Komponen Ketangguhan Hadapi Bencana

Menurut Christophe Bene dan kawan-kawan, ada tiga komponen ketangguhan: kemampuan meredam (absorb) ancaman, kemampuan beradaptasi, dan kemampuan mengusahakan transformasi.

Masing-masing komponen merupakan bentuk kemampuan sebuah sistem untuk menghadapi gangguan, baik guncangan sesaat maupun krisis jangka panjang. Sebuah sistem yang tangguh akan ideal apabila memiliki ketiga komponen tersebut.

Kemampuan meredam ancaman terjadi ketika kelompok masyarakat atau rumah tangga dapat menghadapi dampak guncangan tanpa terjadi perubahan fungsi, status atau kondisi pada masyarakat atau rumah tangga tersebut, sesemantara apa pun. Hal ini, misalnya, dapat dilihat pada keberadaan bangunan peredam gempa atau pemakaian sumber listrik cadangan. Kapasitas meredam ini bisa membantu mencegah atau menahan serangan bencana. Bila kapasitas meredam tak mampu mengatasi intensitas ancaman, orang harus memanfaatkan kapasitas adaptasi.

Bentuk lain dari daya redam adalah sarana dan prasarana yang khusus diadakan untuk mengurangi risiko bencana. Kapasitas seperti ini bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari tabungan untuk masa krisis pasca bencana, jaringan komunikasi seperti radio komunitas, dan jalur evakuasi.

Namun, sekadar mampu menghindar sebelum tertimpa ancaman tidaklah cukup. Adaptasi membutuhkan kemampuan menyusun siasat menghadapi masa lebih panjang di antara dua letusan. Bila daya redam berfungsi sebagai pelindung otomatis setiap kali datang ancaman, daya adaptasi berperan merawat ketangguhan di luar kurun itu.

Transformasi melibatkan perubahan besar-besaran terhadap struktur sosial masyarakat. Transformasi berbeda dengan adaptasi, yang merupakan penyesuaian kecil-kecilan yang terus berlangsung berdasarkan “kondisi yang sudah ada”. Upaya transformasi adalah berusaha mmengubah ‘kondisi’ tersebut. Transformasi bukan perkara teknis atau teknologi semata, melainkan juga melibatkan tindakan menuju reformasi institusi dan perubahan perilaku. Dengan kata lain, upaya transformasi merupakan tindakan menantang status quo, dalam arti mengubah sistem yang mapan.

Daftar Pustaka

Saragih, Bonar, dkk, 2014, Asmaradana Merapi, Narasi Ketangguhan Orang-orang Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan UNDP Indonesia, Jakarta.

Catatan Perjalanan Forkom Wartawan Kaltim

Perjalanan yang jauh antara Balikpapan ke Samarinda segera terbayang begitu saya mendapatkan tugas untuk berbicara dalam acara Forum Komunikasi Wartawan Kalimantan Timur. Senin (18/05) sore saya pun berangkat dari Jakarta dan baru jelang tengah malam sampai di Kota Samarinda.

Esoknya, sedikit terlambat saya bangun dan segera bersiap-siap untuk mengikuti acara pembukaan.

Di depan ruang tempat pertemuan sudah banyak wartawan yang sibuk melakukan pendaftaran. Para panitia dari Bidang Humas, BNPB dan dibantu oleh BPBD Prov. Kaltim sampai-sampai tidak terlihat karena saking banyaknya wartawan yang mengerumuni mereka. Sebuah keuntungan bagi saya karena itu berarti masih ada waktu untuk sarapan.

Saya menyelesaikan sarapan bertepatan dengan dimulainya acara pembukaan. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas, BNPB, Dr. Sutopo Purwo Nugroho yang sedianya akan membuka acara tersebut berhalangan hadir karena harus mendampingi Kepala BNPB. Sebagai gantinya, maka Kepala Pelaksana BPBD Prov. Kaltim, Wahyu Widhi yang menggantikan membuka acara.

Dalam kesempatan tersebut, saya bertugas menggantikan Kepala Bidang Data, BNPB, Dr. Agus Wibowo untuk menyampaikan paparan Data dan Informasi Kebencanaan di Indonesia. Jadwal yang saya peroleh adalah pukul 13.00 WITA. Sebuah kebetulan yang lain lagi mengingat saya masih harus menyiapkan paparan dalam perangkat lunak power point.

Alhasil, sejak dari pembukaan, kemudian dilanjutkan oleh berbagai pembicara lain dari LKBN Antara, Bappenas, dan Kedeputian Tanggap Darurat BNPB saya habiskan waktu untuk mengedit paparan yang sudah ada agar sesuai dengan konteks acara.

Waktu bagi saya untuk paparan pun tiba. Duduk di depan saya bersama dengan Kepala Bidang Humas, BNPB, Rita Rosita sebagai moderator dan dua pembicara lain, yaitu Bapak Sutrisno dari BMKG dan Kepala BPBD Prov. Kaltim Bapak Wahyu Widhi.

paparan

Saya mengawali paparan dengan menyampaikan peran media dalam penanggulangan bencana yang dapat Anda baca di sini. Setelah teman-teman wartawan mengetahui apa perannya dalam penanggulangan bencana, saya kemudian meminta mereka untuk berdiskusi bagaimana mewujudkan peran tersebut. Peserta, yaitu para jurnalis yang sangat antusias tersebut memiliki waktu satu menit untuk berdiskusi dan menuliskan hasil diskusinya.

Hasil diskusi tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Media harus menyampaikan informasi yang cepat dan akurat kepada masyarakat.
  2. Media menyampaikan berbagai kebutuhan dan kekurangan bantuan yang dialami oleh penduduk terdampak agar institusi yang terkait segera bertindak.
  3. Media memberitakan berbagai upaya pemerintah dalam menanggulangi bencana, memberikan informasi yang benar dan tidak simpang siur, serta tidak menambah kepanikan kepada masyarakat.

Sesi berikutnya berturut-turut saya menyampaikan data bencana di Kaltim selama sepuluh tahun terakhir, apa bencana paling dominan, dan bagaimana tren kejadian bencana di Kaltim selama kurun waktu tersebut. Tak lupa, saya pun menyajikan data bencana di Kaltim yang sudah dihimpun oleh BNPB selama tahun 2015 ini.

Paparan berlanjut dengan metode pengumpulan data di BNPB, pengolahan, dan penyajiannya. Di sesi ini, saya menampilkan sistem pendataan bencana melalui DiBI (Data Bencana Indonesia) yang dapat Anda akses di www.dibi.bnpb.go.id. Secara sekilas juga saya sampaikan bagaimana cara mengakses dan mendapatkan data dari situs tersebut.

Sistem lain yang digunakan untuk menampilkan berbagai produk pemetaan BNPB, yaitu Geospasial BNPB saya tampilkan berikutnya. Saya jelaskan berbagai fasilitas, manfaat, dan kemampuan geospasial BNPB termasuk kegunaannya untuk memantau bencana. Setelah geospasial, saya kemudian melanjutkannya dengan sistem InaSAFE dan InAWARE yang menjadi sesi paling akhir sebelum saya menutup rangkaian paparan itu dengan kesimpulan.

Sore itu, mengingat besok paginya saya akan kembali bertemu dengan peserta untuk materi praktik penggunaan GPS, maka saya mengingatkan para peserta untuk membaca dua tulisan di blog ini yang berkaitan dengan manfaat GPS untuk wartawan dan pengantar penggunaan GPS yang dapat Anda baca di sini dan di sini.

Demikianlan tugas pertama saya untuk memaparkan data dan informasi kebencanaan di Indonesia telah selesai.

Malam menjelang dan saya diberitahu akan dilakukan survei ke lokasi untuk praktik lapangan bagi para peserta. Bersama dengan teman-teman dari Bidang Humas, malam itu kami menyambangi Polder Air Hitam, sebuah bendungan di Kota Samarinda yang akan dijadikan lokasi praktik lapangan.

Mengingat esok pagi saya harus menyampaikan materi mengenai pengenalan GPS, maka tak lupa malam itu saya membawa satu perangkat GPS. Tujuannya adalah untuk mengetahui koordinat lokasi, menyusun skenario praktik, dan menentukan beberapa titik lain yang akan dicari oleh para peserta menggunakan GPS pada saat praktiknya nanti.

Hari Rabu (20/05) acara Forum Komunikasi Wartawan Kalimantan Timur diisi dengan praktik lapangan. Para peserta akan mendapatkan pengenalan: pendirian tenda, dapur umum, trauma healing, water treatment, GPS, dan water rescue.

Mengingat begitu banyaknya materi yang disampaikan juga peserta yang hadir, maka teman-teman jurnalis dibagi ke dalam lima grup. Para instruktur termasuk saya akan berdiri terpisah dan memilih lokasi masing-masing kemudian tiap grup akan datang bergantian untuk mendapatkan materi yang berbeda-beda. Pada sesi pagi, semua peserta mendapatkan materi praktik kecuali water rescue yang akan dipraktikkan siang harinya.

belajarGPS

Dalam praktiknya, saya mengikuti tulisan yang sudah dibuat yaitu kegunaan GPS bagi wartawan dan empat langkah mudah menggunakan Garmin 62s. Syukurlah semua berjalan lancar, peserta menunjukkan ketertarikan dan sangat bersemangat ditandai dengan berbagai pertanyaan yang muncul selama praktik dilakukan serta keinginan teman-teman wartawan untuk mencoba berbagai hal baru yang mereka ketahui termasuk GPS di dalamnya.

Panas siang itu pun ditutup dengan makan siang bersama dengan nasi, lauk, sambal, sop yang dimasak langsung dari dapur umum. Semuanya terlihat begitu kelaparan hingga banyak juga teman-teman panitia dari BPBD Prov. Kaltim yang tidak kebagian lauk atau pun sambal.

Kota Samarinda memang jauh. Dari Jakarta perjalanan harus ditempuh dengan pesawat dan dilanjutkan jalan darat dari Balikpapan ke Samarinda yang saat ditempuh rasanya tak kunjung sampai. Kendati begitu, semua terbayar lunas saat melihat antusias dan merasakan semangat teman-teman jurnalis saat mengikuti semua rangkaian kegiatan yang dilakukan.

Terima kasih Samarinda Kalimantan Timur, kapan-kapan saya akan datang lagi mungkin untuk mencari batu akik yang katanya menarik.

Paparan mengenai Data dan Informasi Kebencanaan di Indonesia dapat Anda unduh dari tautan di sini.

Mengelola Informasi Kemanusiaan Pada Saat Bencana Melanda

Oleh: Mark Frohardt

FrohardtMark2006Di tengah kekacauan dan nestapa pasca gempa di Nepal, satu hal mendasar tetap diperlukan, yaitu informasi yang padat dan dapat dipercaya.

Seiring dengan kemajuan teknologi, banjir informasi pun terjadi, terkadang penuh dengan isu dan informasi yang keliru.

Wakil Presiden Internews, Mark Frohardt menjelaskan bagaimana informasi sangat diperlukan pada kondisi darurat.

Pada saat terjadi krisis kemanusian seperti kejadian bencana, maka informasi adalah segalanya. Mereka yang selamat ingin mengetahui kabar keluarganya, rumahnya, para tetangganya. Dari situ, kemudian berlanjut berbagai pertanyaan yang mungkin timbul. Di mana tempat yang aman? Bagaimana, kapan, dan di mana makanan, air, dan kesehatan bisa didapatkan? Orang-orang bertanya kepada para tetanga, mengecek telepon genggam masing-masing dan juga media sosial. Mereka pun menyetel radio, mencoba mengikuti berbagai perkembangan terkini dan mencari tahu di mana jalan keluar yang harus ditempuh dari kesulitan tersebut.

Pada saat kebutuhan akan informasi yang cepat dan terpercaya sangat tinggi, jaringan yang ada justru ikut rusak terdampak bencana. Kepercayaan itu pun perlahan akan sirna dan berbagai hal akan memburuk dengan cepat. Seperti yang baru-baru ini dilaporkan oleh New York Times, ada isu di masyarakat Nepal yang berkembang luas bahwa bantuan luar negeri melimpah jumlahnya dan ditimbun oleh pegawai pemerintah. Pada saat orang-orang tinggal di tenda darurat kemudian hujan turun dan orang lain pergi dari ibukota, maka isu seperti itu bisa dengan cepat menjadi potensi bahaya.

Dalam waktu yang sekejap, informasi yang dibutuhkan pada warga terdampak meningkat sementara akses mereka terhadap informasi tersebut justru mengalami penurunan yang signifikan.

Beberapa saat setelah gempa akan terjadi kelangkaan informasi. Jaringan listrik, telepon, dan konektivitas lain seperti internet kemungkinan besar akan berhenti bekerja. Masyarakat terkejut dan informasi mengenai keamanan dan sumberdaya menjadi langka. Kemudian situasi terus berkembang dari langka informasi menjadi banjir informasi manakala orang-orang berbagi informasi yang keliru, rumor, dan rasa frustasi karena kebutuhannya tidak terpenuhi.

Media sosial dan teknologi komunikasi yang lain dapat memberikan bantuan seperti menyatukan keluarga, pada saat yang sama teknologi tersebut juga dapat menyebabkan kekacauan dan kebingungan.

Masih dalam waktu yang sama datanglah bantuan internasional yang memiliki tantangannya tersendiri, yaitu bagaimana mengkoordinasikan berbagai layanan bantuan dalam kondisi yang kacau? Belasan organisasi mulai mengirim pesan melalui berbagai saluran seperti sms, radio, tv, dan juga cetak. Jika semua informasi tersebut tidak terkoordinasi, maka dapat meningkatkan kebingungan masyarakat yang sejauh ini telah mengalami kelebihan dan kekacauan informasi. Namun, jika pesan itu berkaitan dengan usaha penyelamatan, maka terjalinnya komunikasi dua arah dan terbukanya ruang untuk tanya jawab atau dialog bukan lagi menjadi prioritas.

  • Dengar Dahulu

Sangat masuk akal pada saat terjadi kekacauan informasi diawali dengan mendengarkan masyarakat terdampak. Sangat penting mengetahui apa yang diperlukan oleh masyarakat dan apa yang tidak mereka peroleh. Perlu dilakukannya sebuah penyelidikan secara paralel untuk menilai konteks lokal, ini yang kita sebut sebagai ekosistem informasi. Ekosistem lokal ini akan memiliki nuansa, kekuatan, dan kelemahannya tersendiri serta bisa jadi di sinilah area kepercayaan dan pengaruh dibangun.

Sebagai contoh adalah kasus di Haiti saat beberapa stasiun radio lokal selamat dari bencana gempa. Saat itu, untuk meredam gangguan di titik pendistribusian barang, sebuah stasiun radio menghadirkan musisi lokal ketimbang pejabat pemerintah. Hal itu dilakukan karena sosok tersebut lebih diterima oleh masyarakat setempat. Dalam situasi yang lain, ada juga stasiun radio yang tidak dipercaya oleh masyarakat, namun mereka percaya pada pastur setempat. Kendati Bapak Pastur itu menerima informasi dari stasiun radio yang sama, dia memverifikasi dan mengecek kebenaran info tersebut sebelum menyampaikan kepada umatnya. Bapak tersebut adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam situasi seperti itu.

Akhirnya kita perlu mengetahu apa yang masyarakat lakukan dengan informasi. Kita perlu memahami apa dampaknya. Karena itu, sangat penting mengetahui saran dan masukan dari masyarakat.

Pada kondisi yang demikian itu, maka radio komunitas memegang peranan yang sangat penting. Dengan mengirimkan pesan berantai kepada masyarakat, dapat dilihat tren pertanyaan dan respon masyarakat terhadap satu jenis informasi. Hasilnya stasiun radio tersebut dapat merespon dengan cepat dan dapat mengatasi berbagai isu atau kekacuan informasi.

Selanjutnya apabila terjadi peningkatan kejelasan informasi yang berkembang di masyarakat, maka itu adalah pertanda membaiknya kondisi mereka. Manakala masyarakat berhenti bertanya mengenai makanan, isu kesehatan, air, dan mulai menanyakan mengenai pendidikan anaknya, maka itu adalah tanda kondisi mulai kembali ke normal.

Di tiap daerah, sangat penting untuk bekerja bersama warga yang mengetahui kondisi setempat. Warga yang paham bagaimana mekanisme yang terjadi dan telah sensitif terhadap kepentingan masyarakat jauh sebelum terjadinya krisis. Kami menemukan bahwa media lokal adalah rekan kerja yang sangat baik. Radio lokal dapat menjangkau orang banyak, maka wartawan radio lokal adalah elemen yang sangat penting untuk komunikasi pada masa darurat dan pemulihan.

Kendati banyak kelebihan yang dimiliki oleh media lokal tersebut, namun seringkali jurnalis setempat tidak memiliki kemampuan untuk melaporkan pada saat krisis terjadi, mereka juga kurang familiar untuk mengakses dan berhubungan dengan komunitas internasional. Dalam situasi tersebut, kami bekerja bersama dengan mereka untuk mendapatkan dan membagi informasi kepada masyarakat guna membangun kesepahaman bersama mengenai situasi yang berkembang di lapangan. Kami juga menghubungkan mereka dengan komunitas kemanusiaan, sehingga mereka dapat mulai melaksanakan dialog bagaimana seharusnya upaya pendampingan dan perbaikan dilaksanakan. Para jurnalis lokal tersebut kemudian menjadi jembatan di antara dua sisi.

Seringkali para jurnalis lokal tersebut juga terdampak oleh bencana yang terjadi, kami kemudian akan mendukung mereka untuk melakukan pekerjaannya tanpa perlu khawatir kondisi keluarga. Hal ini bisa berupa memberikan dukungan baterai, telepon tambahan, fasilitas pengisian ulang listrik, atau pendapatan tambahan agar kawan jurnalis tersebut dapat antri di pos bantuan sementara yang bersangkutan tetap bekerja sebagai seorang wartawan.

Nepal dikenal sebagai perintis pergerakan radio FM lokal, ditandai dengan pendirian radio pertama pada tahun 1996. Sejak saat itu, stasiun-stasiun radio kecil mulai berdiri di desa-desa yang terpencil, melakukan kegiatan berupa model pelibatan dan keberlanjutan masyarakat. Salah satu contohnya adalah membangun jaringan untuk memahami dan menangani berbagai kebutuhan masyarakat bahkan di daerah yang paling terpencil sekalipun.

  • Dari Bantuan ke Lembaga

Pada masa tanggap darurat seringkali tak mudah memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk bicara pada berbagai aspek yang menentukan, misalnya terkait bantuan. Namun, kemampuan bicara tersebut ternyata akan meningkatkan kemampuan masyarakat dan sekaligus memperkuat serta lebih tangguh pasca terjadinya krisis.

Filosofi kami adalah memberikan kemampuan kepada masyarakat untuk menggapai masa depan mereka secepatnya. Saat terjadi gempa di Pakistan pada tahun 2005, di lembah yang penuh dengan pengungsi namun tak bisa dijangkau oleh stasiun radio yang ada, kami membantu membuat asosiasi yang terdiri dari lima stasiun radio darurat untuk mendorong berbagai peralatan siaran ke lembah. Lama setelah gempa tersebut, stasiun-stasiun radio tersebut tetap beroperasi dan menyediakan berbagai dukungan penting kepada masyarakat termasuk saat terjadi krisis pada tahun 2007-2008 dan banjir 2010.

Jika komunikasi pada masa krisis ditangani dengan baik, biasanya akan terbangun dialog yang konstruktif antara komunitas kemanusiaan dan masyarakat terdampak. Kemudian hal tersebut akan dapat menggerakkan masyarakat dari sekadar penerima bantuan yang pasif menjadi peserta aktif dalam upaya pemulihan mereka sendiri.

Dengan menjaga kepercayaan, menyampaikan informasi lokal yang berguna, akhirnya kita dapat memberikan satu badan tertentu untuk masayarakat. Saat kami melakukan peningkatan kapasitas stasiun radio lokal, seringkali kami menemukan terjadinya perubahan peran dari yang semula melaporkan mengenai bantuan menjadi menyajikan laporan mengenai upaya rekonstruksi. Selain itu juga disampaikan kepada pendengar setia mengenai akuntabilitas pemerintahan serta isu-isu politik dan sosial lain yang lebih besar.

Sulit dibayangkan memang semua hal itu terjadi ketika satu negara berada di tengah krisis, namun pengalaman kami menunjukkan, jika kita bisa mengelola saat ini dengan baik, maka masyarakat yang lebih tangguh akan bisa tercapai di masa datang.

Mark Frohardt memiliki banyak pengalaman dalam bidang komunikasi kemanusiaan. Selama dua puluh tahun sebelum bergabung dengan Internews, dia bekerja di Medecins Sans Frontieres, UNHCR, UNOCHA, dan berbagai lembaga lain. Saat ini, beliau memimpin Internews Center for Innovation and Learning.

Sumber tulisan dari sini:

https://medium.com/local-voices-global-change/humanitarian-information-in-nepal-from-crisis-to-agency-bd234a8287a7

Bagaimana Menentukan Lokasi Hunian Tetap?

Belajar dari penanganan pasca bencana Erupsi Merapi pada tahun 2010, maka penentuan hunian tetap di Provinsi D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah harus mempertimbangkan beberapa kriteria. Kriteria tersebut dibagi menjadi kriteria umum dan khusus. Selengkapnya adalah sebagai berikut:

1. Kriteria umum
– Aman dari kerawanan bencana gunungapi
– Lahan mempunyai kemiringan maksimum 30%
– Berada di kawasan budidaya di luar permukiman dan tanah garapan aktif yang ditetapkan dalam RTRW kabupaten terdampak.
– Berada di kecamatan yang sama.

2. Kriteria penunjang
– Tersedia air baku
– Tersedianya jaringan infrastruktur
– Kemudahan pembebasan lahan
– Tersedianya luasan lahan minimal untuk perumahan

Pelaksanaan rehabilitasi dan rekonstruksi juga melibatkan masyarakat terdampak sebagai stimulus ekonomi demi keberlanjutan kehidupan mereka. Stimulus ini perlu diadakan agar perekonomian masyarakat kembali pulih dan dapat mencukupi kehidupan mereka sendiri-sendiri. Arahan Wakil Presiden RI dalam ruang lingkup rehabilitasi dan rekonstruksi adalah:

  1. Pemulihan perumahan dan permukiman dengan memperhatikan kebijakan relokasi yang aman dan desain yang berbasis mitigasi dan pengurangan risiko bencana.
  2. Pemulihan infrastruktur publik yang mendukung mobilitas masyarakat dan perekonomian serta infrastruktur vital dalam penanggulangan bencana.
  3. Pemulihan kebutuhan sosial masyarakat.
  4. Pemulihan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.
  5. Pemulihan lintas sektor melalui sub sektor keamnan dan ketertiban, pemerintahan, lingkungan hidup dan pengurangan risiko bencana.

Daftar Pustaka

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

Pelajaran dari Bencana Nepal

Ribuan lagi warga Nepal dapat menjadi korban di masa depan dan negara tersebut dapat kembali mengalami kemiskinan jika pemerintah dan komunitas internasional tidak belajar dari kejadian bencana yang lalu.

Katie Peters, seorang peneliti pada Overseas Development Institute (ODI) dalam The Guardian mengatakan bahwa kendati sebuah proses perbaikan sekolah dan rumah sakit juga pelatihan kepada masyarakat bagaimana menghadapi gempa telah dilakukan, namun masih perlu upaya mitigasi bencana alam yang mungkin terjadi di masa depan.

Peters yang bekerja bersama Pemerintah Nepal dalam pengurangan risiko mengatakan bahwa kegagalan berinvestasi untuk pembangunan yang lebih baik –building back better– dalam bentuk peningkatan infrastruktur dan memastikan setiap orang telah bersiaga menghadapi gempa justru akan sangat mahal harganya. “Akan selalu terjadi peningkatan baik itu dalam jumlah korban maupun kerugian akibat bencana. Hal itu adalah kenyataan dan akan makin mahal pula bagi komunitas internasional.”

Peters mengatakan bahwa keinginan untuk segera melakukan rekonstruksi hendaknya tak mengabaikan sisi perencanaan yang baik. “Selalu ada pertentangan antara keinginan untuk segera membangun dan memastikan bahwa perlu dilakukannya berbagai pertimbangan mengenai segala bencana yang harus dihadapi Nepal serta meyakinkan bahwa tidak ada risiko di belakang tiap upaya rekonstruksi.”

“Jika membangun sekolah dan rumah sakit, maka harus dipastikan bahwa bangunan tersebut dapat menghadapi gempa pada skala yang sama.” Demikian imbuh Peters dalam keterangannya.

Fokus pada pengurangan risiko menjadi kepentingan setiap orang bukan saja hal ini dapat menyelamatkan masa depan ribuan warga Nepal, namun yang lebih penting lagi, hal tersebut dapat menghemat jutaan poundsterling biaya yang harus dikeluarkan oleh komunitas internasional. “Statistik menunjukkan biaya yang digunakan untuk upaya tanggap darurat adalah lima kali pembiayaan untuk kesiapsiagaan dan upaya pengurangan dampak bencana,” kata Peters.

“Setiap dollar yang dihabiskan untuk upaya kesiapsiagaan akan menghemat delapan dollar yang digunakan untuk tanggap darurat, bukti hal ini sudah begitu nyata. Ada begitu banyak perhatian yang diberikan pada upaya tanggap darurat bencana, namun pada saat yang sama sebagai lembaga donor kita harus memastikan bahwa dukungan terhadap masyarakat dan pemerintah tetap berlangsung sebelum bencana lain datang, sehingga bukan hanya manakala bencana terjadi saja, namun juga pada saat sebelum terjadi bencana.” Panjang lebar Peters memberikan penjelasan.

Kendati gempabumi sudah lama diprediksi, namun sebuah kejadian bencana hendaknya menjadi satu alarm yang membangkitkan kesadaran kita bersama akan pentingnya investasi pada saat bencana belum terjadi. Selain itu, komunitas lokal juga harus diberdayakan karena mereka ini adalah pusat dari berbagai upaya penanggulangan bencana. Mereka ini yang harus menggali saudara-saudaranya dari reruntuhan pada 24 jam pertama sebelum berbagai bantuan datang.

Komunitas internasional juga mestinya belajar dari penanganan gempabumi di Haiti pada tahun 2010. Saat itu banyak donor yang dikritisi karena menyalurkan bantuannya pada lembaga-lembaga atau NGO yang besar alih-alih pada organisasi lokal Haiti. Pasca kejadian tersebut, di Nepal kini masyarakat internasional lebih mendorong peran masyarakat atau organisasi dan pemerintah lokal dalam upaya tanggap darurat. Hal inilah yang justru akan terus berkelanjutan. “Jika Anda mengembangkan kapasitas masyarakat, organisasi, dan pemerintah lokal, maka impian besarnya adalah pada masa yang akan datang mereka dapat mandiri dan tak memerlukan bantuan internasional.” Demikian pungkas Peters dalam keterangannya.

Sumber tulisan: http://www.theguardian.com/global-development/2015/apr/29/nepal-earthquake-disaster-response-risk-management