Peran Data dalam Bencana Kemanusiaan

Data-analysis-image-for-blip

Oleh Lisa Cornish

Bagi lembaga kemanusiaan non pemerintah yang bekerja untuk membantu bencana, maka big data dan open data bukan sekadar omong kosong. Keduanya adalah kebutuhan manakala ingin menyelamatkan nyawa.

Pembelajaran dari World Vision International (WVI), ketersediaan data yang bisa ditarik dan dibagi-bagikan telah menyelamatkan nyawa ketika Cyclone Pam menerjang Vanuatu pada bulan Maret lalu. Lembaga ini telah bekerja di negeri itu sejak tahun 1980-an dan memasukkan kegiatan pengumpulan data sebagai bagian penting selama proses perencanaan dan pelaporan. Namun, tak hanya dalam kegiatan itu saja, WVI juga memasukkan kegiatan pengumpulan dan penyusunan data baik itu demografi, infrastruktur dan lingkungan.

Data menjadi sangat penting bukan hanya untuk menganalisis keberhasilan sebuah program, namun juga digunakan untuk menghitung sumber daya yang diperlukan manakala kondisi darurat terjadi.

Andrea Swinburne-Jones, manajer komunikasi WVI percaya, ketersediaan dan penggunaan data telah membantu menghitung jumlah korban, yaitu 11 orang meskipun Cyclone Pam tercatat sebagai salah satu cyclone terburuk dalam sejarah. Kerja lapangan untuk meyakinkan komunitas, pemerintah, dan NGO untuk mengurangi korban jiwa dan juga tidak adanya korban luka adalah harapan yang realistis. Ketersediaan data untuk merencanakan, menyiapkan, dan merespon telah mendukung proses itu.

Media online Rappler yang berbasis di Filipina meluncurkan Proyek Agos pada tahun 2013. Proyek ini adalah sebuah platform yang mengkombinasikan informasi dari pemerintah dan masyarakat untuk membantu adaptasi terhadap perubahan iklim dan juga pengurangan risiko bencana. Sebagai bagian dari kegiatan itu, sebuah aplikasi berupa peta untuk peringatan dini dibangun untuk memaksimalkan aliran data yang penting pada fase sebelum, selama, dan setelah bencana terjadi.

Rappler membangun proyek ini sejak tahun 2010 dan sekarang sudah berkembang sangat pesat serta mendapat dukungan dana dari berbagai sumber termasuk pemerintah Australia.

Apa saja pelajaran yang dapat dipetik dari WVI dan Rappler bagi organisasi kemasyarakatan yang ingin terlibat dalam revolusi penggunaan data sebagai alat untuk merespon bencana dan situasi darurat?

Menyiapkan penanggulangan bencana dengan data

Pengumpulan data sangat membantu WVI untuk menyiapkan proposal pendanaan kegiatan pengurangan malaria yang akan dilaksanakan di Tafea, salah satu provinsi di Vanuatu. Setelah Cyclone Pam, data yang sama dimanfaatkan untuk memperlihatkan daerah-daerah yang membutuhkan bantuan kepada NGO internasional.

Sementara itu, untuk Proyek Agos, nilai penting data adalah untuk membangun komunitas. Salah satu kegiatannya adalah melatih masyarakat di lapangan untuk menggunakan sosial media dan berbagai aplikasi untuk mengakses informasi sebelum, selama, dan setelah bencana. Namun, keuntungan lainnya adalah memanfaatkan teknologi terkini dan terbangunnya komunitas online ahli di bidang itu.

“Masyarakat harus dijalin agar bersama-sama berbagi pengetahuan  mengenai bencana alam.” Gemma Mendoza, yang bertugas menghubungkan Editor Rappler dan Tim Teknis berbicara kepada Devex. “Membangun komunitas facebook yang mengumpulkan para pemimpin penanggulangan bencana, ilmuwan, dan NGO telah membantu untuk berbagi pengetahuan. Teknologi membantu menghubungkan orang-orang dan memfasilitasi kerja sama.

Berbagi data dan pelibatan komunitas sangatlah penting 

Sebagai bagian dari Team Kemanusiaan Vanuatu, yang terdiri dari Adventist Development and Relief Agency, CARE, Oxfam, Save the Children, make WVI bekerja sama dengan Pemerintah Vanuatu mengidentifikasi dan memberikan respon yang tepat setelah terjadinya bencana.

Dalam merespon Cyclone Pam, Swinburne-Jones percaya bahwa kemampuan lembaga untuk bekerja bersama dalam membangun dukungan kepada masyarakat telah menyelamatkan nyawa.

“Barangkali Anda mendengar tentang NGO yang tidak bekerja sama, namun itu tidak benar, kami bekerja bersama-sama dengan semua lembaga yang hadir.” Kata Jones.

Berbagi data sangatlah penting dalam proses ini. Sepanjang minggu pertama, tiap organisasi melakukan penilaian situasi secara cepat (rapid assessment) di wilayah tempat kerja mereka.

“WVI mempelajari data penilaian dari lembaga lain seperti WFP dan lembaga bencana Vanuatu yang dapat diakses publik. Data-data tersebut dibagi dari lembaga ke lembaga atau melalui situs HumanitarianResponse.info.” Demikian keterangan tambahan dari Jones.

HumanitarianResponse.info adalah platform yang disediakan oleh UN-OCHA sebagai sarana untuk membantu lembaga-lembaga dalam mengkoordinasikan kerja-kerja mereka di lapangan. Dalam situs tersebut, tersedia informasi respon bencana Cyclone Pam dalam sistem pengelompokan atau klaster pada lima wilayah kerja: pendidikan, ketersediaan pangan, kesehatan dan nutrisi, air, sanitasi, dan higienis.

Data jalan, aksesibilitas, dan jumlah penduduk dari pemerintah digabung dengan data yang dikumpulkan oleh NGO seperti WVI yang sedianya digunakan untuk proyek Malaria.

Data tersebut tadinya tidak tersedia secara bebas, namun sangat berguna untuk mengetahui jumlah penduduk per desa yang dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin dan usia, serta digunakan juga untuk peta perencanaan distribusi logistik. Akhirnya, banyak data dan peta-peta yang tersedia.” Demikian keterangan Jones.

Sementara itu di Proyek Agos, informasi yang datang dari masyarakat sangatlah penting bagi para pengambil kebijakan dan sebaliknya dari pejabat kepada masyarakat.

“Ini adalah lalu lintas dua arah. Melalui sarana online, kita dapat mengetahui apa yang terjadi di lapangan saat itu juga dari media sosial dan meneruskannya kepada para petugas. Demikian informasi dari Mendoza.

Mencari jalan terbaik untuk penyebarluasan informasi

Data dari World Bank menunjukkan bahwa pada tahun 2013, rata-rata rasio pemilik hand phone berlangganan adalah 105 per 100 orang. Berdasarkan data ini, maka bila menyangkut penyebarluasan informasi, maka solusi yang melibatkan telepon genggam adalah jaminan dapat mencapai seluruh populasi.

“Tujuannya adalah bagaimana agar informasi bisa diteruskan ke warga yang berada di ujung-ujung negeri,” kata Mendoza. “Hampir setiap orang Filipina memiliki telepon genggam. Maka, mengirimkan informasi melalui SMS atau memastikan adanya informasi publik yang bersahabat adalah sangat penting.”

Kondisi berbeda terjadi di Vanuatu, di sana hanya ada 50 telepon genggam per 100 orang. Lebih lagi manakala terjadi Cyclone Pam, nfrastruktur yang ada tidak memadai untuk mengirimkan informasi.

“Kami menduga telepon genggam akan mati selama terjadinya Cyclone, sehingga telepon satelit harus disiapkan.” Kata Swinburne Jones. “Guna mengirimkan pesan-pesan khusus ke masyarakat, rencananya adalah dengan menggunakan radio.”

Pentingnya menjalin kerja sama

Baik Mendoza atau Swinburne-Jones setuju bahwa hubungan kerja sama adalah sangat penting untuk mengumpulkan dan berbagi data guna kegiatan penanganan darurat.

Setelah bekerja selama 30 tahun di Vanuatu, World Vision telah memiliki hubungan yang kuat dengan masyarakat dan pemerintah. Hasilnya, pengumpulan dan komunikasi data untuk mereka yang terdampak menjadi lebih mudah.

“Kami telah mengenal masyarakat dan pemerintah,” kata Swinburne Jones. “Memiliki pengalaman sebelumnya maka kita tidak perlu menjelaskan berulang-ulang siapa diri kita dan apa yang kita kerjakan. Kita dapat menyebarluaskan informasi dengan mudah untuk melaksanakan kegiatan.”

Pada kasus Cyclone Pam, sangatlah mudah bagi WVI untuk menemukan institusi mana yang menyediakan update data-data pemerintah. Selain itu, mereka juga dapat bekerja bersama dengan pemerintah untuk mendapatkan data yang lebih baik.

Dalam proyek Agos juga disadari pentingnya kerja sama dan dilakukan untuk menjamin hubungan yang erat dengan pemerintah dan masyarakat. Pada masa darurat, tim dari Proyek Agos akan bekerja di pusat operasi (pusdalops) dengan pihak lainnya.

Mendoza berkata, “Sekarang lebih baik daripada dua tahun yang lalu ketika pemerintah tidak melihat arti penting dari media sosial.”

Pentingnya capaian akhir

Kebutuhan dan ketersediaan data menyebabkan pekerjaan penanggulangan bencana di negara berkembang menjadi lebih mudah. di Filipina, pemerintah mewujudkannya dalam kebijakan open data, hasilnya lebih banyak data yang mudah diakses dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat seperti dalam proyek Agos.

Pertumbuhan teknologi juga berperan dalam membantu pengumpulan data dan penyebarluasannya yang memungkinkan response yang lebih baik di masa mendatang.

Kendati capaian memang sudah banyak, namun pekerjaan besar masih menanti yaitu bagaimana melatih masyarakat yang merupakan korban dan aktor pertama setelah bencana terjadi.

Sumber artikel (Article Source): Devex

https://www.devex.com/news/data-in-action-the-role-of-data-in-humanitarian-disasters-86565#comment-2152224343

This article was translated and reprinted with permission from Devex.

Sumber gambar (Picture Source): Greenbookblog.org.

1 thought on “Peran Data dalam Bencana Kemanusiaan”

  1. Baik di Indonesia atau di luar negeri, rasa peduli kemanusiaan semakin terkikis, namun berbagai lembaga kemanusiaan atau NGO meskipun tumbuh kecil namun bisa menjaga kesadaran dan berperan di garis depan dalam masalah membantu kemanusiaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *