fase kritis.

Sedangkan sistem peringatan dini Gunung Merapi berfungsi untuk menyampaikan informasi terkini status aktivitas Merapi dan tindakan-tindakan yang harus diambil oleh berbagai pihak terutama oleh masyarakat yang terancam bahaya. Ada berbagai bentuk peringatan yang dapat disampaikan, Peta Kawasan Rawan Bencana sebagai contoh adalah bentuk peringatan dini yang bersifat lunak. Peta ini memuat zonasi level kerawanan sehingga masyarakat diingatkan akan bahaya dalam lingkup ruang dan waktu yang dapat menimpa mereka di dalam kawasan Merapi.

Bentuk peringatan dini terutama adalah tingkat ancaman bahaya atau status kegiatan vulkanik Merapi serta langkah-langkah yan harus diambil. Bentuk peringatan dini bergantung pada sifat ancaman serta kecepatan ancaman Merapi. Apabila gejala ancaman terdeteksi dengan baik, peringatan dini dapat disampaikan secara bertahap, sesuai tingkat aktivitasnya. Namun, apabila ancaman bahaya berkembang secara cepat, peringatan dini langsung menggunakan perangkat keras berupa sirine sebagai perintah pengungsian.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Memahami Merapi

Memahami Merapi, tidak cukup dengan menelisik wujud fisiknya, menghitung tremor dan gempa yang diakibatkan, mewaspadai wedhus gembel dan aliran lahar dinginnya saja. Akan tetapi, tak kalah penting adalah memahami masyarakat yang hidup dan tinggal di sekitar Merapi

Merapi merupakan ujung atau puncak perjalanan manusia mencapai eksistensi tertinggi (swarga pangratunan), di mana Jagad Ageng (makrokosmos) dan Jagad Alit (mikrokosmos) menyatu dalam diri. Kosmologi itu termanifestasi dalam tata ruang kerajaan (kota) Yogyakarta, yang membujurkan sumbu di garis Parangkusuma (Laut Kidul)-Panggung Krapyak-Keraton-Tugu Pal Putih hingga Merapi dan singgasana Sultan menjadi pusatnya.

Dalam pemahaman warga di sekitar Merapi, alam tak pernah berdiri sendiri: alam dan manusia berada dalam relasi yang erat dan mendalam. Karena itu, peristiwa alam, seperti erupsi Merapi, juga bisa ditangkap sebagai purifikasi atau teguran terhadap manusia dan kelakuannya.

Mbah Maridjan hidup sepenuhnya dalam kosmologi ini. Gunung Merapi baginya adalah makhluk hidup yang dapat bernapas, berpikir, dan berperasaan. Ada roh yang berdiam di baliknyaa, yang juga membaca (pikiran dan perilaku) manusia di sekitarnya. Dengan dasar itu, maka beliau menganggap sebutan seperti mbledhos, njeblug, dan wedhus gembel, sebagai sesuatu yang menyakitkan hati Merapi, dan karena itu, ia pantang menggunakan istilah tersebut.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Kearifan Lokal yang Mulai Hilang

Merapi tidak pernah ingkar janji. Kalimat itu bagaikan sebuah penegasan akan kearifan lokal yang diajarkan oleh orang tua di sekitar Merapi kepada anaknya.

Merapi selalu memberikan pratanda dan peringatan sebelum meletus. Pada letusan di tahun 1996, misalnya, penduduk sangat akrab dengan berbagai pratanda dari Gunung Merapi. Masyarakat mampu membaca tanda-tanda seperti munculnya wedhus gembel atau awan panas, guguran lava, suara gemuruh, tremor atau getaran, maupun asap yang keluar dari puncak Merapi.

Namun, seiring dengan perkembangan teknologi dan terbukanya informasi, maka arus berita menjadi begitu deras dari berbagai media massa. Akibatnya, masyarakat kehilangan kemampuannya untuk membaca berbagai pratanda dari Merapi. Dampaknya, jika informasi tidak diterima dengan cepat dan bahkan simpang siur, hal ini justru membuat masyarakat kehilangan orientasi terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh letusan Merapi.

Dalam upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana, perlu dikembangkan berbagai kearifan lokal seperti yang diajarkan oleh para orang tua. Berbagai pratanda seperti lampor atau yang dikenal dengan banjir lahar dingin, yaitu banjir besar yang membawa material vulkanik, oleh warga dimaknai bahwa Merapi dan Laut Kidul sedang mempunyai hajatan. Lampor sendiri adalah konsekuensi logis yang terjadi saat Merapi meletus pada musim hujan.

Kearifan lokal yang lain adalah bagaimana masyarakat bisa memperkirakan arah wedhus gembel dengan memperhatikan letak titik api diam di puncak Merapi yang pasti akan terlihat jelas sekitar pukul 3 dini hari. Kata orang tua, titik api diam tersebut dikenal sebagai banaspati, yaitu sejenis makhluk gaib raksasa yang perutnya besar dan menyala.

Kehadiran banaspati mengisyaratkan terjadinya sebuah bencana. Lokasi titik api diam ditambah frekuensi dan besaran suara gemuruh dapat memberi tanda ke mana dan seberapa jauh aliran wedhus gembel menerjang dan meluluhlantakkan kehidupan yang dilaluinya.

Semua fenomena tersebut menunjukkan bahwa manusia perlu akrab dan mengembangkan kemampuan untuk membaca berbagai tanda yang diberikan oleh Merapi.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Korban-Korban Letusan Merapi

12 Oktober 1920

Sebanyak 35 orang tewas akibat awan panas

18 Desember 1930

Letusannya menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1.369 orang

18 Januari 1953

Awan panas membumbung hingga 12 km dari puncak, enam orang tewas

8 Mei 1961

Awan panas membumbung hingga 12 km dari puncak, enam orang tewas

Oktober 1962

Banjir lahar menyapu 5 kampung sehingga 2 orang tewas

7-8 Januari 1968

Awan panas menyembur hingga 13,5 km, 1 orang tewas

22 November 1994

Terjadi letusan disertai awan panas, 44 orang tewas

19 Juli 1998

Terjadi letusan cukup besar yang mengarah ke atas sehingga tidak memakan korban jiwa

8 Juni 2006

Letusan awan panas membuat ribuan warga di wilayah lereng Gunung Merapi panik dan berusaha mengungsi ke tempat aman.

26 Oktober 2010

Terjadi letusan disertai semburan awan panas. Sebanyak 36 orang tewas termasuk kuncen Merapi.

5 November 2010

Terjadi letusan dahsyat. Korban tewas 259 orang. Jumlah pengungsi tercatat mencapai 151.959 orang yang tersebar di 134 titik pengungsian. Korban luka mencapai 287 orang.