Memahami Merapi

Memahami Merapi, tidak cukup dengan menelisik wujud fisiknya, menghitung tremor dan gempa yang diakibatkan, mewaspadai wedhus gembel dan aliran lahar dinginnya saja. Akan tetapi, tak kalah penting adalah memahami masyarakat yang hidup dan tinggal di sekitar Merapi

Merapi merupakan ujung atau puncak perjalanan manusia mencapai eksistensi tertinggi (swarga pangratunan), di mana Jagad Ageng (makrokosmos) dan Jagad Alit (mikrokosmos) menyatu dalam diri. Kosmologi itu termanifestasi dalam tata ruang kerajaan (kota) Yogyakarta, yang membujurkan sumbu di garis Parangkusuma (Laut Kidul)-Panggung Krapyak-Keraton-Tugu Pal Putih hingga Merapi dan singgasana Sultan menjadi pusatnya.

Dalam pemahaman warga di sekitar Merapi, alam tak pernah berdiri sendiri: alam dan manusia berada dalam relasi yang erat dan mendalam. Karena itu, peristiwa alam, seperti erupsi Merapi, juga bisa ditangkap sebagai purifikasi atau teguran terhadap manusia dan kelakuannya.

Mbah Maridjan hidup sepenuhnya dalam kosmologi ini. Gunung Merapi baginya adalah makhluk hidup yang dapat bernapas, berpikir, dan berperasaan. Ada roh yang berdiam di baliknyaa, yang juga membaca (pikiran dan perilaku) manusia di sekitarnya. Dengan dasar itu, maka beliau menganggap sebutan seperti mbledhos, njeblug, dan wedhus gembel, sebagai sesuatu yang menyakitkan hati Merapi, dan karena itu, ia pantang menggunakan istilah tersebut.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *