Bagaimana Teknologi Digital Mengubah Penanganan Darurat

Oleh: Simon Chapman

Pada tahun 1998, 1,5 juta orang Australia memiliki telepon. Satu di antara delapan orang melaporkan adanya kecelakaan transportasi, sementara satu dalam 16 orang melaporkan darurat medis, kemudian satu di antara empat melaporkan situasi yang berbahaya.

Saat ini, petugas yang berhubungan dengan tindakan darurat sulit membayangkan hidup tanpa teknologi telepon seluler yang telah mengubah kemampuan mereka dalam mengetahui dan mendatangi sebuah kejadian. Hal tersebut telah mengurangi keterlambatan dan dapat mengejar ‘golden hour’.

Tahun ini, manakala lebih dari 100 negara memiliki jumlah telepon lebih banyak daripada jumlah penduduknya,Patrick Meier mendokumentasikan bagaimana revolusi global dalam bidang komunikasi digital telah mengubah cara kita dalam merespon suatu bencana dan menghadapi suatu krisis.

Sebuah cerita dari Patrick adalah manakala terjadi gempa Haiti dan istrinya sedang berada di sana. Patrick sendiri sedang berada di kamarnya dan mendengar tentang gempa tersebut tapi kehilangan kontak dengan istrinya. Dia segera mengecek di media sosial, twitter dan facebook. Dia paham, bahwa dirinya akan berada di tengah-tengah banjir informasi dari warga Haiti yang ada di dalam maupun di luar negeri yang putus asa mencari sekeping informasi penting. Tujuh jam kemudian, dia menerima pesan dari istrinya bahwa ia masih hidup.

Pengalaman Patrick malam itu bersama dengan kawan-kawan lain menjadi awal dari kekuatan jaringan global dari relawan ‘digital humanitarian’ yang hari-hari ini bekerja dengan big data. Data yang sangat besar tersebut seakan-akan meledak di dalam internet setiap kali satu bencana terjadi. Para relawan digital tersebut akan mengumpulkan, menyaring, menyimak, dan mengatur jutaan informasi tersebut untuk mengirimkan bantuan.

Di hari-hari pasca gempa Haiti, mereka membantu Marinir Amerika dengan menyediakan peta krisis dan berhasil menyelamatkan banyak nyawa. Lembaga penanggulangan bencana Amerika (FEMA) melalui twitter mengumumkan bahwa peta krisis tersebut dikembangkan oleh proyek Ushahidi yang digagas oleh Patrick dkk. Peta krisis tersebut menjadi satu peta terlengkap dan termutakhir yang tersedia bagi pekerja kemanusiaan.

Lebih dari seribu relawan digital membuat editan hingga lebih dari 1,4 juta kali di akhir proyek.

Patrick menulis buku tentang berbagai pengalaman tersebut yang berjudul ‘Digital Humanitarians: How big data is changing the face of humanitarian response’. Buku tersebut berisi tentang silang sengkarut berbagai data yang membingungkan pada hari-hari ini, misalnya:

  • Lebih banyak orang memiliki akses digital daripada air bersih dan toilet.
  • Service WhatsApp memiliki setengah juta pengguna dan mengirimkan lebih dari 50 milliar pesan setiap harinya.
  • Saat terjadinya topan merusak di Filipina, dua milliar pesan terkirim setiap hari dan 92% pengguna internet memiliki akun facebook.
  • Pada saat terjadinya kebakaran semak di Australia pada tahun 2009, 65% kicauan di twitter tentang kebakaran tersebut mengandung informasi yang dianggap penting untuk tanggap darurat.

Buku Patrick mengeksplorasi tantangan dalam menemukan jarum informasi penting di tengah jerami informasi lain. Selain itu, buku tersebut juga mengidentifikasi masalah berkaitan dengan ukuran data yang sangat besar, privasi, dan bias yang mungkin timbul manakala media sosial digunakan dalam area bencana yang sempit dan mengaburkan hal lain.

Salah satu bab dalam bukunya juga menginformasikan mengenai penggunaan komunikasi digital dalam gerakan ‘Arab Spring’, pencarian hilangnya pesawat Malaysia Air 370, astrofisika, dan peningkatan penggunaan pesawat tanpa awak (drone).

Sudahkah kita memanfaatkan berbagai teknologi digital terkini dalam penanganan darurat?

Tulisan asli dari sini: http://theconversation.com/digital-samaritans-how-digital-technology-is-revolutionising-disaster-response-40304

Tautan ke Buku/Situs Patrick Meier: http://www.digital-humanitarians.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *