Kearifan Lokal dalam Menghadapi Bencana

Contoh penerapan kearifan lokal dalam menghadapi bencana adalah apa yang terjadi pada warga di Pulau Simeuleu. Mereka tinggal kurang dari 150 m dari lepas pantai barat Aceh dan terhindar dari bencana tsunami yang melanda Provinsi Aceh pada tahun 2004.

Gugusan Kepulauan Simeulue yang terdiri atas beberapa pulau besar dan kecil (lebih kurang 40 buah) berada tepat di atas persimpangan tiga palung laut terbesar dunia, yaitu pada pertemuan lempeng Asia dengan lempeng Australia dan lempeng Samudera Hindia.

Akibat kondisi geografisnya, maka saat terjadi gempabumi dan tsunami pada 26 Des 2004 yang ber-episentrum di ujung barat Pulau Simeulue, pulau ini mengalami kerusakan sarana prasarana sangat parah.

Namun, jumlah korban jiwa akibat peristiwa tersebut relatif minim. Hal ini disebabkan masyarakat setempat sudah mengenal secara turun-temurun peristiwa yang disebut sebagai smong, sebab peristiwa tsunami juga pernah terjadi di sana pada tahun 1907.

Bila gempa besar terjadi dan diikuti oleh surutnya air latu dari bibir pantai secara drastis dan mendadak, otomatis tanpa disuruh seluruh penduduk, tua muda, besar kecil, laki-laki, dan perempuan beranjak meninggalkan lokasi menuju tempat-tempat ketinggian atau perbukitan guna menghindari terjangan smong/tsunami tersebut.

Kearifan lokal seperti yang ditunjukkan oleh warga Simeulue harus terus dikembangkan menjadi suatu budaya baru bagi masyarakat di wilayah rawan bencana. Masyarakat hendaknya bisa bersahabat dengan alamnya, mengembangkan budaya dan kearifan lokal yang ada untuk menghindar dari ancaman bencana. Kelak, bila bencana itu datang, maka tidak sampai merenggut kehidupan dan penghidupan masyarakatnya. Manakala bencana itu datang, masyarakat akan menyambutnya dengan kearifan dan kesigapan untuk menyapa sang alam dengan penuh keyakinan bahwa bencana itu memang harus dihadapi dan disikapi dengan benar.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Gempa 7,4 SR di Maluku

Berkaitan dengan gempa berkekuatan 7,4 SR di barat laut Maluku Tenggara Barat pada Senin malam pukul 23.53, ahli gempa ITB, Irwan Meilano, mengatakan, mekanisme gempa kali ini adalah sesar naik miring. Gempa terjadi di timur Laut Banda, di mana konvergensi dari lempeng Australia terdistribusi pada busur belakang dan Laut Banda.

Menurut ahli dari BPPT, Widjo Kongko, kekuatan gempa itu sekitar 50 kali bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang. Berdasarkan perkiraannya, jenis patahan yang ada bukan sesar naik atau turun, melainkan sesar geser dan agak miring. Bidang patahan yang tebentuk panjang, mencapai 65×15 km dan dislokasi sekitar 2 meter.

Terjadi dinamika geologi yang kompleks di kawasan timur Indonesia. Lempeng Australia menumbuk dari selatan berkecepatan 7,5 cm per tahun. Dari sisi timur, Papua, pergerakan lempeng ke arah barat 9 cm per tahun.

Dalam 100 tahun terakhir, setidaknya ada 11 gempa bermagnitudo di atas 8 terjadi di sana. Di antaranya tahun 1904 (magnitudo 8,4), tahun 1916 (8,1), tahun 1932 (8,3), tahun 1938 (8,6), tahun 1950 (8,1), tahun 1963 (8,2), tahun 1971 (8,1), dan tahun 1979 (8,1).

Selain pergerakan lempeng, kontur di darat dan laut yang sangat curam juga memungkinkan terjadinya longsor. Apabila longsor terjadi di laut, maka bisa menimbulkan tsunami. Pada 1899 pernah terjadi longsor di Laut Seram yang dipicu gempa berkekuatan 7,8 SR. Kala itu, tsunami yang terbentuk setinggi 12 meter dan berakibat hilangnya Negeri (Desa) Elpaputih, dan menewaskan 3.000 orang.

Tulisan ini adalah rangkuman dari artikel di Koran Kompas, 12 Desember 2012, yang berjudul ‘Gempa Maluku, Peringatan untuk Indonesia Timur’.