Krisis Eropa dan Perubahan iklim

MacedoniaMigrants

Ratusan ribu imigran mencari perlindungan ke Eropa, namun ribuan lainnya akan mengikuti seiring ilklim yang kian panas.

Dilansir dari The Huffington Post Australia, Sekretaris Negara Amerika Serikat, John Kerry, menyampaikan peringatannya dalam konferensi perubahan iklim di Arctic. Kekacauan dan peristiwa yang memilukan di Eropa karena pengungsi akan kembali terulang jika dunia tidak melakukan mitigasi perubahan iklim.

“Tunggu saja apa yang akan terjadi manakala tidak lagi tersedia air bersih dan makanan, atau ketika suku-suku saling berselisih hanya karena ingin selamat.” Demikian dikatakan Kerry.

Para pemimpin dunia telah mendapatkan peringatan bahwa bencana alam dan rusaknya lingkungan memiliki keterkaitan dengan perubahan iklim. Hal itu dapat menyebabkan orang-orang pergi dari rumahnya. Perwakilan dari Komisi Tinggi untuk Pengungsi PBB Antonio Guterres telah mengatakan pada tahun 2009 bahwa perubahan iklim akan menyebabkan ribuan orang mengungsi dan pergi dari tempat tinggalnya. “Bukan hanya negara, namun kebudayaan dan identitas pun akan terhapus.” Kata Guterres.

Pengungsian telah terjadi di seluruh dunia. Hampir 28 juta orang mengungsi karena bencana lingkungan dari tahun 2008 hingga 2013. Jumlah itu menurut Internal Displace Monitoring Centre, sekitar tiga kali lipat daripada mereka yang terusir karena konflik atau kekerasan.

Para ahli dan berbagai lembaga dunia lainnya mengalami kesulitan untuk memprediksi secara tepat berapa pengungsi yang akan terjadi seiring perubahan iklim. Sebab, selain kerusakan lingkungan dan perubahan iklim, masih banyak faktor lain yang berperan. Namun, mereka semua sepakat bahwa perubahan iklim adalah tantangan terbesar yang harus dihadapai berbagai pemerintahan di dunia.

Roger Zetter, profesor emeritus dari Oxford mengatakan, “Perubahan iklim dan pengungsi menjadi masalah tambahan bagi banyak negara berkembang di dunia. Pemerintah telah mengeluarkan banyak dana untuk penanggulangan banjir, rumah-rumah tahan gempa, atau pembangunan waduk untuk menampung air. Hal itu akan diperparah manakala perubahan iklim dan pengungsi terjadi karena perencanaan dan pembangunan menjadi makin sulit.”

Perubahan iklim di beberapa negara seperti di kepulauan Pasifik telah menjadi ancaman yang sangat serius. Sebagai contoh, Kiribati dipresiksi akan tenggelam di bawah naiknya permukaan air laut pada akhir abad ini. Namun, sebelum itu terjadi, sejumlah 103.000 penduduk yang tinggal di atol dan pulau karang akan lebih dahulu terdampak saat topan melanda atau air laut masuk ke daratan dan mencemari sumber air bersih mereka. Menghadapi persoalan tersebut, Pemerintah Kiribati telah membeli lahan seluas 6.000 hektar di Fiji sebagai upaya antisipasi bila pengungsian harus dilakukan.

Perubahan iklim juga berdampak pada meningkatnya bencana baik itu yang cepat (rapid onset) atau pun lambat (slow onset). Memanasnya temperatur menjadi penyebab meningkatnya bencana angin topan dan banjir musiman di berbagai negara. Sementara itu, dampak yang dirasa lebih lambat contohnya adalah kekeringan, penggurunan, dan naiknya permukaan air laut.

Kerusakan lingkungan yang menyebabkan warga berpindah terutama terjadi karena rusaknya penghidupan warga. Mereka tidak lagi bisa bertani, beternak, atau menangkap ikan karena kerusakan lingkungan atau kejadian bencana. Selanjutnya, mereka akan memilih untuk berpindah ke lokasi atau negara lain.

Faktor lain yang memicu terjadinya perpindahan penduduk adalah laju pertumbuhan penduduk. Saat penduduk kian padat, sumber daya alam digunakan melebihi batas dan akhirnya akan rusak. Kondisi makin parah karena terjadinya urbanisasi, penduduk pindah dari desa ke kota. Akibatnya, tekanan penduduk pada lingkungan perkotaan menghebat dan kerusakan lingkungan di kota pun makin menjadi. Banyaknya penduduk yang tinggal di kota juga menyebabkan meningkatnya penggunaan bahan bakar fosil untuk mengangkut berbagai kebutuhan mereka dari daerah-daerah di luar kota.

Warga yang pindah dari satu negara ke negara lain menjadi persoalan baru di negara tujuan. Dari sisi penduduk negara tujuan tersebut, banyak yang tidak suka akan kehadiran para pengungsi. Sementara itu, dari sisi pemerintah, banyak yang tidak siap dan tidak bersedia untuk menerima mereka.

Perubahan iklim yang terjadi diyakini sebagai efek samping dari proses industrialisasi di negara-negara maju. Di sisi lain, negara berkembang hanya menyumbang sedikit untuk perubahan iklim namun menjadi pihak yang paling menderita. Kini, dampak perubahan iklim tersebut telah dirasakan oleh seluruh dunia dan bila laju imigran benar-benar terjadi, maka negara-negara maju harus bersiap saat pintunya diketuk oleh para pengungsi.

Credit Picture: http://www.brunchnews.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *