Empat Filosofi Penanggulangan Bencana

Dalam menyikapi sebuah bencana, ada empat filosofi yang dapat kita anut, yaitu: pertama menjauhkan masyarakat dari ancaman bencana (hazard), kedua menjauhkan bencana dari masyarakat, ketiga hidup harmoni dan bersahabat dengan ancaman, dan keempat menumbuhkembangkan kearifan lokal.

Filosofi kedua adalah menjauhkan bencana dari masyarakat melalui upaya pengurangan risiko bencana, yaitu dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebagai contoh, pembangunan tanggul untuk sungai yang berpotensi banjir, pembangunan sabo dam di lereng gunung berapi untuk mengurangi dampak lahar maupun lahar dingin, penanaman pohon di sekitar daerah rawan longsor, dsb.

Filosofi ketiga adalah harmoni bersama bahaya atau ancaman (living harmony with risk). Dalam kondisi ini, masyarakat harus mengenal karakter dan sifat-sifat alam. Mengenali sifat-sifat alam ini dimulai dengan memahami proses dinamikanya, waktu kejadiannya dan dampak yang ditimbulkan. Manusia diberi akan dan pikiran untuk bisa mengatasi dan mengadaptasi kondisi alam di sekitarnya

Filosofi keempat lebih mendorong kearifan lokal dan berbagai upaya kombinasi dua filosofi sebelumnya, yaitu bagaimana masyarakat bisa hidup selaras dan bersahabat dengan ancaman bencana. Dengan demikian, apabila bencana itu terjadi, masyarakat sudah tahu dan paham benar apa yang mesti dilakukan untuk menghindari risiko bencana tersebut. Pengalaman di berbagai negara seperti Jepang (yang hampir setiap saat terjadi gempabumi) dan Vietnam (yang setiap tahun terkena banjir besar dari Sungai Mekong), misalnya, masyarakat di wilayah bencana dapat menerima dan mengatasi risiko bencana tanpa menimbulkan korban yang besar.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

1 thought on “Empat Filosofi Penanggulangan Bencana”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *