Mitos dan kenyataan dalam situasi bencana

myths_facts

Mitos: Jenazah menyebabkan risiko pada kesehatan
Kenyataan: berkebalikan dengan kepercayaan umum, jenazah tidak menyebakan lebih banyak risiko penyebaran penyakit pasca terjadinya bencana alam daripada korban yang selamat.

Mitos: Epidemi penyakit dan wabah tidak dapat dihindari pasca terjadinya suatu bencana
Kenyataan: Epidemi penyakit tidak secara langsung terjadi setelah bencana dan jenazah tidak menyebabkan penyebaran penyakit berbahaya. Kunci untuk mencegah penyakit adalah dengan meningkatkan kondisi sanitasi dan pendidikan pada masyarakat.

Mitos: Cara tercepat untuk menangani jenazah dan menghindari penyebaran penyakit adalah dengan penguburan massal atau dikremasi. Tindakan ini dapat menenangkan korban yang selamat.
Kenyataan: Korban yang selamat akan bisa berdamai dengan rasa kehilangannya bila mereka diizinkan untuk mengikuti kepercayaan dan agamanya serta dapat mengidentifikasi dan menemukan keluarganya yang hilang/meninggal.

Mitos: Adalah tidak mungkin untuk melakukan identifikasi pada banyak jenazah yang menjadi korban dari suatu bencana.
Kenyataan: Guna identifikasi jenazah atau bagian tubuh selalu ada kesempatan.

Mitos: Teknik DNA untuk pengenalan jenazah belum tersedia di seluruh negara karena berbiaya tinggi dan kebutuhan teknologi tinggi.
Kenyataan: Teknologi ini sekarang secara cepat mudah diakses oleh semua negara. Lebih lagi, dalam suatu bencana besar, kebanyakan negara dapat meminta bantuan pendanaan dan teknologi termasuk dukungan teknik DNA.

Mitos: Relawan medis dari luar negeri dengan berbagai latar belakang spesialisasi diperlukan.
Kenyataan: Penduduk lokal hampir selalu dapat memenuhi kebutuhan hidup darurat. Hanya personel medis dengan keahlian tertentu yang tidak tersedia di lokasi terdampak yang diperlukan.

Mitos: Berbagai bantuan internasional diperlukan dan itu diharapkan sekarang.
Kenyataan: Penanganan yang terburu-buru dan tidak berdasar pada evaluasi yang berimbang hanya akan menyebabkan kekacauan. Sebaiknya menunggu penilaian kebutuhan sebenarnya selelsai dilakukan.

Mitos: Bencana mengakibatkan hal-hal buruk pada kebiasaan manusia.
Kenyataan: Kendati terdapat kasus antisosial secara terbatas, sebagian masyarakat merespon bencana secara spontan dan baik.

Mitos: Masyarakat yang terdampak masih trauma dan tidak berdaya untuk bertanggung jawab pada keselamatan mereka sendiri.
Kenyataan: Sebaliknya, banyak warga yang menemukan kekuatan baru pada saat tanggap darurat karena ribuan sukarelawan yang secara spontan bersatu mencari korban yang tertimbun puing-puing pasca terjadinya bencana.

Mitos: Bencana adalah pembunuh acak.
Kenyataan: Bencana berdampak lebih kuat pada masyarakat yang paling rentan, seperi warga yang miskin, wanita, anak-anak, dan lansia.

Mitos: Penempatan korban bencana di hunian sementara adalah alternatif terbaik.
Kenyataan: Hal ini seharusnya menjadi alternatif terakhir. Banyak lembaga menggunakan dana untuk tenda dan memesan material bangunan, peralatan, dan dukungan konstruksi yang lain di negara yang terdampak bencana.

Mitos: Semua hal akan kembali normal dalam beberapa minggu.
Kenyataan: Dampak dari suatu bencana berlangsung lama. Bencana menguras anggaran dan sumberdaya suatu negara hanya dalam waktu singkat setelah terjadinya bencana. Kegiatan bantuan yang sukses ditandai dengan bantuan internasional yang mulai berkurang seiring dengan kebutuhan.

Mitos: Orang yang kelaparan dapat menyantap apa saja.
Kenyataan: Umum terjadi, bahwa seseorang yang kelaparan akan sangat lapar dan memakan apa saja yang bisa disediakan. Kebiasaan ini tidak manusiawi dan keliru.  Meskipun dalam kondisi awal lapar, seseorang biasanya tidak mengkonsumsi dalam jumlah yang cukup makanan yang tidak bervariasi dan tidak familiar dalam waktu yang cukup lama. Lebih penting lagi, orang yang kelaparan biasanya akan sakit dan tidak memiliki selera yang baik. Akibatnya mereka akan merana dan kurus atau jatuh sakit lagi.

Beberapa orang yang menyantap makanan dengan gizi baik akan terkena dampak bila hanya memakan menu yang monoton dari tiga atau lebih komoditi (seperti gandum, kacang, dan minyak), karena hanya komoditi itu yang tersedia untuk para pengungsi. Hal ini belum termasuk kekurangan gizi mikro yang sering juga terjadi. Konsepsi ini dimulai, sebagai bagian dari gagalnya tujuan bantuan makanan yang seharusnya disediakan untuk kesehatan, kemakmuran, dan  keberadaan yang layak serta mendapat pertolongan dan penerimaan dari ketergantuan dan kehormatan diri. Sumber: Lancet, Vol. 340, Nov 28, 1992

Mitos: Anak-anak yang diare tidak seharusnya diberi makan secara intensif.
Kenyataan: Pandangan dari masa yang lalu dan dari masa normal–bukan masa darurat–kadang berlanjut, seorang anak harus diberi minum dan dicegah diare sebelum diberi makan lagi. Kebijakan ini tidak betul dan pada anak yang kurang gizi akan berakibat fatal. Seorang anak yang terkena diare harus diberi makan, jika diperlukan diberikan cairan diet dengan tabung nasogastric pada saat yang sama ketika tambahan cairan diberikan. Jika terjadi diare yang berlebihan, maka beberapa nutrisi akan diserap dan dimulai proses penyembuhan. Jika pemberian makan dimulai setelah rehidrasi biasanya sudah akan terlambat. Sumber: Lancet, Vol. 340, Nov 28, 1992

Mitos: Pengungsi dapat mengatasi kekurangannya sendiri
Kenyataan: Kesalahan konsep ini merendahkan martabat pengungsi. Hal ini berakibat, jika sekali tumbang, mereka tak punya hak dasar atas makanan, permukiman, dan perhatian–kemudian bila hal ini ditawarkan menjadi tindakan sosial, maka pengungsi bisa atau seharusnya berbuat lebih kurang sama dengan mereka yang bukan pengungsi.
Faktanya, mereka seringkali memerlukan makanan lebih banyak dari kebutuhannya, terutama jika mereka kekurangan gizi dan sakit sebelum tiba di penampungan serta memerlukan rehabilitasi; bila mereka menderita karena terpapar akibat permukiman yang tidak layak.

Mitos: Pertukaran makanan mengindikasikan masyarakat tidak memerlukan semua ransum.
Kenyataan: Jika sumber makanan disediakan oleh petugas perkemahan, maka ransum tersebut harus mencukupi semua nutrisinya. Hal ini memerlukan campuran bahan makanan termasuk buah dan sayuran. Jika hal ini tidak dapat dipenuhi, maka harus didorong terjadinya pertukaran dan pengungsi tidak akan kekurangan gizi dan nutrisi mikro. Fakta bahwa beberapa jenis makanan diperjualbelikan, untuk menambah variasi menu bukan berarti mengurangi ransum yang diberikan. Sumber: Lancet, Vol. 340, Nov 28, 1992

Mitos: Ransum yang standar cocok untuk semua masyarakat.
Kenyataan: Kalori yang direkomendasikan per pengungsi haruslah bervariasi berdasarkan komposisi demografi, nilai gizi, dan status kesehatan populasi pengungsi (diizinkan pula untuk menambah alokasi apabila terjadi kekurangan gizi) tingkat aktivitas, suhu lingkungan, dan sisa makanan dari rangkaian ketersediaan pangan di suatu negara oleh seseorang.
Dengan kata lain, ada variasi kebutuhan untuk pemenuhan energi, yang bergantung pada suatu kondisi dan apabila menggunakan gambaran perseorang akan mengakibatkan kekurangan atau kelebihan. Angka 1900 kcal adalah asumsi yang secara umum digunakan seringkali kurang dari yang dibutuhkan. Sumber: Lancet, Vol. 340, Nov 28, 1992

Mitos: Kecukupan energi berarti kecukupan nutrisi.
Kenyataan: Menu yang tersedia haruslah cukup baik jumlah maupun kualitasnya, memenuhi kebutuhan kalori, protein, dan nutrisi mikro. Manakala pengungsi bergantung pada ransum yang disediakan, sebagai contoh pada masa-masa awal tanggap darurat atau pada lokasi pengungsian yang tertutup, di mana pertukaran untuk variasi menu tak mungkin dilakukan, maka ransum harus didesain harus dapat memenuhi kebutuhan nutrisi secara lengkap.
Seringkali, ransum didesain untuk memenuhi energi minimum yang diperlukan dan mikro nutrisi diserahkan kepada pengungsi untuk memenuhi sendiri. Pemenuhan akan kebutuhan mikro nutrisi haruslah dibuat secara terbuka, terutama bila ransum yang disediakan dihitung berdasarkan kebutuhan energi secara penuh. Pangan haruslah bervariasi dan dapat diterima oleh pengungsi, termasuk kebutuhan untuk anak-anak.

Mitos: Bencana menyebabkan kematian secara acak.
Kenyataan: Bencana mengakibatkan korban terbesar di lokasi yang rentan, secara umum tempat tersebut ditinggali oleh masyarakat yang miskin.

Mitos: Lebih baik membatasi informasi pada saat terjadi bencana.
Kenyataan: Pembatasan akses informasi menyebabkan masyarakat kurang percaya yang justru berakibat pada kerusuhan atau kesalahan penanganan.

Sumber tulisan dari sini

Sumber gambar dari sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *