Peran Pengumpulan Data Bencana pada Gempa Nepal

Setelah gempa berkekuatan 7,8 SR menghantam Nepal pada Sabtu, 25 April 2015 pukul 11.56, sepasukan relawan bergerak dan bekerja sebagai bagian dari upaya bantuan. Relawan tersebut tidak berada di Nepal, tak juga mereka dalam perjalanan ke negeri di mana 8.583 orang terbunuh. Mereka adalah para relawan dari seluruh dunia yang menganalisis citra satelit dan berbagai data lain. Mereka membuat peta baru untuk membantu berbagai lembaga bantuan dengan informasi yang disusun bersama-sama.

Sampai beberapa tahun yang lalu, kerja bersama (crowdsourced) untuk merespon satu bencana dilakukan secara informal, tidak terkoordinir dan serampangan. Sekarang, crowdsourced sudah digunakan oleh lembaga kemanusiaan dan menjadi bagian dalam operasi bantuan. Hal tersebut dilakukan sebagai respon terhadap membeludaknya informasi yang diperoleh dari masyarakat terdampak pasca terjadinya suatu krisis atau bencana.

Jika gempa pada 25 April terjadi 10 atau bahkan lima tahun yang lalu, upaya tanggap darurat akan sangat berbeda. Saat itu, salah satu hambatan terbesar yang dihadapi oleh lembaga kemanusiaan adalah kurangnya informasi. Manakala bencana terjadi, tidak ada gambaran jumlah orang yang terdampak, seberapa parah, dan di mana lokasi mereka sampai dengan beberapa hari bahkan minggu kemudian.

Kini, ribuan orang di Nepal memiliki telepon genggam seiring dengan perkembangan jaringan telekomunikasi dan layanan internet di negeri tersebut. Berdasarkan data dari otoritas telekomunikasi di Nepal, pada tahun 2014 86 persen dari 28 juta penduduk Nepal memiliki telepon dan 30 persen di antara mereka memiliki akses internet.

Gangguan
Setelah gempa, terjadi gangguan pada layanan internet, data dari penyedia layanan menunjukkan lalu lintas data mengalami penurunan tajam dan bagi perusahaan layanan kecil jaringannya mati total. Di sisi lain, jaringan telepon tetap berfungsi, hampir 90 persen jaringan telepon mobile meskipun terjadi kepadatan namun masih tetap berfungsi.

Bersamaan dengan itu, hanya beberapa saat setelah goncangan berhenti, terjadi banjir pesan dan foto yang diunggah di Twitter dan Facebook melalui telepon pintar dan layanan 3G.

Berbagai postingan di media sosial tersebut memberikan gambaran hampir langsung bagaimana kondisi di lapangan. Informasi ini bagi petugas penolong pertama dan organisasi bantuan cukup membingungkan karena sudah berlebihan sementara waktu dan tenaga yang dimiliki sangat terbatas untuk memproses jutaan informasi tersebut.

Pada kondisi demikian, tantangannya adalah bagaimana memilah informasi yang banyak sekali jumlahnya di media sosial untuk kemudian mengkategorikannya dengan metode tertentu yang akhirnya dapat berguna bagi pertolongan kemanusiaan. Di sinilah kemudian masuk pekerja kemanusiaan digital yang bertujuan untuk mengubah tiap tulisan di sosial media menjadi satu daya yang sangat kaya.

Generasi baru dalam kerja kemanusiaan tersebut adalah ribuan relawan yang melek teknologi dari berbagai penjuru dunia yang secara fisik maupun maya. Mereka dipertemukan dalam krisis dan bekerja di tengah gunungan data untuk membantu berbagai lembaga kemanusiaan menyalurkan bantuannya.

Patric Meier, direktur Social Innovation pada Qatar Computing Research Institute, adalah salah seorang dari generasi baru yang dia sebut sebagai Humanitarian Jedis–merujuk salah satu tokoh pada film Stars Wars–telah bekerja dengan data yang sangat besar dan diperoleh dalam satu waktu tertentu. Salah satu teknologi yang ditemukannya adalah aplikasi untuk bekerja bersama yang dinamakan Micromappers.

Aplikasi tersebut membantu relawan untuk mengidentifikasi dan memetakan data dari media sosial yang bermanfaat dengan cara memecah tugas-tugas analisis yang besar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil, sebuah pekerjaan mini namun lengkap. Aplikasi lain diberi nama Clickers didesain untuk membantu relawan memberi tanda pada situasi/kata tertentu, pada gambar sampai dengan kategorisasi jumlah dan tipe kerusakan yang tampak seperti ringan, sedang, hingga tak relevan. Selain itu juga menandai kicauan yang berlokasi (geo-tag) dan gambar yang belum ber geo-tag. Pekerjaan ini dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja sehingga saat satu informasi berhasil diunggah, maka lebar pita internet bukan lagi menjadi kendala.

Pekerjaan micro (microtasking) bukanlah ide baru, inisiatif ilmu pengetahuan warga (citizen science initiatives) barangkali adalah yang paling sukses mengembangkan microtasking untuk tujuan yang bermanfaat. Galaxy Zoo sebagai contoh telah mampu menggerakkan ratusan ribu astronom amatur untuk memetakan daerah gelap di sudut angkasa sejak tahun 2007. Ratusan ribu gambar dari Teleskop Ruang Angkasa Hubble milik NASA digunakan oleh para ilmuwan yang diminta untuk membuat katalog galaksi atau menandai gambar bulan dan lantai bawah laut. Zooniverse, nama proyek dari Galaxy Zoo melibatkan 83.000 relawan dan telah mengkatalog 300.000 galaksi di bawah dua tahun.

Manakala Topan Pablo menghantam Filipina pada bulan Desember 2012, UN-OCHA meminta dukungan dari Micromappers dan jaringan kerja kemanusiaan digital yang lain untuk menganalisis aktivitas Twitter dan informasi pemetaan lain yang berkaitan.

Big Data

Relawan menganalisis 20.000 kicauan dalam 10 jam. Data mereka menjadi dasar dari peta krisis UN dan ditampilkan pula di halaman krisis peta Google Filipina. Setelah gempa Nepal, UN-OCHA kembali meminta dukungan dari Micromapper. Peta krisis kemudian berhasil dibuat berdasarkan gambar dan kicauan yang dianalisis, yaitu lebih dari 55.000 tulisan dan 234.727 gambar.

Data yang diperoleh itu kemudian dibagi ke Kathmandu Living Labs, sebuah lembaga nirlaba yang beroperasi dari gedung utuh yang tersisa di kota. Mereka menggunakan berbagai informasi dari internet untuk membuat peta dari wilayah terdampak dan kemudian menghubungkan dengan para pekerja bantuan seperti Palang Merah Nepal dan juga tentara Nepal, demikian disampaikan Direktur Eksekutif Nama Budhathoki.

Hasil kerjasama antara Kathmandu Living Labs dan Humanitarian OpenStreetMap berupa peta offline bagi para pekerja bantuan untuk menentukan posisi.

Bersamaan dengan itu, platform web eksperimental Verily digunakan untuk memverifikasi informasi yang diperoleh dari khalayak, seperti gambar dan pengiriman bantuan. Kegiatan itu dilakukan dengan menggunakan ‘detektif digital’ yang dikembangkan oleh para peneliti Masdar Institute of Technology dan Qatar Computer Research Institute. Verily membuat daftar orang untuk mengumpulkan dan menganalisis bukti-bukti untuk mengkonfirmasi atau menolak suatu laporan. Sebagai bentuk insentif, akan dihadiahkan poin atau peringatan kepada para distributor.

Pemetaan bersama sebagai bagian dari upaya tanggap darurat marak digunakan sejak gempa Haiti pada tahun 2010. Upaya pemetaan berkembang pesat sejak saat itu. Menurut Dale Kunce, kepala GIS dari Palang Merah Amerika, dua bulan setelah gempa Haiti, 600 kontributor pemetaan membuat 1,5 juta editan. Sementara itu pada 48 jam pertama setelah gempa Nepal terdapat 2.000 kontributor yang membuat 3 juta editan.

Kegiatan pemetaan lain pasca bencana dilakukan dari udara di atas zona terdampak. Banyak gambar yang dianalisis oleh para relawan untuk membuat peta krisis berasal dari Drones. Helicopter yang diawaki oleh manusia digunakan untuk upaya penyelamatan.Sementara itu, di tempat yang sulit dijangkau melalui jalur darat menggunakan drones. Hasilnya berupa gambar-gambar yang berisi informasi bentang alam yang terpencar, jalan yang retak, gedung rubuh, dan para pengungsi yang memenuhi lapangan-lapangan. Selain itu, sebuah UAV yang dikerahkan membawa kamera thermal berguna untuk menemukan korban yang masih terjebak dengan memindai suhu tubuh korban.

Drones juga digunakan oleh para wartawan untuk melaporkan dari lapangan. Berita termasuk yang ada di website memanfaatkan video untuk menceritakan kerusakan. Namun, dilaporkan juga pemerintah Nepal merasa terganggu dengan wartawan yang merekam jejak bencana menggunakan drones. Hal ini memicu kesadaran mengenai tersebarnya informasi yang sensitif seperti pada tempat-tempat bersejarah. Pemerintah melaran UAV yang terbang kecuali untuk keperluan kemanusiaan.

Pada saat bencana, koordinasi tak pernah lebih mudah dan selalu menjadi tantangan. Meier menulis di blognya Irevolution, “Pemanfaatan teknologi baru dalam tanggap darurat bencana juga menjadi satu tantangan.”

Hal itu akan terus menjadi tantangan manakala di dunia yang makin terhubung ini pertolongan berdatangan dari berbagai penjuru, meskipun apabila bencana terjadi di negeri yang jauh. Lembaga bantuan dalam gempa Nepal memandang pengoperasian kembali jaringan komunikasi sangatlah penting dalam pertolongan kemanusiaan. Upaya yang memungkinkan warga lokal dan pekerja kemanusiaan untuk melakukan panggilan telepon, mengirimkan SMS dan juga mengakses internet menjadi krusial.

Di Nepal, sejumlah peralatan diturunkan untuk memperbaiki jaringan komunikasi yang rusak.

WFP bekerja sama dengan Pemerintah Luxembourg, perusahaan telepon Ericsson, dan Nethope, sebuah jaringan NGO, telah membangun antena untuk data mobile yang cukup kecil untuk dibawa ke pesawat komersial. “Benda itu terlihat seperti bola pantai” Kata Mariko Hall dari WFP. Lebih lanjut beliau mendeskripsikan mereka sebagai, ‘dapat ditiup, ringan, dan cepat digunakan’. Peralatan tersebut bekerja seperti jaringan wifi, menyediakan koneksi internet untuk tim yang bekerja di daerah terpencil manakala jaringan yang ada rusak.

Yayasan Vodafone mendukung di Lembah Kathmandu dengan ‘Jaringan Instan Mini’ yang ada di dalam tas ransel. Berat tas hanya 11 kg sehingga peralatan tersebut dapat dibawa dengan berjalan kaki ke lokasi yang sulit dijangkau dengan kendaraan. Guna menyiapkan peralatan hingga dapat digunakan hanya memerlukan waktu 10 menit dan berdaya bateri. Alat ini dapat menghubungkan hingga lima pengguna dalam waktu bersamaan ke jaringan global dan memungkinkan dikirimkannya ribuan pesan.

Sebuah organisasi nirlaba lain Galway-based Disaster Tech Lab yang memiliki spesialisasi layanan berbasis IP dan akses wifi di daerah krisis ikut meluncurkan misi di Nepal. Sebelumnya mereka telah bekerja di berbagai daerah bencana seperti Filipina di mana para relawannya memasang titik akses wifi di pos komando yang kemudian menjadi penghubung jaringan dan komunikasi regional. Manakala makin banyak relawan yang datang, mereka menyediakan berbagai dukungan seperti peralatan untuk layanan ambulance dan menyiapkan klinik kesehatan.

Raksasa teknologi seperti Google dan Facebook juga tak ketinggalan ikut berperan saat terjadi bencana di Nepal. Bagi mereka yang ingin mengetahui nasib kerabat atau sahabat dibantu oleh Google dengan program ‘Person Finder’. Peralatan pencarian ini dikembangkan setelah gempa Haiti pada tahun 2010. Setiap orang akan memasukkan informasi pribadi seperti nama, jenis kelamin, usia, alamat, foto, dan profil media sosial dan mereka akan menerima pemberitahuan manakala orang lain melakukan update.

Facebook sendiri telah meluncurkan fasilitas ‘Safety Check’ yang mengirimkan pesan ke warga dan para pekerja kemanusiaan di Nepal, mendorong mereka untuk mengeklik tombol di FB sehingga teman-teman mereka mengetahui keselamatan pengguna.

Sumber tulisan: http://www.irishtimes.com/business/technology/how-data-gathering-has-helped-in-nepal-1.2219588

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *