Hunian Tetap Sebuah Dilema

Kenapa warga terdampak erupsi Merapi yang tinggal di hunian tetap masih juga pulang ke rumahnya?

Adalah mustahil memutus ikatan psikologis dengan rumah tinggal, di mana orang lahir dan dibesarkan. Tindakan warga terdampak erupsi Merapi yang senantiasa pulang kembali ke rumah asalnya sudah dilandasi perhitungan dan kebijaksanaan.

Perhitungan dan kebijakan itu seringkali tak sejalan dengan buah pemikiran para pakar atau akademisi. Namun, warga di lereng Merapi itu sudah paham risiko yang harus dihadapi, bahkan telah akrab dengannya.

Sikap terhadap hunian tetap sendiri berbeda-beda antara masyarakat di Aceh, Wasior, dan Yogyakarta.

Bagi masyarakat korban bencana di Aceh dan Wasior, huntap lebih sebagai tempat berteduh. Oleh sebab itu, mereka tak terlalu menghiraukan penghuni lain yang berada di ruangan yang sama.

Di Jawa Tengah dan Yogyakarta kondisinya berbeda. Penghuni akan merasa nyaman bila memiliki ruang sendiri. Manakala seorang penghuni memiliki ruang sendiri biarpun kecil, maka ia tak akan terlalu menghiraukan dengan ketersediaan fasilitas lainnya.

Selain menyangkut hunian tetap, terdapat juga perbedaan perlakuan terhadap orang tua dan dampaknya.

Di kalangan masyarakat Sumatera dan Papua yang juga sesuai dengan standar dari UNDP, orang tua perlu ditempatkan khusus dan terpisah serta mendapat perlakuan yang khusus pula.

Di Jawa, apabila seorang tua dipisahkan dari anak-anak dan keluarganya, maka bisa sangat berbahaya. Penyebab terjadinya hal ini adalah fungsi perawatan dan kepedulian dari anak/cucu ke orang tua yang sangat diperlukan di wilayah ini.

Saat ini, banyak warga yang setelah direlokasi masih kembali ke atas untuk menjalani kegiatan sehari-hari seperti biasa. Tindakan tersebut menganut prinsip ‘tinggal di bawah, kerja di atas.’

Strategi menjauhkan masyarakat dari bencana memang tak selalu harus melalui relokasi dari kawasan rawan bencana, tapi dengan mendukung kemampuan masyarakat agar dapat hidup harmonis dengan bencana dan juga mengembangkan kearifan lokal.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *