Contoh-contoh kerentanan

Bencana dengan karakteristik rapid on set (bencana yang terjadi secara tiba-tiba) seperti tsunami, gempa bumi dan angin topan mengharuskan warga dan pemerintah untuk bersiap diri. Berikut ini beberapa contoh pembelajaran mengenai kerentanan dari beberapa bencana besar yang terjadi di dunia.

1. Gempabumi di Tabriz, Iran, 2012

838790_orig

Warga tinggal di lokasi dengan aktivitas tektonik yang tinggi sementara bangunan rumahnya tidak didukung dengan struktur tahan gempa. Manakala gempa melanda, bangunan pun runtuh. Sekolah yang turut runtuh menyebabkan murid-murid menjadi korban; kondisi ini dapat menjadi persoalan politik yang serius. Di sana terdapat  kekurangan dalam hal kinerja pemerintahan, lemahnya dukungan, dan kurangnya kapasitas.

2. Topan Nargis di Delta Myanmar, 2008

Myanmar-Burma-Cyclone-Nargis

Topan menerjang kawasan pesisir selatan Myanmar yang datar. Selain itu, bentuk lahan delta di sana memiliki ketinggian hanya satu meter di atas permukaan air laut. Masyarakat yang terdampak bencana memiliki kerentanan karena beberapa kondisi berikut ini:

  • Ekonomi,
  • Sosial,
  • Kurang pengalaman,
  • Tidak ada rencana pengurangan risiko bencana
  • TIdak ada rencana evakuasi
  • Tidak ada peringatan dini sebelum topan melanda

Selain beberapa faktor di atas, kondisi infrastruktur di lokasi bencana juga sangat menyulitkan untuk upaya pengiriman bantuan. Arsitektur rumah-rumah warga dengan kayu dan bambu cukup kuat saat menghadapi gempa bumi, namun tak berdaya untuk menghadapi topan.

Pembelajaran lain dari lokasi adalah adanya hutan Mangrove yang mampu untuk melindungi kawasan di belakangnya dari terpaan topan.

Setelah terjadinya bencana, jejaring sosial dan budaya pun musnah. Sayangnya, rumah-rumah yang dibangun oleh NGO tidak sesuai dengan budaya mereka sehingga warga merasa tidak nyaman menempatinya.

Korban yang selamat memiliki kesibukan untuk mencari bahan pangan, sehingga ketahanan pangan menjadi isu yang sangat penting pada saat bencana melanda.

Dalam bidang mata pencaharian, bencana topan yang melanda menghapus industri garam di pesisir itu. Warga tidak bersedia kembali ke industri garam karena khawatir diterjang topan lagi.

Pembelajaran penting: tidak ada yang alami dari satu kejadian bencana, bahkan pada saat bencana alam sekalipun.

3. Rusaknya Laut Aral

aral_sea_shrink_9_image

Di Kazakhstan, Laut Aral yang menjadi sumber air di sana mengering karena pengambilan air berlebih untuk pertanian. Proses pemanfaatan air yang tidak bertanggung jawab ini telah mengabaikan pengelolaan lingkungan yang lestari. Setelah Laut Aral mengering, maka masyarakat pun tidak lagi memiliki mata pencaharian.

Pembelajaran penting: ada hubungan antara mata pencaharian dengan pengelolaan lingkungan yang lestari.

4. Gempa di Wenchuan, Tiongkok, 2008

wenchuan_earthquake_005

Disinyalir ada hubungan antara perubahan iklim dengan meningkatnya temperatur di bumi yang kemudian menyebabkan gempa bumi.

Bangunan sekolah yang runtuh menyingkap persoalan mengenai struktur dan bisa berkembang menjadi persoalan politik, pengambilan kebijakan oleh pemerintah, serta alokasi anggaran. Setelah bencana melanda, pemerintah meningkatkan kepekaan politiknya setelah bencana melanda.

Upaya relokasi yang dilakukan menghadapi kendala karena masyarakat yang harus direlokasi setelah bencana sulit beradaptasi dengan lokasi baru. Mereka tidak terbiasa dengan rumah dan lingkungan barunya (faktor budaya).

Upaya perbaikan sosial yang dilakukan di lokasi bencana adalah saat pemerintah mengesampingkan kebijakan satu anak yang berlaku di Tiongkok. Pemerintah juga menyediakan layanan kesehatan untuk membantu wanita agar mendapatkan momongan yang akan sangat berguna untuk merehabilitasi kehidupan mereka.

Kebijakan yang diambil pemerintah tidak selalu menjawab persoalan saat tidak semua orang ingin menikah kembali, mengadopsi anak, atau memiliki anak. Mereka merasa semua itu hanya akan mengingatkan kembali kepada keluarga yang telah menjadi korban.

5. Gempa, Tsunami, dan Kegagalan Teknologi di Sendai, Jepang, 2011

natori-japan

Jepang meninjau ulang kebijakan penanggulangan bencana mereka setelah gempabumi Sendai. Pembelajaran dari bencana gempabumi, tsunami, dan kebocoran reaktor nuklir menggarisbawahi bahwa tsunami dapat terjadi kapan saja. Selain itu, berbagai kemajuan teknologi untuk memprediksi maupun rekayasa infrastruktur yang telah dibangun tidak dapat mencegahnya. Kondisi diperparah dengan ambruknya institusi pemerintah yang aparatnya juga menjadi korban. Bukan hanya itu, komposisi warga yang kebanyakan adalah lanjut usia menyebabkan penderitaan makin menghebat.

2 thoughts on “Contoh-contoh kerentanan”

  1. Tulisan yang menarik, Bro! Sekarang rajin menulis yah. Saya punya blog tapi “belum sempat” nulis teratur. Hehe.

    Boleh kasih pendapat tentang artikel “Contoh-contoh kerentanan”?
    1) Kan pendahuluannya tentang kerentanan akibat “rapid on set event”, sepertinya kejadian Laut Aral tidak termasuk karena sudah mulai terasa akibatnya beberapa tahun sebelumnya.

    2) Perlu referensi untuk beberapa informasi, yang mungkin tampak umum. Contoh: Bisa tahu darimana kalau infrastruktur di Tabriz, Iran dibangun dengan tidak benar dan berada di daerah aktivitas tektonik? Sumber informasi yang menyebutkan masyarakat di Delta Nargis tidak nyaman tinggal di rumah yang dibangun oleh NGO? Kalimat pertama di bagian (4, gempa Tiongkok) berdasarkan informasi dari siapa? masih ada beberapa informasi lainnya.

    3) Supaya lebih mengalir informasinya, akan lebih baik kalau di setiap contoh diberi pendahuluan; seperti kapan dan sedikit scientific informasi tentang gempa Iran, Tiongkok, Jepang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *