Gempa 7,4 SR di Maluku

Berkaitan dengan gempa berkekuatan 7,4 SR di barat laut Maluku Tenggara Barat pada Senin malam pukul 23.53, ahli gempa ITB, Irwan Meilano, mengatakan, mekanisme gempa kali ini adalah sesar naik miring. Gempa terjadi di timur Laut Banda, di mana konvergensi dari lempeng Australia terdistribusi pada busur belakang dan Laut Banda.

Menurut ahli dari BPPT, Widjo Kongko, kekuatan gempa itu sekitar 50 kali bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima, Jepang. Berdasarkan perkiraannya, jenis patahan yang ada bukan sesar naik atau turun, melainkan sesar geser dan agak miring. Bidang patahan yang tebentuk panjang, mencapai 65×15 km dan dislokasi sekitar 2 meter.

Terjadi dinamika geologi yang kompleks di kawasan timur Indonesia. Lempeng Australia menumbuk dari selatan berkecepatan 7,5 cm per tahun. Dari sisi timur, Papua, pergerakan lempeng ke arah barat 9 cm per tahun.

Dalam 100 tahun terakhir, setidaknya ada 11 gempa bermagnitudo di atas 8 terjadi di sana. Di antaranya tahun 1904 (magnitudo 8,4), tahun 1916 (8,1), tahun 1932 (8,3), tahun 1938 (8,6), tahun 1950 (8,1), tahun 1963 (8,2), tahun 1971 (8,1), dan tahun 1979 (8,1).

Selain pergerakan lempeng, kontur di darat dan laut yang sangat curam juga memungkinkan terjadinya longsor. Apabila longsor terjadi di laut, maka bisa menimbulkan tsunami. Pada 1899 pernah terjadi longsor di Laut Seram yang dipicu gempa berkekuatan 7,8 SR. Kala itu, tsunami yang terbentuk setinggi 12 meter dan berakibat hilangnya Negeri (Desa) Elpaputih, dan menewaskan 3.000 orang.

Tulisan ini adalah rangkuman dari artikel di Koran Kompas, 12 Desember 2012, yang berjudul ‘Gempa Maluku, Peringatan untuk Indonesia Timur’.

Bakau dan Api-api Melindungi Karimunting

Keberadaan Karimunting, sebuah desa di pesisir Kalimantan Barat, sempat terancam oleh abrasi yang lajunya amat tinggi. Berbagai pihak bahu-membahu membuat benteng hidup melalui penanaman mangrove di sepanjang pesisir pantai desa itu.

Keresahan penduduk Desa Karimunting, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, terhadap baya abrasi terasa sejak tahun 2005. Sejumlah warga memperkirakan, laju abrasi berkisar 30-50 meter dalam lima tahun pada waktu itu. Dampak abrasi makin terasa karena sebagian wilayah pesisir Kalbar biasanya mengalami pasang dan surut yang ekstrem.

Untuk menghentikan laju abrasi, warga menanam mangrove berjenis bakau dan api-api di sepanjang pesisir Desa Karimunting tahun 2006. Sepanjang 2006-2008, masyarakat Karimunting berusaha mencari cara mempertahankan wilayah mereka dari ancaman abrasi. Namun, upaya itu selalu terhadang ombak besar saat pasang.

Ancaman abrasi tak hanya pada wilayah budidaya dan permukiman penduduk, tetapi juga jalan raya yang menjadi akses utama dari Kota Pontianak ke Kota Singkawang. Tahun 2008, proyek pemasangan beton pemecah ombak di sepanjang pesisir Kalbar bagian utara akhirnya sampai di Kecamatan Sungai Raya Kepulauan. Beberapa bulan setelah beton pemecah ombak terpasang, warga Karimunting mendapat dukungan dari sejumlah lembaga untuk memulai lagi penanaman mangrove.

Kini kemungkinan bakau dan api-api bisa hidup dan tumbuh sangat besar karena pada masa awal pertumbuhan, tanaman tak terganggu ombak. Selain ikut menanam, masyarakat juga diminta untuk memelihara dan menjaga tanaman itu.

Beberapa lembaga yang terlibat dalam penanaman bakau dan api-api di Karimunting, antara lain: WWF Indonesia Program Kalbar, LSM Pemuda Peduli Lingkungan, Sakawana, dan Direktorat Polisi Perairan Polda Kalbar.

Penanaman mangrove bukanlah hal yang mudah. Setelah mangrove ditanam, tahap yang sering dilupakan adalah pemeriksaan tanaman dan penyulaman jika ada tanaman yang mati.

Keterlibatan banyak lembaga dan peran aktif masyarakat memelihara mangrove berdampak baik di Karimunting. Mangrove bisa hidup dan tumbuh subur. Setelah tanaman bakau mulai hidup, tanaman api-api yang juga memiliki fungsi sama untuk menahan abrasi dan angin laut bisa tumbuh sendiri. Setelah tiga tahun, warga Desa Karimunting merasakan manfaat penanaman mangrove itu.

Tanaman bakau dan api-api di sepanjang pesisir Karimunting saat ini sudah setinggi 2-4 meter. Tanamannya juga sangat rapat sehingga permukiman penduduk terhindar dari embusan angin laut yang panas. Ada sekitar 5.000 penduduk tinggal di Karimunting. Ada tiga kampung yang permukimannya langsung berbatasan dengan pesisir, yakni Tengah Karimunting, Sinjun, dan Batu Payung.

Keberhasilan penanaman mangrove di Karimunting tidak saja mampu menyelamatkan kawasan permukiman penduduk dan jalan serta menahan angin laut dan abrasi. Masyarakat setempat bahkan mendapat manfaat ganda karena kawasan mangrove dan api-api jadi habitat biota laut berupa tungkuyung api-api.

Tulisan ini adalah rangkuman dari berita di Koran Kompas, 07 September 2012, berjudul ‘Benteng Hidup untuk Karimunting’

Dari Riau untuk Penanggulangan Kabut Asap

Kabut asap yang makin tebal sepekan terakhir di wilayah Sumatera, terutama Riau, diantisipasi dengan modifikasi cuaca. Hal ini dilakukan dengan menyemai hujan, yakni menaburkan garam halus pada awan yang berpotensi hujan.

“Sejak pertengahan Juli, wilayah Indonesia dilanda El Nino lemah sampai akhir tahun, yang menyebabkan sebagian wilayah kekeringan.” Kata Direktur Tanggap Darurat, BNPB, Tri Budiarto. Lebih lanjut, beliau mengatakan, “Riau ditetapkan sebagai lokasi pusat pengendali kabut asap di Sumatera. Modifikasi cuaca untuk mengantisipasi kabut asap juga dilakukan sepanjang pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional mulai 9-23 September.”

Sebagai pusat pengendali di Sumatera, jika ada asap di Jambi dan Sumatera Selatan, tindakan pencegahan dan pengendalian dilakukan dari Riau. Adapun untuk Kalimantan dipusatkan di Palangkaraya. Anggaran yang dialokasikan untuk pencegahan kabut asap sejumlah Rp 10 miliar.

BNPB akan berkoordinasi dengan Gubernur Riau dan semua bupati/wali kota se-Riau untuk mendukung operasi dari darat. Sementara itu Gubernur menyatakan sangat berterima kasih dengan bantuan pemerintah pusat. Beliau bersama dengan kepala daerah akan mengaktifkan operasi darat dengan melibatkan pasukan Manggala Agni dan Masyarakat Peduli serta akan dilakukan sosialisasi kepada masyarakat di lokasi rawan bencana.

Data dan Fakta

Sejak 1 Januari 2012 sampai dengan 09 Agustus 2012 beberapa titik api yang tercatat adalah sebagai berikut:

Provinsi

Jumlah Titik Api

Riau 3.486
Sumatera Selatan 2.759
Kalimantan Barat 2.150
Jambi 1.341
Kalimantan Tengah 978