Catatan Perjalanan Forkom Wartawan Kaltim

Perjalanan yang jauh antara Balikpapan ke Samarinda segera terbayang begitu saya mendapatkan tugas untuk berbicara dalam acara Forum Komunikasi Wartawan Kalimantan Timur. Senin (18/05) sore saya pun berangkat dari Jakarta dan baru jelang tengah malam sampai di Kota Samarinda.

Esoknya, sedikit terlambat saya bangun dan segera bersiap-siap untuk mengikuti acara pembukaan.

Di depan ruang tempat pertemuan sudah banyak wartawan yang sibuk melakukan pendaftaran. Para panitia dari Bidang Humas, BNPB dan dibantu oleh BPBD Prov. Kaltim sampai-sampai tidak terlihat karena saking banyaknya wartawan yang mengerumuni mereka. Sebuah keuntungan bagi saya karena itu berarti masih ada waktu untuk sarapan.

Saya menyelesaikan sarapan bertepatan dengan dimulainya acara pembukaan. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas, BNPB, Dr. Sutopo Purwo Nugroho yang sedianya akan membuka acara tersebut berhalangan hadir karena harus mendampingi Kepala BNPB. Sebagai gantinya, maka Kepala Pelaksana BPBD Prov. Kaltim, Wahyu Widhi yang menggantikan membuka acara.

Dalam kesempatan tersebut, saya bertugas menggantikan Kepala Bidang Data, BNPB, Dr. Agus Wibowo untuk menyampaikan paparan Data dan Informasi Kebencanaan di Indonesia. Jadwal yang saya peroleh adalah pukul 13.00 WITA. Sebuah kebetulan yang lain lagi mengingat saya masih harus menyiapkan paparan dalam perangkat lunak power point.

Alhasil, sejak dari pembukaan, kemudian dilanjutkan oleh berbagai pembicara lain dari LKBN Antara, Bappenas, dan Kedeputian Tanggap Darurat BNPB saya habiskan waktu untuk mengedit paparan yang sudah ada agar sesuai dengan konteks acara.

Waktu bagi saya untuk paparan pun tiba. Duduk di depan saya bersama dengan Kepala Bidang Humas, BNPB, Rita Rosita sebagai moderator dan dua pembicara lain, yaitu Bapak Sutrisno dari BMKG dan Kepala BPBD Prov. Kaltim Bapak Wahyu Widhi.

paparan

Saya mengawali paparan dengan menyampaikan peran media dalam penanggulangan bencana yang dapat Anda baca di sini. Setelah teman-teman wartawan mengetahui apa perannya dalam penanggulangan bencana, saya kemudian meminta mereka untuk berdiskusi bagaimana mewujudkan peran tersebut. Peserta, yaitu para jurnalis yang sangat antusias tersebut memiliki waktu satu menit untuk berdiskusi dan menuliskan hasil diskusinya.

Hasil diskusi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Media harus menyampaikan informasi yang cepat dan akurat kepada masyarakat.
  2. Media menyampaikan berbagai kebutuhan dan kekurangan bantuan yang dialami oleh penduduk terdampak agar institusi yang terkait segera bertindak.
  3. Media memberitakan berbagai upaya pemerintah dalam menanggulangi bencana, memberikan informasi yang benar dan tidak simpang siur, serta tidak menambah kepanikan kepada masyarakat.

Sesi berikutnya berturut-turut saya menyampaikan data bencana di Kaltim selama sepuluh tahun terakhir, apa bencana paling dominan, dan bagaimana tren kejadian bencana di Kaltim selama kurun waktu tersebut. Tak lupa, saya pun menyajikan data bencana di Kaltim yang sudah dihimpun oleh BNPB selama tahun 2015 ini.

Paparan berlanjut dengan metode pengumpulan data di BNPB, pengolahan, dan penyajiannya. Di sesi ini, saya menampilkan sistem pendataan bencana melalui DiBI (Data Bencana Indonesia) yang dapat Anda akses di www.dibi.bnpb.go.id. Secara sekilas juga saya sampaikan bagaimana cara mengakses dan mendapatkan data dari situs tersebut.

Sistem lain yang digunakan untuk menampilkan berbagai produk pemetaan BNPB, yaitu Geospasial BNPB saya tampilkan berikutnya. Saya jelaskan berbagai fasilitas, manfaat, dan kemampuan geospasial BNPB termasuk kegunaannya untuk memantau bencana. Setelah geospasial, saya kemudian melanjutkannya dengan sistem InaSAFE dan InAWARE yang menjadi sesi paling akhir sebelum saya menutup rangkaian paparan itu dengan kesimpulan.

Sore itu, mengingat besok paginya saya akan kembali bertemu dengan peserta untuk materi praktik penggunaan GPS, maka saya mengingatkan para peserta untuk membaca dua tulisan di blog ini yang berkaitan dengan manfaat GPS untuk wartawan dan pengantar penggunaan GPS yang dapat Anda baca di sini dan di sini.

Demikianlan tugas pertama saya untuk memaparkan data dan informasi kebencanaan di Indonesia telah selesai.

Malam menjelang dan saya diberitahu akan dilakukan survei ke lokasi untuk praktik lapangan bagi para peserta. Bersama dengan teman-teman dari Bidang Humas, malam itu kami menyambangi Polder Air Hitam, sebuah bendungan di Kota Samarinda yang akan dijadikan lokasi praktik lapangan.

Mengingat esok pagi saya harus menyampaikan materi mengenai pengenalan GPS, maka tak lupa malam itu saya membawa satu perangkat GPS. Tujuannya adalah untuk mengetahui koordinat lokasi, menyusun skenario praktik, dan menentukan beberapa titik lain yang akan dicari oleh para peserta menggunakan GPS pada saat praktiknya nanti.

Hari Rabu (20/05) acara Forum Komunikasi Wartawan Kalimantan Timur diisi dengan praktik lapangan. Para peserta akan mendapatkan pengenalan: pendirian tenda, dapur umum, trauma healing, water treatment, GPS, dan water rescue.

Mengingat begitu banyaknya materi yang disampaikan juga peserta yang hadir, maka teman-teman jurnalis dibagi ke dalam lima grup. Para instruktur termasuk saya akan berdiri terpisah dan memilih lokasi masing-masing kemudian tiap grup akan datang bergantian untuk mendapatkan materi yang berbeda-beda. Pada sesi pagi, semua peserta mendapatkan materi praktik kecuali water rescue yang akan dipraktikkan siang harinya.

belajarGPS

Dalam praktiknya, saya mengikuti tulisan yang sudah dibuat yaitu kegunaan GPS bagi wartawan dan empat langkah mudah menggunakan Garmin 62s. Syukurlah semua berjalan lancar, peserta menunjukkan ketertarikan dan sangat bersemangat ditandai dengan berbagai pertanyaan yang muncul selama praktik dilakukan serta keinginan teman-teman wartawan untuk mencoba berbagai hal baru yang mereka ketahui termasuk GPS di dalamnya.

Panas siang itu pun ditutup dengan makan siang bersama dengan nasi, lauk, sambal, sop yang dimasak langsung dari dapur umum. Semuanya terlihat begitu kelaparan hingga banyak juga teman-teman panitia dari BPBD Prov. Kaltim yang tidak kebagian lauk atau pun sambal.

Kota Samarinda memang jauh. Dari Jakarta perjalanan harus ditempuh dengan pesawat dan dilanjutkan jalan darat dari Balikpapan ke Samarinda yang saat ditempuh rasanya tak kunjung sampai. Kendati begitu, semua terbayar lunas saat melihat antusias dan merasakan semangat teman-teman jurnalis saat mengikuti semua rangkaian kegiatan yang dilakukan.

Terima kasih Samarinda Kalimantan Timur, kapan-kapan saya akan datang lagi mungkin untuk mencari batu akik yang katanya menarik.

Paparan mengenai Data dan Informasi Kebencanaan di Indonesia dapat Anda unduh dari tautan di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *