Greenpeace: Empat Cara Menghentikan Kebakaran Hutan 

Screen Shot 2015-11-01 at 10.57.27 pm
Credit Picture: http://www.treehugger.com/slideshows/culture/life-amid-indonesian-fires-photos/page/2/#slide-top

Situs Greenpeace menerbitkan empat cara untuk menghentikan kebakaran hutan di Indonesia. Cara-cara tersebut adalah:

1. Menghentikan perubahan fungsi hutan

Menurut Greenpeace, cara ini adalah yang paling mudah sekaligus juga paling efektif. Semua perusahaan perkebunan harus segera menghentikan upaya pembersihan hutan dan pengembangan lain lahan gambut. Mereka harus diawasi dan diaudit untuk berbagai potensi bahaya serta aktivitas ilegal yang mungkin dilakukan.

2. Perbaikan dan regenerasi lahan gambut

Membanjiri kembali, perbaikan, dan pembangunan sekat kanal di lahan gambut terbukti mampu mencegah dan mengurangi risiko kebakaran di wilayah tersebut.

3. Pembuktian lokasi hotspot pada peta

Penelitian dari Greenpeace menunjukkan hampir 40% hotspot berada di dalam wilayah konsesi. Tanah yang diserahgunakan oleh pemerintah Indonesia kepada perusahaan untuk dimanfaatkan kayunya dan perkebunan.

Banyak hotspot yang teridikasi di dalam wilayah konsesi, namun analisis mutakhir sulit dilakukan karena tidak adanya data konsesi terbaru.

4. Bekerja sama padamkan api

Selain dihentikannya penggundulan hutan, Greenpeace juga menyeru kepada perusahaan perkebunan sawit dan kertas untuk bekerja sama dan mendorong dihentikannya pembersihan hutan serta pemanfaatan lahan gambut. Menurut Greenpeace, jika satu perusahaan dapat menghapuskan hutan, maka sudah barang tentu mereka memiliki kemampuan untuk menyelamatkannya.

Tulisan ini diadaptasi dari situs Greenpeace

 

SERUAN AKSI: SELAMATKAN ANAK BANGSA: EVAKUASI BALITA DAN KELOMPOK RENTAN LAINNYA KORBAN ASAP.

Hari ini (22/10) satu lagi balita meninggal dunia karena asap. Ada 370 ribu anak dan orang dewasa menderita sakit ISPA. Jumlahnya akan terus bertambah karena api di lahan gambut yang dibakar perusahaan perkebunan dan kehutanan belum berhasil dipadamkan. Banyak ahli memperkirakan api hanya dapat dipadamkan oleh hujan lebat tiga hari berturut-turut. Padahal tanda-tanda turunya hujan masih belum tampak, bahkan diperkirakan kemarau masih akan berkepanjangan.

Bagaimana nasib 43 juta warga negara yang terpapar langsung asap pembakaran lahan dan hutan? Bisakah mereka bertahan? Beberapa wilayah terdampak sudah menyerukan agar Balita dan kelompok rentan lainnya segera dievakuasi keluar dari wilayah terdampak.

Dibutuhkan tindakan nyata EVAKUASI BALITA DAN KELOMPOK RENTAN LAINNYA KORBAN ASAP. Negara pasti tidak mampu melakukannya sendiri. Perlu gotong royong selamatkan generasi penerus bangsa. Caranya?

  1. Ajak keluarga, kerabat, handai taulan yang terdampak yang memiliki balita untuk mengungsi sementara waktu ke rumah-rumah kita yang jauh dari serangan asap. Atau hubungi kami untuk mendapatkan informasi tempat yang aman.
  2. Ajak keluarga, sahabat, tetangga yang bebas dari serangan asap bersedia menerima balita korban asap tinggal sementara waktu di rumah mereka hingga musim penghujan tiba. Atau hubungi kami untuk mendata tempat yang siap membantu.
  3. Desak Pemerintah untuk mengerahkan semua kemampuan demi keselamatan rakyat termasuk menyediakan tempat penampungan sementara dan alat pembersih udara agar penderita ISPA bisa dicegah.
  4. Desak pemerintah Pusat dan Daerah, khususnya Kementrian Sosial, Kementrian Kesehatan, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) untuk membantu proses evakuasi.
  5. Mendesak Pemda Provinsi dan Kabupaten/ Kota memperbanyak tempat-tempat evakuasi lokal dengan sistem pembersih udara yang memadai terutama untuk evakuasi kelompok rentan lainnya.
  6. Memanjatkan doa semoga hujan bisa segera turun dan api bisa segera padam.

Semoga Allah SWT meridhoi usaha ini dan Pemerintah benar-benar menindak perusahaan-perusahaan yang melakukan pembakaran.

Kontak Person :
Uslaini – Padang (hp 081374342663)
Siti Maimunah – Tangerang (hp 0811920462)
Chalid Muhammad – Jakarta (hp 0811847163)
Kahar Albahri – Samarinda Kaltim, (hp 081347900913)
Joko Waluyo – Pontianak Kalbar (hp 0811845648)
Riko Kurniawan – Pekan Baru Riau (hp 081371302269)
Musri Nauli – Jambi (hp 0811743789)

Apa yang dilakukan saat bencana? 

Pada satu kejadian bencana atau pun konflik sosial, maka setiap langkah yang Anda ambil menjadi penting. Laman voicetoaction memberikan beragam skenario yang kemungkinan akan Anda hadapi manakala beberapa kejadian berikut ini terjadi: penyakit menyebar, gempa bumi, atau kerusuhan.

Anda dapat membaca keseluruhan skenario di laman tersebut. Di sini, saya hanya membantu menerjemahkan beberapa skenario saja untuk pembelajaran kita bersama.

Seberapa jauh kesiapan Anda saat ada penyebaran wabah penyakit?  Continue reading “Apa yang dilakukan saat bencana? “

Pendekatan dan Faktor Sosial untuk Kerentanan

4f741899-e3a4-4d93-b8d3-0b8f1661b3dc.WyI2MDB4NjAwIiwic2NhbGUiXQ

Tiga Pendekatan untuk Kerentanan:

  • Pendekatan Keterpaparan satu kondisi saat penduduk atau tempat berpotensi terdampak satu kejadian bencana.
  • Pendekatan Kondisi Sosial adalah satu perhitungan ketangguhan sosial menghadapi bencana.
  • Kerentanan Tempat merupakan gabungan dari keterpaparan dan ketangguhan sosial dalam menghadapi bencana.

Faktor Sosial untuk Kerentanan Continue reading “Pendekatan dan Faktor Sosial untuk Kerentanan”

Contoh-contoh kerentanan

Bencana dengan karakteristik rapid on set (bencana yang terjadi secara tiba-tiba) seperti tsunami, gempa bumi dan angin topan mengharuskan warga dan pemerintah untuk bersiap diri. Berikut ini beberapa contoh pembelajaran mengenai kerentanan dari beberapa bencana besar yang terjadi di dunia.

1. Gempabumi di Tabriz, Iran, 2012

838790_orig

Warga tinggal di lokasi dengan aktivitas tektonik yang tinggi sementara bangunan rumahnya tidak didukung dengan struktur tahan gempa. Manakala Continue reading “Contoh-contoh kerentanan”