Peran GIS dalam Penanggulangan Bencana

Susan Cutter, profesor geografi dari Universitas South Carolina, mendiskusikan bagaimana GIS digunakan dalam penanggulangan bencana, serta perannya untuk menjawab pertanyaan ‘kenapa’ dan ‘di mana’ ketika kita bekerja dengan peta.

Susan L. Cutter adalah profesor bidang geografi terkemuka di Universitas South Carolina. Di sana, beliau menjadi direktur dari Institut Bahaya dan Kerentanan. Ketertarikan beliau pertama-tama adalah pada ilmu kerentanan/ketangguhan menghadap bencana. Beliau mengukur faktor apa saja yang menyebabkan suatu lingkungan tempat hidup manusia menjadi begitu rentan karena satu kejadian ekstrem, serta bagaimana jalan keluar, monitoring, dan penilaian dilakukan.

Cutter adalah ‘guru’ pemetaan bahaya menggunakan GIS yang mendukung fungsi manajemen penanggulangan bencana. Saya memberikan kepadanya beberapa pertanyaan mengenai pemetaan dan memintanya menjawab melalui tulisan. Dalam tanggapannya, Cutter kembali mengingatkan pentingnya bertanya ‘kenapa dan di mana’ ketika kita melihat peta.

Bagaimana evolusi pemetaan bencana di AS serta bagaimana bila dibandingkan dengan proses serupa di negara lain?

Pemetaan bencana memiliki sejarah panjang di AS. Bila kita melihat ke belakang pada tahun 1960, Gilbert F. White ‘memaksa’ kita bukan hanya sekadar melihat lokasi bahaya mungkin terjadi, namun juga di mana manusia tinggal dan bekerja serta hubungannya dengan risiko bencana. Hal ini kemudian disebut sebagai ‘penguasaan manusia pada area bahaya’. Pemetaan bencana menunjukkan kepada kita bahwa kita tak pernah bisa benar-benar mengontrol alam.

Proses pemetaan sendiri telah berubah, bukan hanya berfokus pada kejadian bencana (sebagai model proses fisik), namun lebih menitikberatkan pada interaksi antara manusia dan lingkungannya. Amerika, karena keanekaragaman ancaman bencananya, maka menjadi pelopor dalam pemetaan bahaya serta dalam menggabungkan berbagai peralatan/aplikasi, seperti GIS, penginderaan jauh, GPS ke dalam siklus manajemen darurat.

Selain pemetaan bahaya banjir, daerah terdampak gempa, dan sejenisnya, menurut Anda apa peran lain GIS untuk manajer penanggulangan bencana?

GIS bukan hanya proses pemetaan itu sendiri. Sistem ini juga mencakup analisis, manajemen data, dan alat untuk visualisasi. GIS dapat digunakan untuk peningkatan kewaspadaan, menentukan lokasi suatu aset sebelum bencana terjadi, mengetahui hubungan antara keterpaparan bencana dan kerentanan sosial yang menjadi bagian dari rencana mitigasi bencana. Pemodelan dan simulasi menggunakan GIS memungkinkan pengambil keputusan untuk melakukan geladi tanggap darurat dan rehabilitasi pada masa damai tidak terjadi bencana. Selain itu, para pemimpin juga dapat mengetahui berbagai kemungkinan situasi yang harus dihadapi apabila bencana benar-benar terjadi. Lebih khusus, jika Anda memiliki data yang dapat dipetakan, dianalisis, dan digunakan, maka keputusan yang diambil pun dapat lebih baik.

Hal terbaik yang dapat dilakukan oleh manajer penanggulangan bencana adalah mengidentifikasi lembaga terkait di tingkat lokal yang dapat membantu pemetaan dan analisis kebutuhan. Lembaga tersebut terdiri dari komunitas pendidikan lokal atau universitas. Hal ini dapat diawali dengan penilaian bahaya oleh pihak lokal atau negara bagian yang melibatkan kualifikasi dan kepakaran para ahli bencana. Pilihan lainnya adalah melalui dinas perencanaan lokal dan dewan pertimbangan pemerintah. Fokus kegiatan adalah pada proses perencanaan, sementara pekerjaan mereka sendiri berkaitan dengan topik manajemen bencana seperti mitigasi bencana dan penilaian risiko.

Terdapat bermacam-macam data sosial, mulai dari informasi usia, pendapatan, etnisitas yang bersumber dari sensus AS atau data yang didapatkan dari sosial media. Data tersebut dapat digunakan untuk mengetahui lokasi anggota masyarakat yang rentan dan berkebutuhan khusus. Dengan mengetahui kerentanan sosial tersebut, maka dapat membantu mengidentifikasi populasi mana yang membutuhkan bantuan, sehingga bisa disiapkan respon dan upaya pemulihan pasca bencana.

Data yang diperoleh dari sosial media saat ini digunakan untuk menyebarluaskan pesan dan informasi dari institusi penanggulangan bencana melalui pendekatan top-down. Beberapa metode digunakan dalam penelitian untuk memanfaatkan ‘warga sebagai sensor’ guna menciptakan gambaran yang lebih realistis mengenai situasi kewaspadaan sehingga bisa membantu para pengambil keputusan.

Pemilihan software yang digunakan berdasarkan sumberdaya dan keahlian yang tersedia. Jika Anda tak punya seseorang dengan keahlian GIS, maka tak perlu software ESRI yang sangat lengkap. Dalam kondisi tersebut, menggunakan data yang tersedia secara online adalah pilihan paling tepat. Di lain pihak, web-mapping, pengumpulan dan analisis data secara mobile, serta pemodelan desktop menggunakan software ESRI saat ini telah terjangkau dan sangat bermanfaat untuk pengguna dengan keahlian rata-rata seperti saya.

Anda dan universitas mendukung Divisi Manajemen Bencana South Carolina (SCEMD). Menurut Anda, apakah orang lain dapat melakukannya juga? Jika memang bisa, apa mekanisme yang paling tepat untuk negara bagian dan universitas saat akan menjalin kemitraan?

Kemitraan yang kami bentuk dengan SCEMD sangatlah menguntungkan, para siswa dapat mempraktikkan ilmu yang diperolehnya dalam dunia kerja; SCEMD mendapatkan dukungan secara keilmuan dalam program-program mereka serta di beberapa persoalan dapat menjadi model untuk negara bagian lainnya. Ini adalah win-win solution. Tiap negara bagian akan mempunyai mekanisme yang berbeda-beda dalam menjalin kemitraan. Tidak semua manajer penanggulangan bencana menerima, demikian juga tak semua universitas akan menyambutnya. Kuncinya adalah mengidentifikasi mereka yang bersedia bekerja bersama untuk mencapai tujuan dan mengawalinya dari sana. Jika ada kemauan untuk bekerja bersama demi kemajuan negara bagian, maka mekanisme dapat disusun untuk menjalin kerja sama.

Teknologi mobile terkini seperti smartphone atau tablet dengan didukung oleh internet berkecepatan tinggi telah merevolusi metode kita untuk mengakses data. Menurut Anda, apa dampak hal ini pada pemetaan menggunakan komputer, bagaimana kita harus beradaptasi terutama untuk tujuan penanggulangan bencana?

Teknologi tersebut telah merevolusi penanggulangan bencana dan pemetaan. Sebagai contoh, saat ini kita mengumpulkan data lapangan untuk rehabilitasi menggunakan iPad dan secara langsung mengunggah datanya ke cloud atau server kami di universitas. Perkembangan teknologi ini bukan hanya memangkas waktu pemrosesan dan juga kekeliruan, namun juga dapat memetakan secara lebih cepat. Data kerusakan secara real time dapat dikumpulkan menggunakan metode ini untuk keperluan penanganan pasca bencana, artinya data detil penilaian kerusakan dapat dibuat dalam hitungan jam dan bukan hari. Apabila data-data tersebut masih ditambah data sensor warga yang diperoleh dari sosial media, maka data kerusakan dan upaya yang sumbernya dari masyarakat dapat menjadi kenyataan.

Social media terus meningkat penggunaannya, sehingga memengaruhi aktivitas sehari-hari warga. Secara umum, apa keuntungan dari proses pemetaan yang memanfaatan sosial media untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat?

Di dalam peralatan mobile terdapat geocoding. Saat ini kita dapat melihat apa yang sedang hangat dibicarakan di twitter serta lokasi pengiriman twitter tersebut. Peta yang memanfaatkan percakapan di twitter dan lokasinya dapat memberikan gambaran yang lebih baik mengenai kewaspadaan, dampak, dan status warga di lokasi terdampak. Hal ini lebih baik daripada menggunakan pendekatan top-down. Bidang ini menjadi sangat menarik dan belum banyak dilakukan penelitian.

Anda telah memberikan saran yang sangat bagus mengenai pemanfaatan GIS untuk meningkatkan upaya penanggulangan bencana. Apa kekeliruan yang biasanya dilakukan oleh seseorang saat menggunakan GIS untuk penanggulangan bencana serta apa langkah yang harus dilakukan untuk menghindari kesalahan tersebut?

Salah satu isu terbesar adalah menyangkut kartografi (seni dan pengetahuan untuk membuat peta). Seseorang yang hanya berlandaskan pengetahuan menggunakan perangkat lunak GIS, maka belum memahami dasar-dasar relasi spasial. Mereka masih perlu bertanya lebih lanjut mengenai ‘apa dan di mana’ saat melihat peta. Peta misalnya menunjukkan distribusi shelter dan kepemilikan, namun pertanyaan selanjutnya adalah ‘kenapa ada shelter yang ditinggali dan ada yang tidak?’ Selain itu, seorang personel GIS harus memahami penggunaan klasifikasi dan simbolisasi yang tepat untuk menghindari kesalahan interpretasi atau menampilkan data yang tidak relevan.

Apakah ada hal lain yang ingin Anda tambahkan?

Sebagai pribadi dan profesional, menurut saya sangat penting suatu penelitian digunakan untuk meningkatkan kondisi umat manusia, praktisi hendaknya menyediakan dasar-dasar empiris untuk mendukung kebijakan publik. Anda dapat mengetahui lebih jauh mengenai aktivitas kami dengan mengunjungi website HVRI di www.webra.cas.sc.edu/hvri.

Pewawancara adalah Eric Holdeman, kontributor untuk Emergency Managemeng, beliau adalah mantan Direktur Kantor Emergency Management King County, Washington.

Sumber tulisan dari sini

1 thought on “Peran GIS dalam Penanggulangan Bencana”

  1. strategi penanggulangan bencana adalah mengidentifikasi lembaga terkait di tingkat lokal yang dapat membantu pemetaan dan analisis kebutuhan ini mungkin cukup efektif jika dilakukan secara mendetail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *