Kolonialisme, Kapitalisme, Perubahan Iklim, dan Waktunya Kita Bergerak!

Oleh Naomi Klein

chimneys_fumes_cropped

Latar Belakang Masalah

Semua berawal pada masa kolonial dulu. Kala itu tidak ada pengakuan kepada pribumi. Para penjajah yang datang menganut paham ‘ras superiority’, ras merekalah yang paling hebat. Ini adalah dosa asal negara-negara maju dan mereka tak pernah belajar.

Kini beragam persoalan dihadapi oleh bangsa-bangsa di dunia, di antaranya adalah jumlah penduduk dunia yang terus meningkat dan juga rasisme. Selain itu, jamak terjadi pengabaian pada penduduk dan lahan yang dimiliki oleh masyarakat adat. Hasil akhirnya adalah apa yang kita lihat saat ini di Eropa, manakala pengungsi mendapat larangan yang keras untuk masuk ke satu negara.

Negara-negara yang menolak itu lupa, bahwa konflik yang terjadi di Syria mula-mula disebabkan karena kekeringan yang merupakan hasil dari perubahan iklim. Perubahan yang terjadi sebagai akibat dari industrialisasi besar-besaran yang kebanyakan dilakukan oleh mereka dua ratus tahun belakangan ini.

Saat ini, para pengungsi itu ditolak karena ada anggapan, ‘mereka berbahaya untuk kita’. Penolakan itu adalah wujud dari pengabaian kemanusiaan kepada orang lain. Penolakan itu juga menunjukkan keengganan mengorbankan kesejahteraan kita untuk orang lain.

Hasil akhirnya adalah proses birokratik yang rawan konflik, misalnya dengan menutup pintu untuk imigran yang datang ke satu negara. Mereka bersembunyi dari tanggung jawab kemanusiaan di bawah ketiak peraturan. Bagi mereka, saat keuntungan bisa didapat, maka tidak ada penderitaan yang terlampau besar. Biarkan orang lain yang menderita asal bukan kita.

Kita sebenarnya dapat menelusuri akar persoalan dari berbagai hal yang terjadi itu pada kapitalisme. Perpindahan dan pengumpulan kapital telah memicu naiknya laju perpindahan penduduk. Perubahan iklim yang marak terjadi pun berakar pada kapitalisme. Dampak lanjutannya adalah kerusakan lingkungan karena pengeboran minyak dan batu bara. Perubahan iklim pun makin terasa di negara kepulauan atau negara miskin yang terancam harus hidup di bawah muka air laut rata-rata.

Perubahan iklim bukan hanya disebabkan oleh peningkatan polusi karbondioksida, namun juga oleh kapitalisme. Kebijakan atau peraturan yang penuh kolusi adalah fenomena yang jamak. Keuntungan untuk kelompok pertambangan dan kerugian bagi mereka yang harus terusir dari rumahnya.

Saatnya Bergerak

Kita perlu bergerak membangun kolusi yang menguntungkan kita bersama. Keuntungan untuk para petani dan masyarakat adat. Bukan keuntungan untuk pemilik tambang dan segelintir masyarakat.

Barangkali Anda belum mengenal frasa ‘budaya yang dibuang’, maka berikut ini penjelasannya. Perusahaan atau negara menganggap orang miskin dan masyarakat adat tak ada harganya. Mereka tidak penting dan tak lebih dari sampah-sampah yang mengotori pandangan mata. Mereka mengambil apa yang diperlukan, apa yang menguntungkan, dan mengabaikan yang lainnya.

Contoh dari ‘budaya yang dibuang’ adalah apa yang terjadi di Nauru. Hutan-hutan hilang dari permukaan bumi pasca negara maju datang dan mulai membuka tambang-tambang fosfat. Akibatnya, negara kepulauan itu pun kehabisan sumber daya untuk mendukung kehidupan warganya. Nauru menjadi negara yang terbuang. Kendati negara itu telah menderita, namun pengorbanan mereka dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Satu ketika Nauru juga pernah menjadi surga untuk pencucian uang. Kini, negara itu mengalami kebangkrutan dari dua sisi: ekologi dan finansial.

Negara-negara kepulauan seperti halnya Nauru sangat rentan pada perubahan iklim. Penduduk mereka terjebak di sebuah pulau. Di belakang mereka, tanah bekas tambang yang sudah tidak dimanfaatkan lagi. Di depan, air laut makin naik dan akan menenggelamkan rumah-rumah mereka.

Nauru adalah satu peringatan, bagaimana sumber daya alam diambil dan tidak pernah diganti. Sebab, negara sampah, kecil, dan miskin itu, tak pernah dan tak bisa menagih ke negara-negara yang telah menjadikan mereka seperti itu.

Perlu dibangun budaya untuk memerhatikan satu sama lain. Satu budaya yang menciptakan solusi dan bukan persoalan. Budaya yang sungguh perlu di tengah dunia yang penuh dengan krisis. Budaya ini nantinya akan membantu kita untuk membuat lompatan ke sistem dan perekonomian yang baru.

Budaya itu ditandati dengan adanya penghormatan kepada masyarakat adat terutama mereka yang berada di sekitar hutan atau tambang. Perbaikan hubungan kita dengan masayarakat adat ini sesuai dengan peraturan PBB mengenai hak-hak masyarakat adat. Kita dan mereka harus saling memerhatikan satu sama lain. Kita dan mereka bersama-sama membangun kepedulian untuk planet, rumah kita dan satu-satunya yang bisa kita tinggali.

Perlu dilakukan pengurangan jam kerja dan penyebarluasan penggunaan energi terbarukan. Cita-cita ekonomi bersih yang disepakati para pemimpin dunia akan dicapai di akhir abad hendaknya disegerakan. Tak perlu lagi dibangun infrastruktur yang akan memboroskan energi, minyak, batu bara dan gas bumi. Tak perlu lagi dibuka pertambangan-pertambangan baru yang akan makin merusak ibu bumi.

Perlu diubah siapa yang mendapatkan keuntungan dengan mengubah proses-proses ekonomi. Sudah saatnya berubah, bukan lagi mereka para pemilik perusahaan yang mendapatkan keuntungan dan meninggalkan masyarakat adat menderita. Kita perlu belajar dari Jerman yang sudah menggunakan 30% energinya dari sumber daya terbarukan. Bahkan, mereka sudah bisa menyediakan 80% energi terbarukan saat musim panas.

Masyarakat adat perlu mendapatkan dukungan publik. Mereka harus memiliki program energi bersih sendiri. Tempat mereka harus diubah dari wilayah yang dikorbankan menjadi daerah yang diberdayakan. Perlu dilakukan pemerataan distribusi kesejahteraan yang akan memperkuat demokrasi dan ekonomi. Hal tersebut juga akan mengobati luka-luka yang diderita masyarakat adat. Apabila keadilan iklim itu memang ada, maka kira-kira beginilah wajahnya.

Berkaitan dengan hubungan pemerintah dan dunia usaha, maka sistem perdagangan dan pertambangan yang hanya akan merusak bumi tidak bisa lagi diterima. Semua pihak hendaknya mendefiniskan ulang apa itu ‘green jobs’. Perlu ditutup hubungan kerja sama antara pengusaha dengan pemerintah di mana kolusi kerap terjadi. Media yang tidak memerhatikan isu lingkungan harus ditolak. Pendek kata, berbagai hal yang selama ini terjadi dan ada di sekitar kita serta membahayakan bagi keberlangsungan bumi dan manusia di dalamnya harus diubah.

Semua hal yang perlu dilakukan itu memang tampak sulit. Namun, Anda harus ingat sulit bukanlah sesuatu yang mustahil. Perubahan dari masyarakat tradisional di zaman dulu menjadi manusia modern seperti sekarang ini tampak sebagai hal yang mustahil, namun toh terjadi juga. Menggunakan pola pemikiran yang sama, maka perubahan ke arah yang lebih baik itu pun mestinya bisa dilakukan.

Manakala para pemimpin mendengarkan suara-suara dari rakyatnya. Ketika mereka bisa menerjemahkan risiko yang dihadapi warganya. Perubahan sistem politik harus dilakukan bukan untuk mereka yang sudah kaya dan tua, namun untuk anak cucu yang berhak atas masa depan yang lebih baik. Sekaranglah saatnya perubahan itu.

  • Lawanlah bisnis yang merusak lingkungan!
  • Usahakanlah pengurangan emisi!
  • Hapuslah kemiskinan dan ketidakadilan!
  • Berjuanglah untuk masa depan!
  • Mari bergerak, karena hal-hal besar menanti di depan sana.

Tulisan ini adalah terjemahan bebas dari paparan Naomi Klein dalam Festival of Dangerous Ideas yang bisa Anda saksikan selengkapnya di sini:

Credit Picture: http://www.prtr-es.es/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *