Empat Kesulitan Mengelola Risiko Gunung Api

Para ahli gunung api dari berbagai negara yang tergabung dalam Tim Mitigate and Assess Risk from Volcanic Impact on Terrain and Human Activities (Miavita), sudah memberikan peringatan mengenai sulitnya pengelolaan risiko gunung api.

Menurut Tim Miavita, ada empat kesulitan pengelolaan risiko gunung api yang kerap, dan tak boleh diabaikan.

Pertama, lereng gunung api merupakan tempat manusia sering berkerumun. Di situlah tanah tersedia, subur, dan kadang lebih murah, bahkan meski area tersebut sangat berbahaya karena tingginya ancaman gunung api.

Kedua, ketersediaan sumberdaya, seperti anggaran dan atau kapasitas saintifik, berangkali tidak mencukupi untuk memastikan penanggulangan yang efisien, khususnya di negara berkembang.

Ketiga, masa antara dua letusan atau terjadinya ancaman yang panjang barangkali dianggap sebagai serangan berisiko rendah oleh otoritas lokal dan penduduk setempat.

Keempat, baik keputusan untuk hidup di lingkungan gunung api yang berbahaya dan kurangnya ketersediaan sumberdaya berakar dari kendala struktural jangka panjang yang terhubung dengan faktor ekonomi politik, seperti distribusi sumberdaya, relasi patron-klien, beban utang, serta kebijakan perdagangan global.

Daftar Pustaka

Saragih, Bonar, 2014, Asmaradana Merapi, Narasi Ketangguhan Orang-orang Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan UNDP Indonesia, Jakarta.

Bagaimana Menentukan Lokasi Hunian Tetap?

Belajar dari penanganan pasca bencana Erupsi Merapi pada tahun 2010, maka penentuan hunian tetap di Provinsi D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah harus mempertimbangkan beberapa kriteria. Kriteria tersebut dibagi menjadi kriteria umum dan khusus. Selengkapnya adalah sebagai berikut:

1. Kriteria umum
– Aman dari kerawanan bencana gunungapi
– Lahan mempunyai kemiringan maksimum 30%
– Berada di kawasan budidaya di luar permukiman dan tanah garapan aktif yang ditetapkan dalam RTRW kabupaten terdampak.
– Berada di kecamatan yang sama.

2. Kriteria penunjang
– Tersedia air baku
– Tersedianya jaringan infrastruktur
– Kemudahan pembebasan lahan
– Tersedianya luasan lahan minimal untuk perumahan

Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi juga melibatkan masyarakat terdampak sebagai stimulus ekonomi demi keberlanjutan kehidupan mereka. Stimulus ini perlu diadakan agar perekonomian masyarakat kembali pulih dan dapat mencukupi kehidupan mereka sendiri-sendiri. Arahan Wakil Presiden RI dalam ruang lingkup rehabilitasi dan rekonstruksi adalah:

  1. Pemulihan perumahan dan permukiman dengan memperhatikan kebijakan relokasi yang aman dan desain yang berbasis mitigasi dan pengurangan risiko bencana.
  2. Pemulihan infrastruktur publik yang mendukung mobilitas masyarakat dan perekonomian serta infrastruktur vital dalam penanggulangan bencana.
  3. Pemulihan kebutuhan sosial masyarakat.
  4. Pemulihan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.
  5. Pemulihan lintas sektor melalui sub sektor keamnan dan ketertiban, pemerintahan, lingkungan hidup dan pengurangan risiko bencana.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Hunian Tetap Sebuah Dilema

Kenapa warga terdampak erupsi Merapi yang tinggal di hunian tetap masih juga pulang ke rumahnya?

Adalah mustahil memutus ikatan psikologis dengan rumah tinggal, di mana orang lahir dan dibesarkan. Tindakan warga terdampak erupsi Merapi yang senantiasa pulang kembali ke rumah asalnya sudah dilandasi perhitungan dan kebijaksanaan.

Perhitungan dan kebijakan itu seringkali tak sejalan dengan buah pemikiran para pakar atau akademisi. Namun, warga di lereng Merapi itu sudah paham risiko yang harus dihadapi, bahkan telah akrab dengannya.

Sikap terhadap hunian tetap sendiri berbeda-beda antara masyarakat di Aceh, Wasior, dan Yogyakarta.

Bagi masyarakat korban bencana di Aceh dan Wasior, huntap lebih sebagai tempat berteduh. Oleh sebab itu, mereka tak terlalu menghiraukan penghuni lain yang berada di ruangan yang sama.

Di Jawa Tengah dan Yogyakarta kondisinya berbeda. Penghuni akan merasa nyaman bila memiliki ruang sendiri. Manakala seorang penghuni memiliki ruang sendiri biarpun kecil, maka ia tak akan terlalu menghiraukan dengan ketersediaan fasilitas lainnya.

Selain menyangkut hunian tetap, terdapat juga perbedaan perlakuan terhadap orang tua dan dampaknya.

Di kalangan masyarakat Sumatera dan Papua yang juga sesuai dengan standar dari UNDP, orang tua perlu ditempatkan khusus dan terpisah serta mendapat perlakuan yang khusus pula.

Di Jawa, apabila seorang tua dipisahkan dari anak-anak dan keluarganya, maka bisa sangat berbahaya. Penyebab terjadinya hal ini adalah fungsi perawatan dan kepedulian dari anak/cucu ke orang tua yang sangat diperlukan di wilayah ini.

Saat ini, banyak warga yang setelah direlokasi masih kembali ke atas untuk menjalani kegiatan sehari-hari seperti biasa. Tindakan tersebut menganut prinsip ‘tinggal di bawah, kerja di atas.’

Strategi menjauhkan masyarakat dari bencana memang tak selalu harus melalui relokasi dari kawasan rawan bencana, tapi dengan mendukung kemampuan masyarakat agar dapat hidup harmonis dengan bencana dan juga mengembangkan kearifan lokal.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Penentuan Radius Bencana Gunung Api

Berapa kilometer jarak aman dari pusat letusan Merapi?

Tidak mudah menentukan radius aman karena di dalamnya beradu antara penghidupan warga dan perhitungan ilmiah. Namun, kepentingan utama dari institusi penanggulangan bencana adalah keselamatan bersama.

Sebagai contoh, pada saat radius aman Merapi ditetapkan 20 km tidak banyak warga yang tahu sejauh apa persisnya radius tersebut. Perkiraan mengenai tempat-tempat mana yang menjadi batas radius tersebut lantas menyebar di jejaring sosial.

Sesuai dengan sifat letusan Merapi yang tak dapat diperkirakan, maka tak ada hitungan pasti jarak amannya. Hal ini disebabkan karena kendati sudah diketahui siklus lima tahunan, namun tidak ada yang mengetahui skala letusannya. Skala letusan tersebut berkaitan dengan radius aman.

Oleh sebab itu, manakala satu gunung masih menunjukkan aktivitas yang tinggi, maka tidak ada jarak aman yang permanen. Hal yang bisa dilakukan adalah dengan menjauhkan masyarakat dari zona berbahaya.

Arti penting yang lain dari penentuan radius bencana adalah untuk menciptakan rasa aman para pengungsi yang tinggal di hunian-hunian sementara. Penentuan batas aman tersebut juga menjadi rujukan bersama bagi pihak mana pun yang bermaksud membangun huntara.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Ternak bagi Warga Sekitar Merapi

Ternak_Merapi

Para korban letusan Gunung Merapi yang mengungsi memiliki ikatan yang kuat dengan ternak-ternaknya. Kendati sudah terpisah puluhan kilometer dari tempat tinggal, selalu ada keinginan untuk kembali menyelamatkan ternak mereka dan membawanya ke tempat pengungsian.

Ikatan emosional dengan ternak ternyata tak putus oleh semburan abu vulkanik dan awan panas. Janji pemerintah yang akan membeli ternak seperti tak terdengar. Pemerintah daerah maupun kepolisian kewalahan menangani warga yang nekat kembali ke zona berbahaya itu.

Dalam menangani ternak pasta terjadinya bencana ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan. Pertama, ternak bagi orang Jawa pada umumnya lebih dari sekadar sumber protein, tapi menjadi anggota keluarga. Sebab itu, orang Jawa menamai semua ternaknya. Ada sapi bernama Si Siti, Si Suti, atau si Sita.

Kedua, ternak tak selalu dikurung dalam kandang atau diikat. Mereka lebih sering dilepas di padang dan ladang. Manakala terjadi letusan Merapi, ternak yang diikat malah tidak bisa menyelamatkan diri dan mati.

Berdasarkan fenomena hubungan ternak dan pemiliknya tersebut, maka BNPB berkoordinasi untuk mengupayakan agar evakuasi selalu menyertakan ternak. Selain itu, korban juga merasa tenang bila mengetahui bahwa ternaknya sudah lebih dulu tiba di tempat pengungsian.

Pelajaran ini juga menjadi catatan bagi para relawan, petugas, dan pengambil keputusan agar membangun huntara atau tempat pengungsian yang berdekatan dengan kandang ternak.

Kesulitan terbesar bagi tim dalam penanganan ternak ini adalah penelusuran ternak yang mati dan mengidentifikasi pemiliknya.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Sumber gambar dari sini