Awas Sinabung: Fakta dan Upaya Penanggulangan Bencana Gunung Sinabung

Foto: Twitter/@supereruption

Gunung Sinabung masih terus menyemburkan berbagai material berbahaya ke daerah sekitarnya. Kenapa aktivitas Sinabung masih tinggi, kapan aktivitas gunung api ini akan berakhir, dan apa upaya serta rekomendasi dari BNPB?

Dalam tulisan ini Anda akan menemukan jawaban dari beberapa pertanyaan tersebut di atas.

Fakta Sinabung

Menurut peneliti Matteo Lupi, Gunung Sinabung merupakan salah satu dari banyak gunung berapi yang berada di wilayah subduksi Sumatera. Wilayah ini merupakan bagian dari Cincin Api, sebuah lokasi geologi yang sangat aktif. Berdekatan dengan lokasi Gunung Sinabung, terdapat Kaldera Danau Toba, yang merupakan lokasi dari erupsi supervulkanik yang terjadi 75.000 tahun lalu.

Lebih lanjut, Matteo Lupi dan koleganya Stephen Miller menunjukkan kemungkinan adanya hubungan antara rangkaian gempa di Sumatera dengan aktifnya kembali Gunung Sinabung setelah terlelap 1.200 tahun. Gunung Sinabung kembali aktif karena imbas dari gempa gempa akbar Simeulue-Nias 28 Maret 2005 dengan magnitude 8,7 skala richter, kemudian disusul gempa akbar berganda Mentawai-Enggano 12 September 2007 dengan magnitude 7,9 dan 8,4 skala richter.

Rentetan gempa tersebut yang disusul sejumlah gempa darat di berbagai titik dalam sistem patahan besar Sumatera menyebabkan tegasan (stress) yang selama ini menekan dan menyungkup dapur magma Sinabung melemah. Akibat pelemahan itu, magma bermigrasi ke atas melewati retakan-retakan baru yang terbentuk hingga akhirnya meluap dari puncak.

Ma’rufin Sudibyo, relawan bencana,  menjelaskan bahwa letusan gunung berapi khususnya erupsi magmatik akan berhenti bila tekanan magma segarnya sudah tidak sanggup lagi mendorong magma keluar menuju permukaan Bumi. Dalam kasus Gunung Sinabung, tekanan terhadap magma segar bisa dilihat, salah satunya melalui kejadian-kejadian gempa vulkanik dalam dan dangkal di sekitar gunung. “Dalam kasus Sinabung masih tinggi, artinya masih ada tekanan kuat yang mendorong magma segar ke atas hingga kini,” kata dia.

Sinabung Berevolusi

Kondisi gunung yang meletus sejak 2010 tersebut dinilai masih berevolusi untuk mencari keseimbangan baru, sehingga sulit diprediksi kapan erupsinya berakhir. Gunung Sinabung berevolusi setelah tidak pernah meletus selama 1.000 tahun. Hal ini dicirikan dengan terjadinya peningkatan aktivitas yang cenderung lamban di periode awal letusan. Menurut Surono, ahli gunung api dan mantan Kepala PVMBG, letusan Gunung Sinabung masih akan berlangsung lama, paling kurang selama lima tahun sejak letusannya di tahun 2013.

Dari tahun ke tahun sejak 2010, Erupsi Gunung Sinabung pun bervariasi sebagai berikut:

  • 2010: Tipe letusan freatik yang didominasi uap air.
  • 2013-2014: Tipe letusan magmatis dan eksplosif, karena desakan magma mendobrak sumbat lava.
  • 2017-… : Tipe letusan efusif yang didominasi oleh aliran lava dari puncak. Tipe letusan ini mirip dengan Gunung Merapi, membentuk kubah lava, lalu runtuh diikuti awan panas.

Upaya dan Rekomendasi

BPBD dan instansi terkait mengintensifkan penjagaan di pintu masuk menuju zona merah, membagikan masker, pembersihan jalan dan lahan, pembersihan aset-aset pemerintah (pasar dan tempat umum lainnya).

PVMBG merekomendasikan masyarakat dan pengunjung agar tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan dalam jarak 7 km untuk sektor Selatan – Tenggara, di dalam jarak 6 km untuk sektor Tenggara – Timur, serta di dalam jarak 4 km untuk sektor Utara – Timur G. Sinabung.

Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di dekat sungai-sungai yang berhulu di G. Sinabung agar tetap waspada terhadap ancaman bahaya lahar. Mengingat telah terbentuk bendungan alam di hulu Sungai Laborus, maka penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sekitar hilir daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu-waktu dapat jebol bila tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir. BPBD Kabupaten Tanah Karo agar segera melakukan sosialisasi ancaman bencana lahar/banjir bandang ini ke penduduk yang bermukim dan beraktivitas di sepanjang hilir dan sekitar Sungai Laborus.

Tindak Lanjut

Sinabung tak akan meletus sehebat Merapi di Yogyakarta tahun 2010. Namun, karakter letusan sulit diprediksi karena data letusan sebelumnya sangat terbatas, sehingga sulit diprediksi bagaimana akhir dari erupsi gunung ini.

Melihat fenomena Sinabung, sebuah gunung yang telah lama dianggap tidur kemudian meletus tak berkesudahan, maka fenomena yang sama juga bisa terjadi pada gunung-gunung lain yang selama ini dianggap tidur.

Sumber Tulisan:

‘Kapan Gunung Sinabung Berhenti Meletus?’, VIVA, 3 Agustus 2017, <http://www.viva.co.id/digital/942719-kapan-gunung-sinabung-berhenti-meletus>.

‘Sinabung Mencari Keseimbangan’, Kompas Cetak, 4 Agustus 2017.

‘Sinabung Meletus Lontarkan Abu Setinggi 4.2 Km Dan Luncurkan Awan Panas Sejauh 4,5 Km’, Nugroho, SP, 2 Agustus 2017,<https://www.bnpb.go.id/home/detail/3422/Sinabung-Meletus-Lontarkan-Abu-Setinggi-4.2-Km-Dan-Luncurkan-Awan-Panas-Sejauh-4,5-Km>.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *