Bakau dan Api-api Melindungi Karimunting

Keberadaan Karimunting, sebuah desa di pesisir Kalimantan Barat, sempat terancam oleh abrasi yang lajunya amat tinggi. Berbagai pihak bahu-membahu membuat benteng hidup melalui penanaman mangrove di sepanjang pesisir pantai desa itu.

Keresahan penduduk Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, terhadap baya abrasi terasa sejak tahun 2005. Sejumlah warga memperkirakan, laju abrasi berkisar 30-50 meter dalam lima tahun pada waktu itu. Dampak abrasi makin terasa karena sebagian wilayah pesisir Kalbar biasanya mengalami pasang dan surut yang ekstrem.

Untuk menghentikan laju abrasi, warga menanam mangrove berjenis bakau dan api-api di sepanjang pesisir Desa Karimunting tahun 2006. Sepanjang 2006-2008, masyarakat Karimunting berusaha mencari cara mempertahankan wilayah mereka dari ancaman abrasi. Namun, upaya itu selalu terhadang ombak besar saat pasang.

Ancaman abrasi tak hanya pada wilayah budidaya dan permukiman penduduk, tetapi juga jalan raya yang menjadi akses utama dari Kota Pontianak ke Kota Singkawang. Tahun 2008, proyek pemasangan beton pemecah ombak di sepanjang pesisir Kalbar bagian utara akhirnya sampai di Kecamatan Sungai Raya Kepulauan. Beberapa bulan setelah beton pemecah ombak terpasang, warga Karimunting mendapat dukungan dari sejumlah lembaga untuk memulai lagi penanaman mangrove.

Kini kemungkinan bakau dan api-api bisa hidup dan tumbuh sangat besar karena pada masa awal pertumbuhan, tanaman tak terganggu ombak. Selain ikut menanam, masyarakat juga diminta untuk memelihara dan menjaga tanaman itu.

Beberapa lembaga yang terlibat dalam penanaman bakau dan api-api di Karimunting, antara lain: WWF Indonesia Program Kalbar, LSM Pemuda Peduli Lingkungan, Sakawana, dan Direktorat Polisi Perairan Polda Kalbar.

Penanaman mangrove bukanlah hal yang mudah. Setelah mangrove ditanam, tahap yang sering dilupakan adalah pemeriksaan tanaman dan penyulaman jika ada tanaman yang mati.

Keterlibatan banyak lembaga dan peran aktif masyarakat memelihara mangrove berdampak baik di Karimunting. Mangrove bisa hidup dan tumbuh subur. Setelah tanaman bakau mulai hidup, tanaman api-api yang juga memiliki fungsi sama untuk menahan abrasi dan angin laut bisa tumbuh sendiri. Setelah tiga tahun, warga Desa Karimunting merasakan manfaat penanaman mangrove itu.

Tanaman bakau dan api-api di sepanjang pesisir Karimunting saat ini sudah setinggi 2-4 meter. Tanamannya juga sangat rapat sehingga permukiman penduduk terhindar dari embusan angin laut yang panas. Ada sekitar 5.000 penduduk tinggal di Karimunting. Ada tiga kampung yang permukimannya langsung berbatasan dengan pesisir, yakni Tengah Karimunting, Sinjun, dan Batu Payung.

Keberhasilan penanaman mangrove di Karimunting tidak saja mampu menyelamatkan kawasan permukiman penduduk dan jalan serta menahan angin laut dan abrasi. Masyarakat setempat bahkan mendapat manfaat ganda karena kawasan mangrove dan api-api jadi habitat biota laut berupa tungkuyung api-api.

Tulisan ini adalah rangkuman dari berita di Koran Kompas, 07 September 2012, berjudul ‘Benteng Hidup untuk Karimunting’