Negara Miskin Paling Terdampak Perubahan Iklim

Daerah yang kering akan makin kering, sementara daerah tropis basah akan kian basah, demikian dilaporkan IPCC.

Pada tahun-tahun mendatang, negara berpendapatan rendah akan tetap berada di garis depan yang terdampak oleh perubahan iklim karena ulah manusia. Mereka akan mengalami naiknya permukaan air laut, badai yang makin kuat, hari-hari yang makin hangat, hujan yang tidak bisa diprediksi, serta gelombang panas yang makin besar dan lama. Demikian hasil penelitian secara menyeluruh tentang persoalan perubahan iklim.

Penilaian UN pada tahun 2007 memprediksi peningkatan temperatur hingga lebih dari 6 derajat celcius pada akhir abad ini. Kondisi tersebut diragukan oleh para peneliti, namun rata-rata suhu di daratan dan lautan terus meningkat sepanjang waktu. Dimungkinkan peningkatan tersebut akan mencapai empat derajat celcius di atas tingkat suhu yang ada sekarang dan cukup untuk merusak tanaman pangan serta membuat panas di banyak kota tak tertahankan lagi.

Seiring dengan meningkatnya temperatur dan lautan yang kian hangat, daerah tropis dan subtropis akan menghadapi perubahan drastis pada curah hujan tahunan, demikian dilaporkan oleh IPCC yang telah diterbitkan pada 30 September.

Afrika timur akan mengalami peningkatan hujan yang durasinya pendek, sementara Afrika barat akan mengalami muson yang lebih berat. Myanmar, Bangladesh, dan India akan mengalami siklon yang lebih kuat, di wilayah Asia selatan yang lain, musim panas disertai hujan harus diantisipasi. Indonesia akan mengalami hujan yang lebih sedikit antara Juli sampai Oktober, namun daerah pantai di sekitar Laut Tiongkok dan gurun di Thailand akan mengalami peningkatan hujan ekstrem ketika siklon menghantam daratan.

“Diyakini bahwa dalam jangka panjang, curah hujan global akan berubah. Negara di lintang tinggi, seperti Eropa dan Amerika Utara akan mengalami curah hujan yang lebih banyak, namun daerah subtropis dan semi kering akan berkurang curah hujannya. Di daerah tropis yang lebih hangat, curah hujan ekstrem akan meningkat intensitas dan frekuensinya.” Demikian dikatakan oleh penulis laporan.

Dalam laporan tersebut juga disampaikan, “Muson akan terjadi lebih awal atau tidak berubah, sementara rata-rata muson akan tertunda, sehingga akan memperpanjang musim.”

Ilmuwan di negara berkembang serta para pengamat setuju dengan laporan tersebut karena menjadi pendukung penelitian yang sudah mereka lakukan sendiri.

“Laporan IPCC menguak fakta bahwa perubahan iklim sungguh terjadi dan lebih kuat daripada sebelumnya. Kita telah melihat dampak dari perubahan iklim di Bangladesh dan Asia selatan. Ini bukan hal yang baru untuk kita. Kebanyakan negara berkembang saat ini menghadapi ancaman perubahan iklim. Mereka tak memerlukan laporan IPCC bahwa cuaca sedang berubah.” Dikatakan oleh Saleemul Huq, Direktur International Centre for Climate Change and Development yang berkantor di Dhaka.

Peneliti juga telah menurunkan perkiraan kenaikan muka air laut. Bergantung pada emisi gas rumah kaca di masa depan, muka air laut akan meningkat antara 40-62 cm pada tahun 2100. Namun, variasi geografis akan memberikan pengaruh yang sangat signifikan. Jutaan orang yang tinggal di kota-kota besar di negara berkembang akan terancam, termasuk mereka yang tinggal di Lagos dan Kalkuta.

Dilaporkan jenis bencana yang terkait dengan cuaca akan lebih sering terjadi seiring dengan meningkatnya suhu dunia. Kendati frekuensi terjadinya siklon tropis kemungkinan menurun atau tetap pada level sekarang, namun intensitasnya akan meningkat dengan angin yang lebih kuat dan curah hujan yang lebih lebat.

Hidup di kota-kota besar negara berkembang tak dapat dihindari, kendati suhu perkotaan sudah lebih tinggi daripada lokasi di sekitarnya. Temperatur yang lebih tinggi dapat mengurangi durasi pertumbuhan di beberapa bagian Afrika sampai 20%, demikian disampaikan dalam laporan.

Dr. Camilla Toulmin, Direktur International Institute for Environment and Development, mengatakan, “Pemodelan iklim belum cukup untuk memprediksi dampak di tingkat lokal dan regional, namun sudah sangat terasa kerentanan yang harus dihadapi oleh tiap orang.”

Oxfam memprediksi bahwa kelaparan dunia akan lebih buruk seiring dengan perubahan iklim yang berdampak pada produksi pertanian dan mengganggu pendapatan warga. Mereka memperkirakan jumlah penduduk yang beriko mengalami kelaparan meningkat 10-20% pada tahun 2050, dengan asupan kalori per kapita makin jatuh di seluruh dunia.

“Perubahan iklim telah mengancam usaha-usaha untuk mengatasi kelaparan dan hal tersebut semakin memburuk.” Dikatakan Oxfam. “Dunia yang kian panas adalah dunia yang makin lapar. Jika waktu yang tersisa dari abad 21 dibiarkan terbuang sia-sia seperti dekade awal, kita akan segera menghadapi iklim ekstrem yang belum pernah dihadapi umat manusia.”

Sumber tulisan dari sini

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *