Pelajaran dari Bencana Nepal

Ribuan lagi warga Nepal dapat menjadi korban di masa depan dan negara tersebut dapat kembali mengalami kemiskinan jika pemerintah dan komunitas internasional tidak belajar dari kejadian bencana yang lalu.

Katie Peters, seorang peneliti pada Overseas Development Institute (ODI) dalam The Guardian mengatakan bahwa kendati sebuah proses perbaikan sekolah dan rumah sakit juga pelatihan kepada masyarakat bagaimana menghadapi gempa telah dilakukan, namun masih perlu upaya mitigasi bencana alam yang mungkin terjadi di masa depan.

Peters yang bekerja bersama Pemerintah Nepal dalam pengurangan risiko mengatakan bahwa kegagalan berinvestasi untuk pembangunan yang lebih baik –building back better– dalam bentuk peningkatan infrastruktur dan memastikan setiap orang telah bersiaga menghadapi gempa justru akan sangat mahal harganya. “Akan selalu terjadi peningkatan baik itu dalam jumlah korban maupun kerugian akibat bencana. Hal itu adalah kenyataan dan akan makin mahal pula bagi komunitas internasional.”

Peters mengatakan bahwa keinginan untuk segera melakukan rekonstruksi hendaknya tak mengabaikan sisi perencanaan yang baik. “Selalu ada pertentangan antara keinginan untuk segera membangun dan memastikan bahwa perlu dilakukannya berbagai pertimbangan mengenai segala bencana yang harus dihadapi Nepal serta meyakinkan bahwa tidak ada risiko di belakang tiap upaya rekonstruksi.”

“Jika membangun sekolah dan rumah sakit, maka harus dipastikan bahwa bangunan tersebut dapat menghadapi gempa pada skala yang sama.” Demikian imbuh Peters dalam keterangannya.

Fokus pada pengurangan risiko menjadi kepentingan setiap orang bukan saja hal ini dapat menyelamatkan masa depan ribuan warga Nepal, namun yang lebih penting lagi, hal tersebut dapat menghemat jutaan poundsterling biaya yang harus dikeluarkan oleh komunitas internasional. “Statistik menunjukkan biaya yang digunakan untuk upaya tanggap darurat adalah lima kali pembiayaan untuk kesiapsiagaan dan upaya pengurangan dampak bencana,” kata Peters.

“Setiap dollar yang dihabiskan untuk upaya kesiapsiagaan akan menghemat delapan dollar yang digunakan untuk tanggap darurat, bukti hal ini sudah begitu nyata. Ada begitu banyak perhatian yang diberikan pada upaya tanggap darurat bencana, namun pada saat yang sama sebagai lembaga donor kita harus memastikan bahwa dukungan terhadap masyarakat dan pemerintah tetap berlangsung sebelum bencana lain datang, sehingga bukan hanya manakala bencana terjadi saja, namun juga pada saat sebelum terjadi bencana.” Panjang lebar Peters memberikan penjelasan.

Kendati gempabumi sudah lama diprediksi, namun sebuah kejadian bencana hendaknya menjadi satu alarm yang membangkitkan kesadaran kita bersama akan pentingnya investasi pada saat bencana belum terjadi. Selain itu, komunitas lokal juga harus diberdayakan karena mereka ini adalah pusat dari berbagai upaya penanggulangan bencana. Mereka ini yang harus menggali saudara-saudaranya dari reruntuhan pada 24 jam pertama sebelum berbagai bantuan datang.

Komunitas internasional juga mestinya belajar dari penanganan gempabumi di Haiti pada tahun 2010. Saat itu banyak donor yang dikritisi karena menyalurkan bantuannya pada lembaga-lembaga atau NGO yang besar alih-alih pada organisasi lokal Haiti. Pasca kejadian tersebut, di Nepal kini masyarakat internasional lebih mendorong peran masyarakat atau organisasi dan pemerintah lokal dalam upaya tanggap darurat. Hal inilah yang justru akan terus berkelanjutan. “Jika Anda mengembangkan kapasitas masyarakat, organisasi, dan pemerintah lokal, maka impian besarnya adalah pada masa yang akan datang mereka dapat mandiri dan tak memerlukan bantuan internasional.” Demikian pungkas Peters dalam keterangannya.

Sumber tulisan: http://www.theguardian.com/global-development/2015/apr/29/nepal-earthquake-disaster-response-risk-management

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *