Laporan Kegiatan Lokakarya Merekam Pengetahuan RR dan Livelihood Penduduk Pasca Erupsi Merapi 2010

IMG_2445
Lingkungan Huntap Pagerjuran


 Latar Belakang

Pada saat melakukan upaya penanggulangan bencana, maka harus didasarkan pada suatu proses yang telah dipahami dan dikuasai. Proses-proses tersebut adalah pengetahuan yang harus direkam. Hasil perekaman pengetahuan ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak apabila akan melakukan proses yang sama. Semua pihak hendaknya bekerja bersama dalam proses knowledge management karena semakin banyak pengetahuan yang dibagi, maka suatu lembaga akan semakin terbangun.

Proses relokasi Merapi yang berjalan sangat baik dapat menjadi pembelajaran metode relokasi di tempat lain. Seperti halnya relokasi pengungsi akibat erupsi Gunung Sinabung yang akan segera dilakukan dapat belajar dari pengetahuan merelokasi warga di Merapi. Di samping itu, delegasi Filipina juga berkunjung ke Merapi untuk belajar bagaimana merelokasi pengungsi. Di sana, akan dilakukan relokasi terhadap pengungsi akibat badai Hainan berjumlah sekitar satu juta rumah.

Tujuan Lokakarya

Memproduksi pengetahuan mengenai relokasi dan pengembangan mata pencaharian penduduk pasca erupsi Merapi 2010 untuk diterapkan di lokasi lain.

Sistematika Lokakarya

Lokakarya yang dilakukan dalam tiga hari ini terdiri dari beberapa kegiatan. Pada hari pertama, dimulai dengan penjelasan dari panitia mengenai berbagai rangkaian kegiatan yang akan dilakukan. Selanjutnya, berisi paparan dari narasumber mengenai topik yang akan direkam pengetahuannya, yaitu proses relokasi Merapi dan mata pencaharian warga yang direlokasi. Pada sore hari, peserta mendesain suatu metode untuk merekam pengetahuan. Mengingat esok hari adalah kunjungan lapangan ke lokasi relokasi dan melakukan wawancara dengan warga, maka peserta menyusun daftar pertanyaan.

Hari kedua berisi kunjungan lapangan ke lokasi relokasi. Dalam hal ini, peserta dibagi ke dalam tiga kelompok dan melakukan kunjungan serta wawancara di tiga lokasi yang berbeda. Penulis mendapatkan jatah untuk melakukan wawancara di lokasi huntap Pagerjurang.

Pada hari ketiga, hasil-hasil wawancara dengan warga di lokasi huntap disusun dalam sebuah laporan dan dipaparkan. Peserta yang lain memberikan saran, masukan, dan komentar.

Hasil Lokakarya

Paparan_Bakri_Beck
Bapak Bakri Beck Memberikan Paparan

Paparan Narasumber: Bapak Bakri Beck, Direktur Pemberdayaan dan Advokasi Y-PRB, Mantan Deputi RR, BNPB.

Bapak Bakri Beck memberikan paparan berjudul ‘Belajar dari Erupsi Merapi’. Beliau menjabarkan strategi RR di Merapi, dasar hukum, struktur organisasi, mekanisme pembangunan rumah, sampai dengan strategi bagi pemulihan mata pencaharian masyarakat.

Selain informasi yang bisa dibaca pada Power Point, banyak hal yang bisa dicatat sebagai pembelajaran upaya penanggulangan bencana, terutama pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi. Berikut ini beberapa poin yang sempat penulis catat:

  • Dalam bencana selalu ada sisi malapetaka dan kesempatan pembangunan.
  • Di Jepang, bencana selalu dihadapi dengan upaya-upaya struktural.
  • Belum ada knowledge management yang merekam pengetahuan-pengetahuan penanggulangan bencana.
  • Pada penanganan erupsi Merapi di Tahun 2010 baru pertama kali dilakukan: mendayagunakan masyarakat yang terdampak. Di sisi lain, World Bank mendorong upaya penanggulangan bencana dengan melakukan pemberdayaan masyarakat.
  • Perlu ada suatu mekanisme untuk menyimpan dan mengarsipkan dokumen dengan baik agar mudah digunakan.
  • Proses pembangunan rumah di Merapi menggunakan sistem Kelompok Masyarakat (Pokmas). Rumah yang dibangun lebih dulu adalah milik warga yang paling miskin. Pembelajaran dari sistem ini, meskipun sama-sama korban erupsi Merapi, namun masih ada kebersamaan dan kerelaan.
  • Sistem yang sama tidak selalu berhasil manakala diterapkan di tempat lain.
  • Berkaitan dengan pendataan, semua daerah yang memiliki potensi bencana tinggi data kependudukannya harus lengkap.
  • Pada saat melakukan upaya RR di Merapi, ada tim pendukung teknis. Tim ini mendampingi BPBD dan warga dalam perencanaan, dukungan teknis, pengawasan upaya pembangunan. Dengan demikian, bukan BNPB yang melakukan pembangunan.
  • Pembangunan huntap diserahkan kepada masyarakat untuk menghindari sistem kontrak.
  • Pemerintah daerah menjadi yang pertama bergerak dalam menanggulangi bencana, namun tidak didukung dengan dana siap pakai.
  • Pada saat bencana terjadi, sektor yang paling terdampak adalah ekonomi. Strategi yang bisa ditempuh untuk segera mengembalikan sektor ini adalah dengan melakukan pembangunan jembatan agar akses segera dapat berfungsi normal, pembangunan pasar, dan dukungan perekonomian yang lain.
  • Terjadi perubahan pendekatan dalam upaya RR, yaitu bukan tempat aman dulu yang dipikirkan, namun dari awal sudah dirancang livelihood, termasuk dukungan listrik dan air. Sistem ini memikirkan semua hal dari hulu sampai hilir.

Selain paparan dan catatannya seperti tersebut di atas, berikut ini hasil wawancara dengan Kepala Seksi Rehab-Rekon BPBD Kab. Sleman dan warga di lokasi Huntap Pagerjurang.

Wawancara1
Di BPBD Kab. Sleman Peserta melakukan wawancara

Wawancara dengan Syaiful Bahri, Kepala Seksi Rehabilitasi, Bidang RR, BPBD Kab. Sleman

  • Beliau menjelaskan tentang berbagai hal yang dikerjakan oleh BPBD Kab. Sleman selama proses RR di Merapi. Sektor yang dikerjakan meliputi: perumahan, infrastruktur, ekonomi produktif, dan lintas sektor. Tahun ini masih dilakukan kegiatan terkait RR untuk anggaran tahun 2013 yang digunakan untuk pengadaan sapi dan jalur evakuasi.
  • Sejauh ini sudah dibangun hunian tetap (Huntap) di 17 lokasi sesuai SK Bupati. Masih ada dusun yang tidak bersedia direlokasi, yaitu di Srunen, Karang Tengah Lor dan Karang Tengah Kidul).
  • Dasar relokasi warga Merapi adalah berada di daerah aman, yaitu di luar Area Terdampak Langsung I di Kawasan Rawan Bencana III. Lokasi huntap tersebut adalah pada tanah kas desa untuk memudahkan administrasi warga.
  • Proses relokasi memiliki beberapa kendala, yaitu pada saat pra relokasi berupa terbatasnya lahan untuk relokasi. Mengingat lahan yang digunakan untuk relokasi adalah tanah kas desa, maka otomatis mengurangi jatah bagi perangkat desa. Namun demikian, jalan keluar untuk persoalan ini adalah pemerintah membeli tanah kas desa tersebut dan kemudian dana yang didapat dimasukkan sebagai bagian dari dana abadi desa.
  • Beberapa lokasi relokasi kontur tanahnya tidak rata, sehingga perlu dilakukan upaya untuk meratakan dan penimbunan/pengurukan. Hal ini menjadi biaya tak terduga yang menjadi tanggung jawab BPBD.
  • Pasca relokasi setelah warga menempati hunian tetapnya, maka permasalahan yang muncul adalah terjadi perubahan budaya masyarakat, karena rumah-rumah yang semula luas dan lapang, sekarang warga hanya mendapatkan 100 m2 untuk tanah dan rumah tipe 36 serta untuk fasum dan fasos seluas 50 m2.
  • Dari sisi perekonomian, warga juga harus menghadapi kenyataan lokasi huntap berada jauh dengan pekarangan yang ditinggalkan. Upaya pemerintah untuk mengatasi hal ini adalah dengan membangun balai warga, rumah ibadah, dan melengkapinya dengan kandang ternak.
  • Bila terjadi erupsi Merapi dan mengenai tanaman-tanaman warga, maka ada bantuan misalnya untuk tanaman salak warga yang rusak.
  • Berkaitan dengan koordinasi dengan berbagai pihak pada upaya RR, maka BPBD Kab. Sleman mengatur donatur yang akan memberikan bantuan. Di mana bantuan tersebut didistribusikan sekaligus apa jenis bantuan yang tepat. Hal ini dilakukan untuk menghindari tumpang tindih bantuan dan kekeliruan dalam memberi bantuan. Bantuan dari donatur tersebut rata-rata adalah fasum dan fasos, sarana perekonomian seperti kandang dan ada pula stimulan sapi. Bantuan lain juga berupa keterampilan dan modal dari Dinas Koperasi dan Pariwisata.
Wawancara2
Wawancara Bersama Warga di Lokasi Huntap Pagerjurang

Hasil Wawancara dengan warga di Huntap Pagerjurang, Ibu Jumiyati (60 tahun), Ibu Sri Rahayu (50 tahun), dan Bapak Suyamto (66 tahun).

  • Warga yang tinggal di Huntap Pagerjurang adalah warga dari Dusun Kaliadem.
  • Warga bersedia direlokasi karena rumahnya rusak tinggal lahan saja dan ternak mati. Kondisi ini menyebabkan warga meminta dilakukan relokasi. Selain itu, faktor trauma juga menjadi penyebab warga menerima tinggal di lokasi relokasi.
  • Saat ini, lahan milik warga di tempat tinggalnya yang lama sudah dilakukan proses reklamasi. Kebanyakan warga menggunakannya sebagai tempat berkebun atau mencari rumput untuk ternaknya. Sebagian juga ditanami dengan ketela, jagung, dan pisang.
  • Sebelum tinggal di lokasi relokasi, warga mengungsi di beberapa lokasi secara berpindah-pindah.
  • Dulu warga beternak sapi perah, tiap hari bisa menghasilkan 30-50 liter. Saat ini, warga sudah mendapatkan bantuan sapi, namun belum bisa diperah susunya. Sebagian warga sedang menunggu turunnya bantuan sapi.
  • Ekonomi warga didukung juga oleh menjual produk kerajinan termasuk batik, bakpia, keripik lele, dan lainnya. Para pria kebanyakan ikut menambang pasir, namun persoalannya saat ini dilarang menambang pasir dan jalur evakuasi rusak.
  • Warga menerima bantuan untuk membangun rumah sejumlah 30 juta dalam bentuk material bangunan. Proses pembangunan rumah sendiri dilakukan oleh warga secara bergotong royong dengan model rumah yang sama. Saat ini, rumah-rumah yang ada sudah dilakukan modifikasi sesuai kemampuan masing-masing warga.
  • Dalam penentuan lokasi relokasi, warga diajak untuk bermusyawarah. Warga menerima relokasi dengan prinsip tidak terlalu jauh dari lokasi awal/kampung semula.
  • Berbeda dengan warga Sinabung, warga Merapi ingin segera pulang karena ingin menengok rumah, ternak, dan pekarangannya.
  • Secara ekonomi, pengeluaran warga di lokasi relokasi bertambah. Hal ini disebabkan karena dahulu kebutuhan sayur mayur dapat dipenuhi sendiri, sementara saat ini kebutuhan tersebut harus membeli dari tukang sayur yang keliling di komplek warga. Selain tukang sayur, ada pula penjual-penjual lain yang berkeliling setiap hari.

    Wawancara3
    Bapak Suyamto memberikan keterangan kepada peserta lokakarya
  • Secara budaya, warga harus beradaptasi lagi. Dahulu rumahnya terpisah-pisah oleh pekarangan yang luas, namun sekarang selayaknya perumahan yang saling berdekatan, sehingga warga kurang bebas.
  • Warga masih memerlukan air untuk kebutuhan sehari-hari dan juga untuk kandang sapi.

Lain-lain

Beberapa dokumen yang  dihasilkan dari lokakarya ini di antaranya adalah:

  • Isian formulir template capture knowledge untuk pengetahuan proses relokasi dan mata pencaharian.
  • Daftar pertanyaan (kuesioner) kepada warga yang direlokasi dan BPBD.
  • Foto-foto dan rekaman video.

Penutup

Keberhasilan upaya penanggulangan bencana di suatu tempat perlu didokumentasikan sebagai bahan pembelajaran manakala melakukan upaya yang sama di lokasi lain. Pengetahuan praktis dari upaya ini perlu direkam, dikemas, dan disebarluaskan agar semakin banyak pihak yang memahami proses-proses penanggulangan bencana yang telah dilakukan.

Proses rehabilitasi dan rekonstruksi sebagai contoh, sangat memerlukan pendekatan budaya agar masyarakat bersedia menerima saat nanti harus direlokasi. Selain itu, keterlibatan masyarakat dalam penentuan lokasi relokasi, proses relokasi itu sendiri, dan pembangunan rumah juga menentukan keberhasilan warga selain program dan dukungan dari pemerintah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *