Mendefinisikan Ketangguhan Menghadapi Bencana

Ketangguhan bangsa menghadapi bencana adalah visi yang ingin dicapai dalam upaya penanggulangan bencana di Indonesia. Namun, konsep ketangguhan tersebut senantiasa mengalami perubahan. Apakah konsep ketangguhan ini adalah hasil yang ingin dicapai atau proses menuju hasil tersebut? Continue reading “Mendefinisikan Ketangguhan Menghadapi Bencana”

Kenapa GIS Luar Biasa? 

Setiap orang membutuhkan informasi ‘di mana’. Pada satu berita, harus ada informasi ‘di mana’-nya. Saat ada diskon besar-besaran, perlu informasi ‘di mana’. Ketika ada tempat makan atau ngopi yang baru, maka ‘di mana’ itu pun akan menyeruak.

Setelah informasi ‘di mana’ didapat, maka orang kemudian akan bertanya ‘bagaimana menuju ke sana?’ Ini bisa saja dari rumah, kantor, atau di mana pun posisi Anda saat ini.

Kini, dengan adanya telepon pintar yang sudah dilengkapi dengan GPS, kedua pertanyaan di mana dan bagaimana itu bisa dengan mudah dijawab. GPS yang dibenamkan di telepon pintar sudah sama pentingnya dengan jaringan komunikasi yang ada pada telepon itu sendiri.

Semua hal itu, informasi di mana, bagaimana, begitu juga dengan GPS adalah contoh-contoh pemanfaatan GIS. Selain yang sudah disebutkan, masih banyak lagi penggunaan GIS dalam kehidupan sehari-hari dan di berbagai sektor.

Populasi penduduk

Sumber: www.petatematikindo.wordpress.com

Dengan GIS informasi persebaran penduduk dapat dengan mudah dilihat. Informasi ini sangat bermanfaat untuk berbagi bidang yang terkait, seperti bisnis, tata ruang, sosial kemasyarakatan, hingga penanggulangan bencana.

Bisnis

Sumber: http://www.franchiseopportunitiesjournal.com

Dengan bantuan berbagai perangkat, data, dan informasi yang tergabung dalam satu sistem GIS, maka bisa jadi bisnis Anda akan lebih berhasil. Ini berkaitan dengan poin sebelumnya mengenai populasi penduduk. Sebagai contoh, Anda membuka toko tentu harus memilih lokasi yang pasarnya bagus, misalnya lokasi dengan kepadatan penduduk tinggi. Sebaliknya, saat Anda membangun peternakan, tentu dipilih lokasi yang jauh dari permukiman, namun dekat dengan sungai atau jalan. Nah, GIS dapat membantu Anda dalam pemilihan lokasi semacam ini.

Perencanaan

Sumber: http://denpasarkota.go.id

Perencanaan di sini bisa berupa tata ruang, penggunaan lahan, atau pun infrastruktur. Barangkali Anda sering merasa ada yang keliru dengan penataan ruang di satu kota. Misalnya saja di bagian tertentu terlalu banyak pertokoan besar yang berdampingan dengan pasar tradisional dan terminal. Seandainya GIS digunakan dalam perencanaan kota, maka keruwetan semacam itu bisa dihindari. GIS akan memperlihatkan areal kota secara keseluruhan, kemudian menginformasikan di mana lokasi pasar, terminal, stasiun, pertokoan, dan lain-lain. Selanjutnya, perencana tinggal menentukan, mengarahkan, melarang, mengatur dan menata ruang-ruang lain di kota itu agar perkembangannya seimbang.

Penanggulangan Bencana

Sumber: http://geospasial.bnpb.go.id

GIS sangat membantu institusi yang berkepentingan untuk menyelenggarakan upaya penanggulangan bencana. Semua tahap dalam ‘lingkaran penanggulangan bencana’ yang terdiri dari tahap pra, saat, dan pasca bencana dapat medayagunakan kecanggihan GIS. Sistem ini membantu untuk melakukan monitoring (pengawasan) untuk mitigasi bencana, memetakan dampak bencana, hingga menghitung kerugian setelah bencana terjadi.

Selain berbagai manfaat GIS yang telah disebutkan di atas, masih banyak kegunaan lain dari sistem yang luar biasa ini. Sebagai contoh dalam bidang pertanian, kriminalitas, perhubungan, penelitian, dan masih banyak lagi.

2015 dan Rekor untuk Perubahan Iklim

Laju perubahan iklim pada tahun 2015 menunjukkan perkembangan yang menggelisahkan dan belum pernah diprediksi sebelumnya, demikian hasil penelitian dari WHO.

Beberapa indikator bahkan telah memecahkan rekor. Indikator tersebut di antaranya adalah: suhu global, curah hujan, kekeringan, aktivitas siklon, dan gelombang panas.

Berikut ini beberapa rekor perubahan iklim yang terjadi pada tahun 2015.

  1. 2015 menjadi tahun terpanas dengan temperatur rata-rata global berada pada posisi 0,76 derajat Celcius lebih tinggi dari pada rata-rata temperatur pada tahun 1961-1990. Hal ini terjadi karena perubahan iklim dan pengaruh El-Nino.
  2. Tingkat kandungan karbon dioksida meningkat 43% dibandingkan masa sebelum revolusi industri.
  3. Tinggi muka laut mencapai rekor tertinggi saat dihitung menggunakan alat pengukur tinggi gelombang dan satelit.
  4. Gelombang panas terjadi di berbagai tempat. Di Selatan India, negara bagian Telangana dan Andhra Pradesh saja gelombang panas menyebabkan 2.000 orang meninggal dunia.
  5. Curah hujan ekstrim terekam di berbagai lokasi. Di pantai barat Libya, terjadi curah hujan dalam sehari yang setara dengan curah hujan selama sebelas bulan dalam waktu normal. Sementara itu, di Maroko menerima curah hujan selama sejam yang setara dengan curah hujan selama 13 bulan.
  6. Afrika bagian selatan mengalami musim paling kering sejak periode 1932-1933. Di Indonesia musim kering ini memperhebat kebakaran hutan dan lahan.

Sumber berita: http://www.theguardian.com/environment/2016/mar/21/global-warming-taking-place-at-an-alarming-rate-un-climate-body-warns?CMP=share_btn_tw

Kerentanan Asia Tenggara Terhadap Perubahan Iklim

Saat ini perubahan iklim sedang terjadi di Asia Tenggara dan dampaknya akan semakin parah apabila tidak ditangani dengan bijak. Perubahan iklim dapat mengancam proses pembangunan serta program pengurangan kemiskinan. Sudah tidak ada waktu lagi untuk bersantai dalam menghadapi perubahan iklim.

Kawasan Asia Tenggara sangat rentan terhadap perubahan iklim karena di sini tinggal lebih dari setengah milyar manusia. Jumlah itu sebagian besar menempati wilayah pesisir. Panjang pantai di wilayah ini adalah 173.251 kilometer yang akan sangat terpengaruh naiknya muka air laut.

Warga yang tinggal di kawasan ini pun mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian. Pada tahun 2004 tercatat 43% tenaga kerja terserap di sector pertanian dan menyumbang 11% GDP pada tahun 2006. Sayangnya, sector ini sangat rentan pada bencana seperti kekeringan, banjir, dan juga siklon tropis yang semua itu terkait dengan perubahan iklim.

Negara-negara di Asia Tenggara juga sangat bergantung kepada sumber daya alam dan hasil hutan. Dua hal yang sangat mudah terpengaruh oleh perubahan iklim karena kejadian cuaca ekstrim dan kebakaran hutan dapat mengganggu pemanfaatannya.

Angka kemiskinan di wilayah ini pun masih tinggi dengan ditandai 93 juta (18,8%) warganya hidup di bawah garis kemiskinan ($1,25 per hari) pada tahun 2005. Sementara itu, warga miskin tersebut menjadi pihak yang paling rentan oleh pengaruh perubahan iklim.

Dampak perubahan iklim di Asia Tenggara di antaranya adalah:

  • Naiknya temperatur 0.1-0.3 C tiap decade antara tahun 1951-2000.
  • Curah hujan turun antara tahun 1960-2000
  • Nainya permukaan air laut antara 1-3 milimeter per tahun
  • Meningkatnya intensitas dan frekuensi gelombang panas, kekeringan, banjir, dan siklon tropis menyebabkan kerusakan pada property, aset, dan korban jiwa.

Laporan dari ADB menunjukkan bahwa wilayah ini akan terus terdampak perubahan iklim, bahkan semakin meningkat intensitasnya. Di kawasan ini dampak perubahan iklim lebih terasa dibandingkan kawasan-kawasan lain di dunia jika tidak ada upaya untuk mengatasi perubahan iklim tersebut.

Sumber:

Asian Development Bank 2009, Economic Climate Change South East Asia, Asian Development Bank, <http://www.adb.org/sites/default/files/publication/29657/economics-climate-change-se-asia.pdf>.

Greenpeace: Empat Cara Menghentikan Kebakaran Hutan 

Screen Shot 2015-11-01 at 10.57.27 pm
Credit Picture: http://www.treehugger.com/slideshows/culture/life-amid-indonesian-fires-photos/page/2/#slide-top

Situs Greenpeace menerbitkan empat cara untuk menghentikan kebakaran hutan di Indonesia. Cara-cara tersebut adalah:

1. Menghentikan perubahan fungsi hutan

Menurut Greenpeace, cara ini adalah yang paling mudah sekaligus juga paling efektif. Semua perusahaan perkebunan harus segera menghentikan upaya pembersihan hutan dan pengembangan lain lahan gambut. Mereka harus diawasi dan diaudit untuk berbagai potensi bahaya serta aktivitas ilegal yang mungkin dilakukan.

2. Perbaikan dan regenerasi lahan gambut

Membanjiri kembali, perbaikan, dan pembangunan sekat kanal di lahan gambut terbukti mampu mencegah dan mengurangi risiko kebakaran di wilayah tersebut.

3. Pembuktian lokasi hotspot pada peta

Penelitian dari Greenpeace menunjukkan hampir 40% hotspot berada di dalam wilayah konsesi. Tanah yang diserahgunakan oleh pemerintah Indonesia kepada perusahaan untuk dimanfaatkan kayunya dan perkebunan.

Banyak hotspot yang teridikasi di dalam wilayah konsesi, namun analisis mutakhir sulit dilakukan karena tidak adanya data konsesi terbaru.

4. Bekerja sama padamkan api

Selain dihentikannya penggundulan hutan, Greenpeace juga menyeru kepada perusahaan perkebunan sawit dan kertas untuk bekerja sama dan mendorong dihentikannya pembersihan hutan serta pemanfaatan lahan gambut. Menurut Greenpeace, jika satu perusahaan dapat menghapuskan hutan, maka sudah barang tentu mereka memiliki kemampuan untuk menyelamatkannya.

Tulisan ini diadaptasi dari situs Greenpeace