IPCC: Perubahan Iklim Menyebabkan Cuaca Ekstrem

Muka air laut yang semakin tinggi menyebabkan daerah pesisir semakin rentan, meningkatnya kejadian cuaca yang ekstrem akan menghantam perekonomian dan kehidupan. Demikian laporan IPCC, sebuah badan yang terdiri dari berbagai peneliti tentang perubahan iklim yang dibentuk oleh PBB.

Para peneliti sudah memberikan peringatan ini bertahun lalu, namun laporan IPCC tersebut, adalah laporan khusus mengenai cuaca ekstrem yang disusun selama lebih dari dua tahun oleh 220 ahli. Ini adalah pertama kalinya, sebuah laporan disusun secara komprehensif untuk menilai dari segi keilmuan pada materi perubahan iklim, sebagai usaha untuk mencapai keputusan yang pasti. Dalam laporan tersebut berisi peringatan yang jelas terutama kepada negara berkembang, yang karena letak geografisnya akan mengalami dampak terburuk dari perubahan iklim. Infrastruktur dan kondisi perekonomian di negara-negara tersebut juga kurang dipersiapkan untuk menghadapi iklim ekstrem dibandingkan negara maju. Kendati demikian, negara maju tetap menghadapi ancaman dari hujan badai, gelombang panas, dan kekeringan yang menimbulkan korban.

Chris Field, wakil ketua IPCC yang menulis laporan mengatakan, bahwa pesan yang ingin disampaikan sangatlah jelas, yaitu cuaca ekstrem terjadi lebih sering. “Kejadian ekstrem yang penting telah berubah dan akan terus berubah pada masa yang akan datang. Terdapat bukti yang jelas dan tak terbantahkan, kami juga mengetahui penyebab terjadinya kerugian akibat bencana.”

Beliau mendorong pemerintah untuk melakukan tindakan, banyak dampak ekonomi dan korban manusia dapat dihindari bila langkah antisipasi dilakukan. “Kita telah kehilangan banyak nyawa dan aset perekonomian karena bencana.”

Kepala lembaga iklim Eropa, Connie Hadegaard, mengatakan bahwa laporan tersebut hendaknya memicu pemerintah untuk melakukan tindakan, terutama karena adanya peringatan dari Badan Energi Internasional yang mengatakan bahwa dunia hanya memiliki waktu lima tahun untuk mengambil langkah-langkah dalam pemotongan emisi guna menghindari bencana akibat pemanasan global. “Dengan berbagai pengetahuan dan argumentasi yang logis mengenai perlunya tindakan untuk mengatasi perubahan iklim,  sangat menyedihkan bahwa ada beberapa pemerintahan yang seolah tak peduli. Fakta yang dikumpulkan mengenai perubahan iklim terus bertambah, kepada pemerintahan yang belum juga mengambil tindakan, pertanyaannya kemudian adalah, sampai seberapa lama mereka akan terus berdiam diri?” Kata Connie.

Bob Ward, Direktur Kebijakan dan Komunikasi di Grantham Research Institute, London School of Economics, mengatakan bahwa laporan IPCC tersebut sebagai penanda semakin jelasnya dampak perubahan iklim. Kata Ward, “Tinjuan dari para ahli berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang ada menunjukkan bahwa perubahan iklim telah memberikan dampak di berbagai belahan dunia baik dari sisi frekuensi, intensitas, dan lokasi dalam bentuk kondisi cuaca ekstrem, gelombang panas, kekeringan, dan banjir bandang. Ini perlu menjadi catatan karena kejadian ekstrem sangatlah jarang dan secara statistik sulit mendeteksi tren terjadinya karena data yang ada masih sangat sedikit. Lebih jauh, tren tersebut telah diidentifikasii selama beberapa dekade terakhir ketika peningkatan suhu rata-rata hanya beberapa derajat. Laporan tersebut menunjukkan, jika kita tidak menghentikan level peningkatan gas rumah kaca di atmosfer, maka kita akan melihat lebih banyak lagi pemanasan dan perubahan dramatis pada cuaca ekstrem yang tampaknya akan mengganggu usaha manusia untuk beradaptasi.”

Namun, laporan tersebut juga perlu diberi catatan karena sulitnya menentukan secara spesifik kejadian cuaca ekstrem pada pemanasan global yang disebabkan oleh manusia. Menghubungkan kerugian ekonomi, seperti kerusakan karena badai dan banjir juga sangatlah sulit karena banyak faktor yang terlibat. Peningkatan laju urbanisasi dan kesejahteraan berarti kerugiaan saat ini lebih besar daripada di masa lalu.

Kondisi ini akan menimbulkan perdebatan pada masa datang saat pemerintah negara maju harus menyediakan pendanaan kepada negara berkembang untuk menolong masyarakat beradaptasi pada dampak perubahan iklim.

Para peneliti masih ragu apakah perubahan iklim menyebabkan peningkatan frekuensi topan. Namun, terdapat peringatan keras untuk belahan bumi utara dan wilayah Eropa serta Amerika Utara yang saat ini sering mengalami topan merusak. Ada ‘Poleward Shift’ atau perubahan kutub pada pola badai yang berarti topan merusak akan lebih sering terjadi di wilayah seperti New York atau wilayah Eropa yang berada di pesisir Atlantis.

Pemodelan ilmiah juga menunjukkan kecenderungan pada durasi, frekuensi, dan intensitas gelombang panas meningkat di daratan. Hal ini berarti, rekaman hari-hari sangat panas, yang semula hanya sekali dalam 20 tahun, sekarang ini hampir terjadi setiap tahun. Dampak kondisi ini sangat terasa pada lansia dan balita yang lebih rentan pada perubahan temperatur.

Dalam laporan tersebut dikatakan, “Kecenderungan frekuensi hujan lebat atau proporsi total hujan lebat akan meningkat pada abad ke 21 di berbagai area di dunia. Hal ini terjadi utamanya pada daerah lintang tinggi atau wilayah tropis, serta pada daerah dingin di sebelah utara lintang tengah. Hujan sangat lebat yang berasosiasi dengan topan tropis akan menyebabkan meningkatnya pemanasan.” Hal tersebut mengindikasina bahwa, hujan sangat lebat yang semula terjadi sekali dalam dua puluh tahun saat ini akan terjadi sekali setiap lima tahun. Para ilmuwan masih kesulitan untuk menghubungkan fenomena ini dengan frekuensi terjadinya banjir, sebab banjir tergantung pada kondisi lokal seperti topografi. Di samping itu, banjir dan tanah longsor terjadi karena hujan lebat yang diselingi dengan musim kering.

Para ilmuwan juga mempercayai, bahwa kekeringan akan makin intensif di abad ke 21 pada beberapa musim dan lokasi karena berkurangnya banjir atau meningkatnya penguapan di daratan. Mereka mengatakan daerah yang paling rentan adalah Eropa bagian selatan, Mediterania, Eropa Tengah, bagian tengah Amerika Utara, Amerika Tengah, Meksiko, Timur Laut Brasil, dan Afrika bagian selatan.

Simon Brown, manajer penelitian iklim ekstrem di Hadley Centre, pusat penelitian iklim di Kantor Meteorologi Inggris berkata, “Fokus laporan IPCC pada cuaca ekstrem sangatlah tepat karena hal ini kurang mendapat perhatian padahal menjadi hal pertama yang mendera masyarakat yang terpapar perubahan iklim. Kerentanan masyarakat terutama terjadi karena adanya cuaca ekstrem, sehingga sangatlah tepat apabila IPCC berfokus pada hal ini, apakah akan berubah menjadi lebih buruk, meluas atau dengan konsekuensi yang sangat signifikan. Laporan ini akan sangat berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan karena terdiri dari berbagai disiplin ilmu, bukan hanya aspek fisik cuaca ekstrem namun juga bagaimana kita beradaptasi dan bertindak pada perubahan yang terjadi di masa depan.

Tim Gore, pengarah pada perubahan iklim Oxfam berkata, “Ini adalah peringatan bagi para pemimpin dunia untuk bertindak saat ini juga menghadapi perubahan iklim guna menyelamatkan kehidupan dan perekonomian. Hubungan antara perubahan iklim dan peningkatan frekuensi serta intensitas cuaca ekstrem makin terasa dan warga negara miskin yang akan terdampak paling parah dari kejadian tersebut. Banjir dan kekeringan yang baru-baru ini terjadi di Asia Timur dan juga wilayah Tanduk Afrika dapat menghancurkan pertanian, membuat harga makanan makin mahal dan menyebabkan kelaparan pada masyarakat yang miskin.”

Beliau menambahkan, “Diperkirakan satu dolar yang diinvestasikan untuk perubahan iklim akan mampu mengurangi 60 dolar kerusakan yang mungkin terjadi. Pemerintah harus mencari sumber pendanan baru dan menghindari pengeluaran yang lebih besar untuk menangani bencana nantinya.”

Sumber tulisan dari sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *