Kepemimpinan dalam Penanggulangan Bencana

Ketangguhan menurut UNISDR (2005) didefinisikan sebagai kapasitas suatu sistem, komunitas atau masyarakat dalam menghadapi ancaman. Kapasitas ini ditentukan oleh tingkat kemampuan sistem sosial dalam mengorganisasi dirinya melalui pembelajaran dari bencana di masa lalu untuk meningkatkan kemampuan dalam pengurangan risiko akibat bencana.

Risiko bencana berkaitan dengan dua faktor penting. Pertama, berkaitan dengan tingkat kerentanan (vulnerability) suatu komunitas atau daerah dalam mengantisipasi, mempersiapkan diri, memberikan tanggapan, dan memulihkan diri. Faktor kedua berkaitan dengan ancaman (hazards) risiko bencana yang terjadi di daerah tersebut.

Faktor lainnya adalah kepemimpinan (leadership). Kepemimpinan dapat diterjemahkan sebagai kepemimpinan formal dan struktural, serta kepemimpinan informal dan kultural.

Pemimpin dalam situasi bencana dituntut untuk berani dalam mengambil keputusan untuk bertindak yang cepat dan tepat. Selain itu, perlu juga kearifan dalam memutuskan kebijakan yang diambil, serta peka dalam menyikapi situasi yang terjadi tanpa harus terbebani prosedural yang mengikat. Diperlukan kecepatan dalam mengoordinasikan berbagai instansi, lembaga, dan organisasi kemasyarakatn yang terlibat untuk mendapatkan sasaran penindakan yang tepat. Dibutuhkan keberanian dalam pengambilan keputusan bertindak yang cepat.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *