Kekeringan + Politik = Konflik Suriah

17 Nov 2010, Ar Raqqah, Syria --- Sheikh Ghazi Rashad Hrimis touches dried earth in the parched region of Raqqa province in eastern Syria, November 11, 2010. Lack of rain and mismanagement of the land and water resources have forced up to half of million people to flee the region in one of Syria's largest internal migrations since France and Britain carved the country out of the former Ottoman Empire in 1920. REUTERS/Khaled al-Hariri (SYRIA - Tags: AGRICULTURE ENVIRONMENT) --- Image by © KHALED AL-HARIRI/Reuters/Corbis
17 Nov 2010, Ar Raqqah, Syria REUTERS/Khaled al-Hariri (SYRIA – Tags: AGRICULTURE ENVIRONMENT) — Image by © KHALED AL-HARIRI/Reuters/Corbis

Pada periode antara tahun 2006 sampai dengan tahun 2011, tercatat bencana kekeringan melanda hampir separuh Negara Suriah. Bencana kekeringan kali ini lebih parah dan berlangsung lebih lama. Peristiwa ini tidak bisa lagi dijelaskan dengan variasi alami dari cuaca. Ini adalah dampak dari perubahan iklim.

Kerugian yang ditimbulkan sungguh menyengsarakan karena hampir 85% ternak mati. Lahan pertanian Halaby yang dikenal karena produksi paprikanya pun hampir semua tanamannya layu.

Presiden Bashar al-Assad tidak berbuat banyak untuk meringankan dampak bencana itu. Pemerintahan memberikan hak pengelolaan sumur kepada kroni-kroni politiknya dan warga harus menggali sumurnya sendiri secara ilegal. Apabila ada warga yang berani berteriak memprotes hal itu, maka akan ditahan, disiksa, bahkan menemui kematian.

Sebagai akibat lanjutan dari kekeringan dan pengabaian oleh pemerintah, hampir satu juta penduduk desa kehilangan lahan pertaniannya karena kekeringan. Mereka pun mulai pindah ke kota yang juga sudah padat seperti di Daraa.

Di kota, persoalan air justru makin mengerikan. Di sana juga tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan. Beberapa petani kaya cukup beruntung untuk bekerja sebagai petugas keamanan.

Menghadapi persoalan itu, beberapa kelompok remaja mengekspresikan rasa frustasinya. Mereka meminjam slogan-slogan dari negara tetangga seperti Mesir dan Tunisia. Mereka mencoret-coret dinding dengan pylox yang berbunyi, ‘Rakyat ingin pergantian rejim.’ Akhirnya, polisi pun mengamankan dan menahan para remaja itu. Di penjara, polisi memukul dan menyiksa mereka. Kulit mereka dibakar atau kuku dicabut oleh para petugas.

Remaja itu rupanya berasal dari keluarga-keluarga penting di Kota Daraa. Tidak terima dengan perlakuan yang diterima putra mereka, maka protes pun dilakukan di depan rumah gubernur. Kemudian protes pun menyebar di seantero negeri dan dalam waktu singkat gerakan pun muncul di kota-kota lain di Suriah. Protes itu menyebar mengikuti jalur yang ditinggalkan oleh kekeringan: Daraa, Damaskus, Aleppo, Al-Hasakah, Al-Qamishli.

Ketegangan yang makin meningkat di Suriah ini tidaklah biasa. Sebelum perang, Suriah selalu stabil. Apabila ada kericuhan, maka itu bisa berkembang menjadi konflik di tempat lain, tapi bukan di Suriah. Keributan yang merugikan tatanan sosial tak pernah diprediksi di Suriah. Majalah Time juga membuat prediksi bahwa demonstrasi di Suriah tak akan menjadi momentum yang cukup untuk mengancam pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.

Para analis juga menganggap remeh demonstrasi yang terjadi dan bahkan mereka gagal untuk menghubungkan kerusuhan dengan kekeringan yang terjadi antara tahun 2006-2011. Mereka mengakui, para ahli tidak pernah melihat isu lingkungan secara serius. Padahal, dampak dari kekeringan pada satu setengah juta orang yang kehilangan pekerjaan sangatlah mengerikan. Mereka tidak bisa bekerja, tidak tahu ke mana harus pergi untuk mendapatkan makanan, mereka pun meninggalkan desa-desa, dan pindah ke kota. Proses perpindahan itu menyebabkan krisis sosial dan menjadi lahan yang subur untuk benih-benih pergerakan revolusioner.

Setelah bertahun-tahun di bawah kepemimpinan yang kejam, maka dampak dari perubahan iklim seakan-akan menjadi pembuka jalan untuk pergerakan. Jika kekeringan itu bisa dihentikan, Suriah diprediksi tetap akan kehilangan hingga 50% kemampuan pertaniannya pada tahun 2050. Sementara itu, jika tingkat gas rumah kaca masih tetap sama, maka kekeringan dan kelangkaan air dikhawatirkan akan makin parah.

Suriah menjadi pengingat, bagaimana konflik dapat muncul jika kondisi politik yang buruk bertemu dengan dampak perubahan iklim seperti kekeringan.

Tulisan ini adalah terjemahan bebas dari komik yang dapat Anda baca selengkapnya di sini: http://www.upworthy.com/trying-to-follow-what-is-going-on-in-syria-and-why-this-comic-will-get-you-there-in-5-minutes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *