Kerangka Kerja Baru dalam Pengurangan Risiko Bencana

Perwakilan dari 187 negara anggota UN pada (18/03) telah mengadopsi persetujuan utama dan pertama pasca agenda pembangunan 2015. Kerangka kerja baru dalam pengurangan risiko bencana yang diadopsi tersebut berisi tujuh capaian target dan empat prioritas aksi.

Pemimpin konferensi, Mr. Eriko Yamatani, Menteri Negara untuk Penanggulangan Bencana, membacakan teks tertulis kesepakatan tersebut. ‘Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana 2015-2030 adalah acuan kerja baru bagi aktivitas pengurangan risiko bencana. Kesepakatan tersebut, seperti dilansir oleh laman WCDRR, dicapai setelah melalui negosiasi yang alot di antara peserta dan memakan waktu hingga lebih dari 30 jam.

Margareta Wahlström, Sekretaris Jenderal dan Perwakilan Khusus untuk Pengurangan Risiko Bencana, serta Kepala Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNISDR) mengatakan, “Adopsi kerangka kerja baru dalam pengurangan risiko bencana ini membuka satu babak baru dalam pembangunan berkelanjutan dengan melakukan aksi yang lebih jelas tujuan dan prioritasnya untuk mengurangi risiko, hilangnya nyawa, penghidupan, dan juga kesehatan.”

“Pelaksanaan dari kerangka kerja Sendai untuk pengurangan risiko bencana dalam 15 tahun ke depan memerlukan komitmen dan kepemimpinan politik. Hal ini juga penting untuk mencapai kesepakatan di masa depan sesuai tujuan dari pembangunan berkelanjutan dan iklim. Sekjen PBB dalam pembukaan konferensi ini pun berkata bahwa keberlanjutan diawali dari Sendai.”

Kerangka kerja tersebut berisi tujuh capaian global yang harus dipenuhi dalam 15 tahun, yaitu: pengurangan jumlah korban meninggal akibat bencana, pengurangan jumlah warga terdampak, pengurangan pada kerugian ekonomi dan kaitannya dengan GDP global, pengurangan kerusakan pada infrastruktur penting dan sarana vital bagi pemenuhan kebutuhan dasar seperti pada fasilitas kesehatan dan pendidikan, peningkatan jumlah negara yang memiliki strategi pengurangan risiko bencana di level lokal dan nasional pada tahun 2020, peningkatan kerjasama internasional, peningkatan akses pada peringatan dini multi bencana, informasi risiko dan penilaian bencana.

Pemimpin konferensi, Ibu Yamatani, mengatakan, “Hubungan Jepang dengan komunitas pengurangan risiko bencana global makin erat sebagai hasil dari konferensi dunia ini. Kesuksesan pelaksanaan kerangka kerja baru berarti pengurangan tingkat risiko bencana saat ini dan juga menghindari risiko baru yang mungkin muncul di masa depan.”

Wakil Ketua Komite Utama Konferensi, Duta Besar Paivi Kairamo dari Finlandia berkata, “Para delegasi dari negara peserta memberikan berbagai pengalaman dari pelaksanaan kerangka kerja Hyogo selama ini. Kita telah bersepakat dalam empat prioritas aksi yang berfokus pada pemahaman yang lebih baik akan risiko, penguatan pemerintah serta peningkatan investasi untuk pengurangan risiko.

“Prioritas akhir memerlukan kesiapsiagaan menghadapi bencana yang lebih efektif, serta praktik ‘build back better’ untuk fase pemulihan, rehabilitasi dan rekonstruksi. Semua hal tersebut adalah 4 titik tujuan atau prioritas aksi PRB dalam 15 tahun ke depan.

Konferensi dunia tersebut dihadiri lebih dari 6.500 peserta, termasuk 2.800 wakil pemerintah dari 187 negara. Forum untuk masyarakat umum diikuti oleh 143.000 pengunjung selama konferensi digelar dan menjadikannya sebagai pertemuan UN terbesar yang pernah diselenggarakan di Jepang.

1 thought on “Kerangka Kerja Baru dalam Pengurangan Risiko Bencana”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *