Kerentanan

VulnerabilityAssessment

Menurut UN-IDNDR, fokus penanggulangan bencana perlu diubah dari pasca bencana (tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi) ke pra bencana (mitigasi dan kesiapsiagaan). Pengurangan risiko bencana terbukti lebih efektif pembiayaannya. (UN-IDNDR 1990-1999).

Pembangunan seyogyanya dilakukan dengan berfokus pada pemberdayaan pemerintah daerah dan kelompok masyarakat untuk meningkatkan ketangguhan warga dari kerentanan.

Ada keterkaitan antara pengurangan kemiskinan dan pengurangan risiko bencana. Penduduk yang menderita karena kemiskinan juga sangat rentan terhadap risiko bencana. Secara khusus, kerentanan sosial pada saat bencana adalah karakteristik yang terjadi di negara berkembang dan penekanannya lebih kepada aktivitas sosial dan ekonomi.

Kerangka Kerja Kebijakan Mengenai Kerentanan

Kerangka Kerja Hyogo 2005-2015: Membangun ketangguhan bangsa dan masyarakat dalam bencana mendefinisikan ‘kerentanan’ sebagai kondisi fisik, sosial, ekonomi, dan lingkungan yang yang dapat meningkatkan kelemahan masyarakat dalam menerima dampak bencana.

Kerangka Kerja Pembangunan Manusia dalam Keamanan (UNDP 1994): kerentanan meliputi tujuh sektor: ekonomi, sosial, politik, lingkungan, komunitas, budaya, dan individu.

Kerentanan sosial adalah suatu kondisi saat ketimpangan dan keterpaparan akan merusak dan mengurangi kemampuan kelompok masyarakat untuk menanggulangi bencana. Beberapa faktor yang memengaruhi kerentanan tersebut antara lain adalah: ketimpangan lokasi, karakteristik masyaraakat, pembangunan lingkungan, urbanisasi, laju pertumbuhan, dan pembangunan ekonomi. Namun, pengetahuan mengenai faktor sosial yang memengaruhi kerentanan masih terbatas dan biasanya diabaikan karena sangat sulit untuk mengukurnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *