Mengelola Informasi Kemanusiaan Pada Saat Bencana Melanda

Oleh: Mark Frohardt

FrohardtMark2006Di tengah kekacauan dan nestapa pasca gempa di Nepal, satu hal mendasar tetap diperlukan, yaitu informasi yang padat dan dapat dipercaya.

Seiring dengan kemajuan teknologi, banjir informasi pun terjadi, terkadang penuh dengan isu dan informasi yang keliru.

Wakil Presiden Internews, Mark Frohardt menjelaskan bagaimana informasi sangat diperlukan pada kondisi darurat.

Pada saat terjadi krisis kemanusian seperti kejadian bencana, maka informasi adalah segalanya. Mereka yang selamat ingin mengetahui kabar keluarganya, rumahnya, para tetangganya. Dari situ, kemudian berlanjut berbagai pertanyaan yang mungkin timbul. Di mana tempat yang aman? Bagaimana, kapan, dan di mana makanan, air, dan kesehatan bisa didapatkan? Orang-orang bertanya kepada para tetanga, mengecek telepon genggam masing-masing dan juga media sosial. Mereka pun menyetel radio, mencoba mengikuti berbagai perkembangan terkini dan mencari tahu di mana jalan keluar yang harus ditempuh dari kesulitan tersebut.

Pada saat kebutuhan akan informasi yang cepat dan terpercaya sangat tinggi, jaringan yang ada justru ikut rusak terdampak bencana. Kepercayaan itu pun perlahan akan sirna dan berbagai hal akan memburuk dengan cepat. Seperti yang baru-baru ini dilaporkan oleh New York Times, ada isu di masyarakat Nepal yang berkembang luas bahwa bantuan luar negeri melimpah jumlahnya dan ditimbun oleh pegawai pemerintah. Pada saat orang-orang tinggal di tenda darurat kemudian hujan turun dan orang lain pergi dari ibukota, maka isu seperti itu bisa dengan cepat menjadi potensi bahaya.

Dalam waktu yang sekejap, informasi yang dibutuhkan pada warga terdampak meningkat sementara akses mereka terhadap informasi tersebut justru mengalami penurunan yang signifikan.

Beberapa saat setelah gempa akan terjadi kelangkaan informasi. Jaringan listrik, telepon, dan konektivitas lain seperti internet kemungkinan besar akan berhenti bekerja. Masyarakat terkejut dan informasi mengenai keamanan dan sumberdaya menjadi langka. Kemudian situasi terus berkembang dari langka informasi menjadi banjir informasi manakala orang-orang berbagi informasi yang keliru, rumor, dan rasa frustasi karena kebutuhannya tidak terpenuhi.

Media sosial dan teknologi komunikasi yang lain dapat memberikan bantuan seperti menyatukan keluarga, pada saat yang sama teknologi tersebut juga dapat menyebabkan kekacauan dan kebingungan.

Masih dalam waktu yang sama datanglah bantuan internasional yang memiliki tantangannya tersendiri, yaitu bagaimana mengkoordinasikan berbagai layanan bantuan dalam kondisi yang kacau? Belasan organisasi mulai mengirim pesan melalui berbagai saluran seperti sms, radio, tv, dan juga cetak. Jika semua informasi tersebut tidak terkoordinasi, maka dapat meningkatkan kebingungan masyarakat yang sejauh ini telah mengalami kelebihan dan kekacauan informasi. Namun, jika pesan itu berkaitan dengan usaha penyelamatan, maka terjalinnya komunikasi dua arah dan terbukanya ruang untuk tanya jawab atau dialog bukan lagi menjadi prioritas.

  • Dengar Dahulu

Sangat masuk akal pada saat terjadi kekacauan informasi diawali dengan mendengarkan masyarakat terdampak. Sangat penting mengetahui apa yang diperlukan oleh masyarakat dan apa yang tidak mereka peroleh. Perlu dilakukannya sebuah penyelidikan secara paralel untuk menilai konteks lokal, ini yang kita sebut sebagai ekosistem informasi. Ekosistem lokal ini akan memiliki nuansa, kekuatan, dan kelemahannya tersendiri serta bisa jadi di sinilah area kepercayaan dan pengaruh dibangun.

Sebagai contoh adalah kasus di Haiti saat beberapa stasiun radio lokal selamat dari bencana gempa. Saat itu, untuk meredam gangguan di titik pendistribusian barang, sebuah stasiun radio menghadirkan musisi lokal ketimbang pejabat pemerintah. Hal itu dilakukan karena sosok tersebut lebih diterima oleh masyarakat setempat. Dalam situasi yang lain, ada juga stasiun radio yang tidak dipercaya oleh masyarakat, namun mereka percaya pada pastur setempat. Kendati Bapak Pastur itu menerima informasi dari stasiun radio yang sama, dia memverifikasi dan mengecek kebenaran info tersebut sebelum menyampaikan kepada umatnya. Bapak tersebut adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam situasi seperti itu.

Akhirnya kita perlu mengetahu apa yang masyarakat lakukan dengan informasi. Kita perlu memahami apa dampaknya. Karena itu, sangat penting mengetahui saran dan masukan dari masyarakat.

Pada kondisi yang demikian itu, maka radio komunitas memegang peranan yang sangat penting. Dengan mengirimkan pesan berantai kepada masyarakat, dapat dilihat tren pertanyaan dan respon masyarakat terhadap satu jenis informasi. Hasilnya stasiun radio tersebut dapat merespon dengan cepat dan dapat mengatasi berbagai isu atau kekacuan informasi.

Selanjutnya apabila terjadi peningkatan kejelasan informasi yang berkembang di masyarakat, maka itu adalah pertanda membaiknya kondisi mereka. Manakala masyarakat berhenti bertanya mengenai makanan, isu kesehatan, air, dan mulai menanyakan mengenai pendidikan anaknya, maka itu adalah tanda kondisi mulai kembali ke normal.

Di tiap daerah, sangat penting untuk bekerja bersama warga yang mengetahui kondisi setempat. Warga yang paham bagaimana mekanisme yang terjadi dan telah sensitif terhadap kepentingan masyarakat jauh sebelum terjadinya krisis. Kami menemukan bahwa media lokal adalah rekan kerja yang sangat baik. Radio lokal dapat menjangkau orang banyak, maka wartawan radio lokal adalah elemen yang sangat penting untuk komunikasi pada masa darurat dan pemulihan.

Kendati banyak kelebihan yang dimiliki oleh media lokal tersebut, namun seringkali jurnalis setempat tidak memiliki kemampuan untuk melaporkan pada saat krisis terjadi, mereka juga kurang familiar untuk mengakses dan berhubungan dengan komunitas internasional. Dalam situasi tersebut, kami bekerja bersama dengan mereka untuk mendapatkan dan membagi informasi kepada masyarakat guna membangun kesepahaman bersama mengenai situasi yang berkembang di lapangan. Kami juga menghubungkan mereka dengan komunitas kemanusiaan, sehingga mereka dapat mulai melaksanakan dialog bagaimana seharusnya upaya pendampingan dan perbaikan dilaksanakan. Para jurnalis lokal tersebut kemudian menjadi jembatan di antara dua sisi.

Seringkali para jurnalis lokal tersebut juga terdampak oleh bencana yang terjadi, kami kemudian akan mendukung mereka untuk melakukan pekerjaannya tanpa perlu khawatir kondisi keluarga. Hal ini bisa berupa memberikan dukungan baterai, telepon tambahan, fasilitas pengisian ulang listrik, atau pendapatan tambahan agar kawan jurnalis tersebut dapat antri di pos bantuan sementara yang bersangkutan tetap bekerja sebagai seorang wartawan.

Nepal dikenal sebagai perintis pergerakan radio FM lokal, ditandai dengan pendirian radio pertama pada tahun 1996. Sejak saat itu, stasiun-stasiun radio kecil mulai berdiri di desa-desa yang terpencil, melakukan kegiatan berupa model pelibatan dan keberlanjutan masyarakat. Salah satu contohnya adalah membangun jaringan untuk memahami dan menangani berbagai kebutuhan masyarakat bahkan di daerah yang paling terpencil sekalipun.

  • Dari Bantuan ke Lembaga

Pada masa tanggap darurat seringkali tak mudah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk bicara pada berbagai aspek yang menentukan, misalnya terkait bantuan. Namun, kemampuan bicara tersebut ternyata akan meningkatkan kemampuan masyarakat dan sekaligus memperkuat serta lebih tangguh pasca terjadinya krisis.

Filosofi kami adalah memberikan kemampuan kepada masyarakat untuk menggapai masa depan mereka secepatnya. Saat terjadi gempa di Pakistan pada tahun 2005, di lembah yang penuh dengan pengungsi namun tak bisa dijangkau oleh stasiun radio yang ada, kami membantu membuat asosiasi yang terdiri dari lima stasiun radio darurat untuk mendorong berbagai peralatan siaran ke lembah. Lama setelah gempa tersebut, stasiun-stasiun radio tersebut tetap beroperasi dan menyediakan berbagai dukungan penting kepada masyarakat termasuk saat terjadi krisis pada tahun 2007-2008 dan banjir 2010.

Jika komunikasi pada masa krisis ditangani dengan baik, biasanya akan terbangun dialog yang konstruktif antara komunitas kemanusiaan dan masyarakat terdampak. Kemudian hal tersebut akan dapat menggerakkan masyarakat dari sekadar penerima bantuan yang pasif menjadi peserta aktif dalam upaya pemulihan mereka sendiri.

Dengan menjaga kepercayaan, menyampaikan informasi lokal yang berguna, akhirnya kita dapat memberikan satu badan tertentu untuk masayarakat. Saat kami melakukan peningkatan kapasitas stasiun radio lokal, seringkali kami menemukan terjadinya perubahan peran dari yang semula melaporkan mengenai bantuan menjadi menyajikan laporan mengenai upaya rekonstruksi. Selain itu juga disampaikan kepada pendengar setia mengenai akuntabilitas pemerintahan serta isu-isu politik dan sosial lain yang lebih besar.

Sulit dibayangkan memang semua hal itu terjadi ketika satu negara berada di tengah krisis, namun pengalaman kami menunjukkan, jika kita bisa mengelola saat ini dengan baik, maka masyarakat yang lebih tangguh akan bisa tercapai di masa datang.

Mark Frohardt memiliki banyak pengalaman dalam bidang komunikasi kemanusiaan. Selama dua puluh tahun sebelum bergabung dengan Internews, dia bekerja di Medecins Sans Frontieres, UNHCR, UNOCHA, dan berbagai lembaga lain. Saat ini, beliau memimpin Internews Center for Innovation and Learning.

Sumber tulisan dari sini:

https://medium.com/local-voices-global-change/humanitarian-information-in-nepal-from-crisis-to-agency-bd234a8287a7

1 thought on “Mengelola Informasi Kemanusiaan Pada Saat Bencana Melanda”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *