Hentikan Penggunaan Bahan Bakar yang ‘Kotor’

Laporan dari PBB mengenai pembatasan perubahan iklim mengungkapkan bahwa masyarakat dunia harus segera berpindah dari penggunaan bahan bakar yang memicu karbon. Dalam laporan yang diluncurkan di Berlin tersebut, dikatakan bahwa perubahan secara besar-besaran ke energi terbarukan harus dilakukan. Laporan tersebut adalah hasil negosiasi antara ilmuwan dan para pejabat di pemerintahan. Laporan tersebut adalah hasil kerja IPCC, yang mencoba menyediakan bukti-bukti mengenai dampak dari perubahan iklim.

Gas alam dipandang sebagai sumber baru yang dapat menggantikan minyak bumi dan batu bara. Namun, terdapat perdebatan di antara peserta mengenai siapa yang akan mengeluarkan anggaran untuk perubahan sumber energi tersebut.

Ringkasan untuk para pengambil kebijakan memberikan gambaran tentang dunia yang mengalami peningkatan pelepasan karbon secara cepat. “Kereta mitigasi yang berkecepatan tinggi harus segera meninggalkan stasiun dan semua warga dunia harus berada di dalamnya.” Demikian dikatakan ketua IPCC Rajendra Pachauri kepada wartawan di Berlin pada saat peluncuran laporan tersebut.

Dr Youba Sokono sebagai wakil ketua IPCC untuk kelompok kerja ke tiga yang menyusun laporan mengatakan bahwa ilmu pengetahuan telah membuktikan dampak perubahan iklim. Beliau menambahkan, bahwa pengambil kebijakan sebagai ‘the navigator’ mereka harus mengambil keputusan, sementara para ilmuwan adalah pembuat petanya.

Sekretaris Badan Energi dan Perubahan Iklim Inggris, Ed Davey mengatakan, bahwa pemanasan global harus diantisipasi menggunakan semua teknologi. Dia menyampaikan kepada BBC News, “Kita dapat melakukannya, kita harus melakukannya karena ini adalah tantangan dan sangat mengancam kehidupan ekonomi dan sosial, kesehatan kita dan juga ketahanan pangan. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa kita bisa menghadapinya apabila kita punya kemauan.”

Beliau menambahkan, bahwa pemerintah Inggris adalah perintis penggunaan energi terbarukan. “Kita sudah meningkatkan listrik dengan energi terbarukan sebanyak dua kali lipat dalam beberapa tahun terakhir. Sepertinya kita sudah melampaui target dalam peningkatan jumlah listrik yang menggunakan energi terbarukan. Namun, kita harus terus meningkatkannya.”

Dari jumlah karbon yang ada di atmosfer sejak 1750, setengah di antaranya baru dihasilkan dalam empat puluh tahun terakhir. Angka karbon di atmosfer tersebut meningkat cepat sejak tahun 2000 meskipun saat itu terjadi krisis ekonomi global.

Laporan IPCC menyoroti peningkatan penggunaan batu bara dalam satu dekade sejak perubahan millenium sebagai ” kebalikan tren yang sudah lama terjadi mengenai pengurangan karbon sebagai penyedia energi dunia.”

Diawali dari peningkatan populasi dunia dan aktivitas ekonomi, suhu permukaan global meningkat antara 3,7 sampai 4,8 derajat celcius pada tahun 2100 bila tidak ada upaya baru yang dilakukan. Jumlah tersebut adalah dua derajat lebih tinggi dari titik di mana pengaruh perubahan iklim akan terasa. Namun, para peneliti yang terlibat dalam laporan mengatakan bahwa situasi tersebut dapat berubah.

“Perlu perubahan yang mendasar di sektor energi, hal tersebut tak terbantahkan lagi.” Demikian dikatakan oleh Prof. Jim Skea, salah seorang wakil dari kelompok kerja 3. “Satu hal yang sangat penting adalah mengeluarkan karbon sebagai sumber listrik, sehingga energi terbarukan, nuklir, bahan bakar fosil dengan kandungan karbon yang disimpan, semua hal tersebut adalah bagian dari sumber energi yang memungkinkan terjadinya perubahan, sehingga pemanasan yang terjadi masih di bawah dua derajat celcius.”

Hal tersebut bukanlah sebuah usaha yang sederhana. Guna menjaga agar perubahan iklim tetap berada di bawah dua derajat, jumlah karbon di udara harus berkisar antara 450 bagian per sejuta pada tahun 2100. Agar angka tersebut tercapai, maka emisi pada 2050 haruslah antara 40-70% lebih rendah daripada emisi di tahun 2010.

Laporan IPCC mengungkapkan bahwa bahan bakar terbarukan adalah bagian yang paling penting. Semenjak laporan terakhir pada tahun 2007, para ilmuwan mengatakan bahwa energi terbarukan penggunaannya telah meningkat dengan pesat.

Pada tahun 2012, energi terbarukan menyumbang lebih dari setengah dari total listrik yang dihasilkan di seluruh dunia. Para ilmuwan menekankan bahwa energi terbarukan lebih ekonomis dibandingkan energi berbahan bakar fosil, serta menawarkan berbagai keuntungan, termasuk udara yang bersih dan keamanan.

“Hal ini benar-benar akan menjadi akhir dari era sumber energi karbon.” Demikian dikatakan Jennifer Morgan dari World Resources Institute, yang menjadi salah seoran editor dari satu bab di laporan IPCC. “Perlu ada perubahan yang drastis dan secepatnya dari energi berbahan dasar fosil menjadi 100% energi bersih.”

Prof. Ottmar Edenhofer, wakil ketua dari kelompok kerja 3, mengatakan, “Mitigasi bukan berarti dunia harus mengorbankan pertumbuhan ekonomi.” Beliau menjabarkan, bahwa laporan IPCC menginformasikan mengenai ‘harapan sederhana’, namun beliau menambahkan, “Kebijakan iklim bukanlah makan siang gratis.”

Salah satu dukungan yang cukup mencengangkan dalama laporan adalah pada gas alam. “Emisi dari penyediaan energi dapat dikurangi secara signifikan dengan mengganti pembangkit listrik berbahan bakar batu bara dengan kombinasi gas alam yang lebih modern dan efisien.” Demikian dikatakan dalam laporan.

Laporan tersebut juga menyinggung peran gas alam sebagai ‘jembatan’ teknologi seiring dengan meningkatnya pembangunannya sebelum mencapai puncak dan kemudian jatuh di bawah level saat ini pada tahun 2050. Namun, banyak skenario yang dinilai oleh panel masih mencantumkan ‘kekurangan’ dari rentang target.

Guna mengatasi hal tersebut, dunia perlu kiranya untuk menghapus karbon dari atmosfer. Kombinasi pengikatan dan penyimpanan karbon dengan bioenergi dipandang sebagai salah satu solusi yang potensial, namun hal ini kurang disambut antusias dalam laporan. Di dalamnya, upaya ini dianggap belum meyakinkan dan berasosiasi dengan risiko.

Waktu adalah segalanya, demikian dikatakan oleh para ilmuwan.

“Penundaan upaya mitigasi saat ini sampai dengan tahun 2030 diperkirakan akan meningkatkan secara drastis kesulitan untuk perpindahan ke emisi jangka panjang yang lebih rendah.” Demikian ditulis dalam rangkuman laporan.

“Jika kita menunda, maka kita akan menghadapi pilihan yang lebih sulit.” Dikatakan, Prof, Skea. “Apa kita akan menyerah dengan target dua derajat atau apakah kita akan menggunakan teknik-teknik yang dapat menyerap CO2 dari atmosfer? Jika kita mengantisipasi lebih awal dan tercapai kesepakatan di Paris tahun depan, maka harapan pada ide ini haruslah dikurangi.”

Dikatakan dalam laporan tersebut, perlu ada perubahan yang mendasar dalam investasi jika dampak yang lebih buruk dari peningkatan temperatur ingin dihindari. Investasi dalam energi terbarukan dan sumber energi yang rendah karbon lainnya perlu ditingkatkan tiga kali lipat dalam pertengahan abad, sementara arus uang untuk bahan bakar fosil haruslah dihilangkan.

Namun, perdebatan muncul pada siapa yang harus memangkas emisi dan siapa yang harus membayar guna perubahan kepada sumber energi rendah karbon. Negara maju dan berkembang bertentangan dalam hal ini di Berlin, perbedaan pandangan ini kemudian berlanjut dalam negosiasi di UN.

“Dinamika yang terjadi dalam negosiasi UNFCC juga dapat dengan mudah disaksikan di sini.” Dikatakan Kaisa Kosenan dari Greenpeace. “Hal tersebut mengindikasikan sebuah pertanyaan kunci mengenai keadilan, siapa yang harus melakukan sesuatu dan siapa yang harus membayar kerusakan yang sudah terlanjur terjadi.”

Peserta yang lain mempercayai, bahwa laporan baru ini dapat mendorong proses di UN lebih jauh lagi. “Saya berharap bahwa informasi dari IPCC ini dapat sedikit mengubah pola kerjasama antar negara daripada pola saling tunjuk di antara mereka. Ada terlalu banyak hal yang dipertaruhkan.” Kata Jennifer Morgan.

Sumber tulisan dari sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *