PBB: “Luar Biasa” Dampak Iklim

Laporan oleh PBB menyatakan, “Dampak dari perubahan iklim adalah ‘parah, meluas, dan tak dapat dihindari’.”

Ilmuwan dan pejabat yang melakukan pertemuan di Jepang menyimpulkan bahwa dokumen tersebut saat ini adalah yang paling lengkap untuk mengkaji dampak perubahan iklim di dunia. Beberapa dampak perubahan iklim adalah peningkatan risiko bencana banjir, perubahan hasil pertanian, dan ketersediaan air.

Manusia mungkin bisa beradaptasi dengan beberapa perubahan tersebut, namun hanya untuk jangka pendek. Salah satu contoh adaptasi adalah dengan membangun infrastruktur seperti tembok atau tanggul laut untuk melindungi dari banjir. Contoh lain yaitu dengan irigasi yang lebih efisien untuk petani di daerah yang mengalami kelangkaan air.

Sistem alami saat ini harus menanggung beban dari perubahan iklim yang terjadi, namun dampak pada manusialah yang paling mengkhawatirkan. Anggota panel PBB untuk iklim mengatakan, laporan ini menyediakan banyak bukti untuk dampak yang terjadi.

Kesehatan, rumah, makanan, keamanan kita terancam oleh meningkatnya suhu, demikian dilaporkan.

Laporan tersebut merupakan kesepakatan yang dicapai setelah melalui diskusi yang panjang di antara para ahli di Yokohama. Di dalamnya termasuk perhatian dari berbagai penulis yang menyumbangkan pemikirannya di dalam dokumen. Ini adalah seri kedua dari laporan IPCC yang diterbitkan tahun ini dan khusus menyoroti penyebab, dampak, dan solusi dari pemanasan global.

Laporan untuk para pemangku kepentingan ini menyoroti berbagai fakta yang terdiri dari bukti-bukti dari para peneliti mengenai dampak dari pemanasan yang meningkat dua kali lipat sejak laporan terakhir pada tahun 2007. Selain mencairnya es dan pemanasan permafrost (lapisan tanah beku) di daerah kutub, laporan tersebut juga menggarisbawahi fakta bahwa di semua benua dan samudera terjadi perubahan iklim yang berdampak pada sistem alami dan manusia pada beberapa dekade terakhir.

Menggunakan kata dalam laporan tersebut, “Pemanasan yang meningkat telah memicu dampak yang parah, meluas, dan tak dapat dihindari.”

“Siapapun di planet ini akan terkena dampak dari perubahan iklim.” Kata Rajendra Panchauri dalam konferensi pers-nya dihadapan wartawan di Yokohama.

Dr. Saleemul Huq, seorang penulis untuk salah satu bab berkomentar, “Sebelumnya kita tahu hal ini telah terjadi, namun sekarang kita punya banyak bukti bahwa hal tersebut sedang terjadi dan nyata.”

Michel Jarraud, sekretaris jenderal Organisasi Meteorologi Dunia, mengatakan bahwa sebelumnya manusia bisa mengabaikan iklim bumi, namun saat ini pengabaian bukanlah alasan yang bagus. Jarraud mengatakan, laporan ini disusun dengan mengkaji lebih dari 12.000 penelitian ilmiah. Dia bilang, “Ini adalah dokumen terlengkap yang bisa Anda dapatkan dari berbagai disiplin ilmu.”

Sekretaris Negara Amerika Serikat, John Kerry berkomentar, “Bukti dari berbagai penelitian menunjukkan iklim dan hidup kita dalam bahaya, kecuali kita bertindak secara dramatis dan cepat. Penolakan terhadap bukti-bukti tersebut adalah kekeliruan.” Beliau menambahkan, “Tidak ada satu negara yang menyebabkan pemanasan global dan tak ada satu pun negara yang mampu menghentikannya. Namun, kita harus menyesuaikan tindakan yang diambil dengan perhitungan-perhitungan ilmiah.

Ed Davey, Sekretaris Energi dan Iklim di Inggris mengatakan, “Bukti ilmiah telah dengan jelas menunjukkan, perubahan iklim akan berdampak pada berbagai aspek kehidupan kita. Masalah kesehatan, ketahanan pangan, dan pertumbuhan ekonomi. Banjir di Inggris baru-baru ini adalah penanda bahwa kerusakan yang disebabkan oleh perubahan iklim dapat terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.”

Laporan tersebut berisi detail dampak jangka pendek pada sistem alami dalam 20 sampai 30 tahun ke depan. Di sana dijelaskan lima alasan yang harus diperhatikan seiring dengan pemanasan yang telah terjadi di dunia. Hal ini termasuk ancaman pada sistem yang khusus seperti di lautan es Arktik dan terumbu karang, di mana risiko peningkatan suhu sangat tinggi , yaitu sekitar 2 derajat celcius. Ringkasan laporan menyoroti dampak di lautan dan pada sistem air tawar. Lautan akan lebih asam dan mengancam terumbu karang serta berbagai spesies yang hidup di sana. Di darat, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan species yang lain akan mulai berpindah ke daerah yang lebih tinggi atau ke kutub seiring dengan meningkatnya suhu.

Demikian juga manusia, akan merasakan peningkatan dampak seiring berjalannya waktu. Ketahanan pangan menjadi satu hal yang sangat diperhatikan. Hasil pertanian untuk jagung, padi, dan gandum adalah sumber pangan utama sampai tahun 2050, namun sekitar sepersepuluh dari perkiraan menunjukkan kerugian hingga 25%. Setelah tahun 2050, terjadi peningkatan risiko pada hasil panen yang kian mengkhawatirkan seiring dengan dampak ledakan dan kegagalan di banyak wilayah. Sementara itu, permintaan akan pangan terus meningkat karena populasi dunia mencapai angka 9 milyar.

Banyak jenis ikan, sumber pangan yang penting bagi banyak orang juga akan berpindah karena air semakin hangat. Di beberapa bagian wilayah tropis dan Antartika, tangkapan yang potensial menurun hingga lebih dari 50%.

“Ini adalah penilaian yang wajar.” Kata Prof Neil Adger dari Universitas Exeter, salah seorang penulis yang lain. “Di masa depan, risiko akan meningkat pada manusia, dampak pada tanaman, dan ketersediaan air dan terutama pada kejadian ekstrem yang berdampak pada manusia dan mata pencahariannya.”

Manusia akan terdampak oleh banjir dan gelombang panas yang menyebabkan kematian. Laporan tersebut memperingatkan akan adanya risiko baru, termasuk ancaman bagi mereka yang bekerja di luar seperti petani atau pekerja konstruksi. Perhatian terhadap hubungan antara proses migrasi dengan perubahan iklim juga meningkat, termasuk pada konflik dan keamanan nasional.

Maggie Opondo, salah seorang penulis dari Universitas Nairobi mengatakan bahwa, di tempat seperti Afrika perubahan iklim dan kejadian ekstrem berarti masyarakat yang makin rentan dan makin tenggelam dalam kemiskinan.

Ketika negara miskin lebih terdampak dalam jangka pendek, di sisi lain negara maju pun tak bisa melepaskan diri. “Negara kaya sudah semestinya memikirkan perubahan iklim. Kita sudah melihat hal itu terjadi di Inggris dengan banjir yang terjadi beberapa bulan lalu serta badai yang melanda Amerika dan kekeringan yang terjadi di California.” Dikatakan oleh Dr. Hug. “Ini adalah kejadian dengan kerugian jutaan trilyun dollar yang harus dibayar oleh negara maju, sementara di satu sisi mereka punya keterbatasan anggaran untuk membiayai itu semua.”

Namun, hal tersebut belum seberapa, seperti yang dikatakan oleh seorang penulis laporan. “Saya kira hal baru yang ada dalam laporan ini adalah ide untuk mengatasi perubahan iklim sebagai suatu persoalan dalam mengelola risiko.” Dikatakan oleh Dr. Chris Field. “Perubahan iklim sangat penting dan kita memiliki berbagai peralatan untuk secara efektif mengatasinya, namun kita harus lebih pintar.”

Dalam ringkasan laporan terbaru ini, ditekankan bagaimana cara beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Permasalahannya adalah, siapa yang akan mengucurkan dana?

“Guna menentukan hal tersebut, tidak bergantung pada IPCC.” dikatakan Dr. Jose Marenggo, seorang pejabat pemerintah Brasil yang hadir dalam pertemuan. “Laporan tersebut mengemukakan berapa anggaran yang diperlukan dan kemudian seseorang/institusi harus membayarnya dengan berdasarkan perhitungan keilmuan. Saat ini lebih mudah untuk melakukan negosiasi di UNFCC (lembaga PBB untuk perubahan iklim) dan memulai kesepakatan siapa yang akan mengucurkan dana guna keperluan adaptasi terhadap perubahan iklim.”

Sumber tulisan dari sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *