Mendefinisikan Ketangguhan Menghadapi Bencana

Ketangguhan bangsa menghadapi bencana adalah visi yang ingin dicapai dalam upaya penanggulangan bencana di Indonesia. Namun, konsep ketangguhan tersebut senantiasa mengalami perubahan. Apakah konsep ketangguhan ini adalah hasil yang ingin dicapai atau proses menuju hasil tersebut?

Menilik ulang konsep ketangguhan sangatlah penting untuk dilakukan. Hal ini perlu mengingat bencana yang kerap terjadi senantiasa memerlukan penyesuaian langkah antisipasi dan peningkatan pengetahuan untuk penentuan strategi penanggulangannya.

Ketangguhan

Ketangguhan dalam Bahasa Indonesia berarti kekuatan, keuletan, dan kekukuhan. Terminologi ini dalam penanggulangan bencana berarti kemampuan komunitas untuk merespon, beradaptasi, dan pulih dari berbagai ancaman bencana dengan sedikit atau tanpa bantuan dari pihak luar. Namun, selain pengertian tradisional tersebut, kini ketangguhan diartikan sebagai peluang untuk memanfaatkan ancaman atau bencana yang terjadi guna melakukan perubahan struktur sosial yang lebih tangguh. Hal ini mengindikasikan bukan saja masyarakat kembali ke kondisi semula (bounce back), namun diharapkan komunitas bisa melenting ke depan (bounce forward).

Masyarakat yang mampu kembali ke kondisi normal dalam waktu sesingkat-singkatnya memang menjadi tujuan dari ketangguhan menghadapi bencana. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut biasanya dengan melakukan upaya reaktif berupa penanganan darurat dan rehabilitasi. Hasil akhirnya adalah tidak adanya perubahan dari kondisi semula dan mengesampingkan potensi bencana yang serupa atau sama sekali baru setelah satu kejadian bencana melanda.

Hal tersebut menjadi satu persoalan manakala memandang ketangguhan sebagai tujuan, yaitu tidak memperhitungkan keinginan masyarakat untuk keluar dari zona bahaya. Pada kondisi demikian, maka ide bounce forward mengemuka. Konsep ini menekankan penyesuaian masyarakat secara terus menerus untuk menghadapi perubahan setelah satu bencana terjadi. Sebab, bencana seperti banjir kerap kali berulang dengan tantangan yang berbeda-beda dari waktu ke waktu dan memerlukan upaya penanggulangan dan adaptasi yang berbeda-beda pula.

Ketangguhan Sebagai Proses

Permasalahan pada ‘konsep ketangguhan sebagai tujuan’ memunculkan ide baru, yaitu ‘ketangguhan sebagai suatu proses’. Ide ini bermula dari kesadaran bahwa ketangguhan adalah satu proses yang bisa terjadi kapan saja dalam setiap atau berbagai tahap pada lingkaran penanggulangan bencana. Ketangguhan sebagai proses tidak harus mengikuti alur linier pra, saat, dan pasca bencana. Namun, ide ini terdiri dari serangkaian peristiwa, tindakan, dan perubahan untuk meningkatkan kapasitas komunitas terdampak manakala mereka harus menghadapi bencana. Di sini, aktivitas yang dimaksud lebih ditekankan kepada peran manusia dalam menghadapi kejadian bencana.

Dalam kondisi demikian, ketangguhan bencana dipandang sebagai kualitas, karakter dan hasil yang didapat dan dibangun dari satu proses pemeliharaan dan promosi ketangguhan itu sendiri. Lebih lanjut, ketangguhan bukanlah sebuah ilmu eksak yang penuh keteraturan, namun pengetahuan yang lentur dan mudah menyesuaikan diri untuk menghadapi satu atau berbagai kejadian bencana. Hal ini menekankan peran manusia dalam satu kejadian bencana, yaitu manakala mereka mampu bertanggung jawab secara mandiri untuk melakukan tindakan pada saat bencana; memiliki rencana penanggulangan bencana dan kemampuan untuk melaksanakan rencana tersebut; serta mengumpulkan dan berbagi informasi mengenai proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Langkah-langkah ini mampu meningkatkan ketangguhan dan kemampuan individu, kelompok, masyarakat, dan bangsa untuk menghadapi bencana.

Konsep ketangguhan sebagai proses dengan demikian memiliki kaitan erat dengan adaptasi. Sebab ketangguhan berbeda-beda bagi setiap orang yang ditentukan oleh variasi ancaman yang dihadapi serta pengalaman pribadinya dalam menentukan strategi untuk beradaptasi. Dengan demikian, ketangguhan memiliki dimensi masa depan manakala adaptasi berhasil dilakukan setelah satu kejadian bencana terjadi dan juga sebagai upaya untuk mengurangi dampak bencana di masa yang akan datang.

Selanjutnya, konsep ketangguhan sebagai satu proses tersebut memberikan dampak pada kebijakan penanggulangan bencana untuk satu masyarakat. Sebagai contoh, manakala satu komunitas dilanda bencana tahunan seperti banjir, maka ada dua pilihan strategi yang bisa dilakukan. Pertama dengan memindahkan masyarakat ke tempat baru, namun tindakan ini biasanya akan mengganggu dan menghilangkan sistem kemasyarakatan yang sudah berjalan, mata pencaharian dan budaya. Kedua, kebijakan adaptasi dengan membangun ketangguhan yang mampu menjaga sistem sosial, mata pencaharian, dan budaya.

Perlindungan pada sistem dan nilai-nilai sosial, mata pencaharian, dan budaya satu masyarakat menjadi aspek yang penting untuk membangun ketangguhan masyarakat. Sebab, masyarakat memiliki keinginan yang kuat untuk menjaga aset yang dimiliki, yaitu ketiga hal tersebut. Oleh sebab itu, setiap program ketangguhan bencana seyogyanya dilakukan untuk meningkatkan nilai-nilai dasar, aset, dan sumber daya yang dimiliki oleh masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan mendayagunakan kearifan lokal, budaya, pengetahuan, dan pengalaman masyarakat sendiri. Berbagai hal ini adalah fondasi bagi masyarakat untuk beradaptasi dengan berbagai ancaman bencana. Sementara itu, pendekatan yang bisa dilakukan adalah dengan berfokus pada peningkatan kualitas hidup masyarakat yang tinggal di tempat berisiko tinggi sehingga mereka memiliki kesempatan untuk membangun ketangguhan.

Daftar Pustaka

Manyena, S.B., 2006. The concept of resilience revisited. Disasters30(4), pp.434-450.

Foto: www.bnpb.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *