Meninjau Kembali Risiko Bencana Setelah 20 Tahun Gempa Kobe

Oleh: Margareta Wahlström

Penghargaan-PBB-ke-SBY
Margareta Wahlström dan Kepala BNPB

 

Pada tahun yang didominasi pembicaraan mengenai perubahan iklim, maka peringatan 20 tahun gempa Kobe menjadi momen untuk mengenang kembali meningkatnya ancaman terhadap hidup dan perekonomian yang disebabkan oleh aktivitas seismik di lokasi rawan bencana di seantero dunia.

Gempa yang dikombinasikan dengan kualitas bangunan yang buruk akan membunuh lebih banyak orang daripada bencana alam. Tercatat 10 gempa dengan kematian terbanyak di seantero dunia sejak 1900, empat di antaranya terjadi sejak 2004.

Gempabumi Haiti pada tahun 2010 menghancurkan ibu kota, Port-au-Prince dan tsunami di Samudera Hindia melanda 14 negara. Gempa pada tahun 2008 di Szechuan, China dan pada tahun 2005 di Muzaffarabad, Pakistan masing-masing menyebabkan 80 ribu orang meninggal dunia.

Gempa-gempa tersebut menimbulkan korban jiwa hingga 500.000 orang dan lebih banyak lagi orang yang terluka serta jutaan lainnya terganggu kehidupan dan penghidupannya.

Kejadian kelima, gempa dan tsunami di Timur Jepang pada tahun 2011 membawa kesadaran baru, yaitu risiko bencana di abad nuklir. Selain itu, kejadian tersebut juga menjadi pelajaran berharga bagi kita, bagaimana bencana alam memberikan dampak yang tak terduga, namun dengan konsekuensi jangka panjang terhadap perilaku warga dan kebijakan terhadap penggunaan dan produksi energi.

Lima kejadian bencana besar dalam waktu yang sangat singkat memberikan pesan penting kepada kita mengenai risiko dan keterpaparan pada abad ke dua puluh satu. Hal tersebut terutama pada kota-kota yang menjadi rumah bagi sebagian besar populasi dunia yang akan meningkat dari 7 milliar hingga 10.1 milliar pada tahun 2100.

Bencana dengan dampak terburuk belum terjadi. Saat seseorang melihat ledakan penduduk akibat urbanisasi di berbagai zona seismik aktif dunia, maka dia akan menyadari bahwa penggunaan lahan dan implementasi yang buruk dari building code akan menyebabkan meningkatnya potensi bencana.

Di dunia, 3 milliar penduduk tinggal di daerah yang rawan gempabumi, sementara itu tiap tahun rata-rata terjadi 150 gempa dengan kekuatan di atas 6.0 skala Richter.

Mengambil contoh satu kejadian, yaitu rubuhnya pabrik tekstil Rana Plaza pada tahun 2013 di Dhaka, Bangladesh, dengan korban lebih dari 1000 jiwa adalah penanda bagaimana kondisi tersebut akan berlipat ganda saat kota yang padat dihantam oleh gempa besar.

Melindungi Sekolah

Profil usia warga di negara yang rawan gempabumi menunjukkan bahwa anak sekolah adalah di antara mereka yang rentan terhadap bencana tersebut. Selain murid-murid sekolah, para lansia, penyandang disabilitas, dan mereka yang susah bergerak, terbaring di tempat tidur, serta yang tinggal di rumah.

Gempabumi di Pakistan menghancurkan lebih dari 7.500 sekolah dan diperkirakan 17.500 siswa meninggal di antara puing. Sementara itu, di Port-au-Prince lebih dari 90 persen sekolah roboh.

Di tahun 2003, 84 siswa di Turki meninggal di asramanya setelah gempabumi. Hal tersebut mendorong upaya perbaikan, atau penghancuran dan rekonstruksi semua sekolah yang rentan sampai dengan tahun 2017.

Komitmen ini membuat Turki sebagai pionir inisiatif dunia untuk gerakan ‘Safe Schools’ yang akan diluncurkan dalam Konferensi Dunia untuk Pengurangan Risiko Bencana yang diselenggarakan oleh PBB di Sendai, Jepang.

Konferensi dunia terakhir diselenggarakan di Kobe, Prefektur Hyogo, pada tahun 2005 pada peringatan 10 tahun gempa Kobe yang menyebabkan 6.437 jiwa meninggal dunia. Kejadian tersebut menyebabkan penurunan peringkat Kobe sebagai kota pelabuhan tersibuk dunia nomor enam menjadi peringkat 47, setelah 15 tahun pasca bencana.

Hyogo kemudian selalu berasosiasi dengan penyebarluasan manajemen risiko bencana. Pada konferensi dunia di tahun 2005 tersebut diluncurkan kerangkakerja aksi Hyogo (Hyogo Framework for Action), sebuah cetak biru yang lengkap mengenai bagaimana mengurangi kerugian akibat bencana. Kobe yang secara sukarela membagi pengalamannya telah menginspirasi banyak orang dan menyebarluaskan budaya pengurangan risiko bencana ke seluruh dunia.

Perusahaan Segera Bertindak

Gempa berbeda dengan jenis bencana alam lainnya. Gempa menguak kerentanan ekonomi dalam menghadapi bencana. Jenis bencana lain yang hampir menyamai adalah banjir besar yang melanda tiap tahun di suatu daerah. Keduanya menunjukkan usaha sia-sia dari implementasi building codes tanpa didukung oleh keterlibatan sektor swaste.

Banyak hal yang sudah dilakukan untuk mengoreksi hal tersebut di beberapa tahun terakhir, mengingat sektor swasta bertanggung jawab pada 70 sampai dengan 80 persen dari keseluruhan investasi ekonomi.

Satu contoh adalah angka sejumlah 6 juta dollar AS yang diinvestasikan oleh perusahaan listrik Orion dalam pekerjaan penguatan seismik sebelum terjadinya gempa di Christchurch pada 2010 dan 2011. Perusahaan dari Selandia Baru tersebut bisa menghemat kerugian langsung hingga lebih dari 65 juta dollar AS.

Seperti kita ketahui, jutaan mata saat ini beralih fokusnya dari Kobe yang dihantam gempa 20 tahun lalu ke kota lain di Jepang yang mengalami gempa, tsunami, dan kebocoran reaktor nuklir.

Sendai kini sedang dalam proses pemulihan, namun tentu banyak di antara peserta konferensi pengurangan risiko bencana membayangkan bagaimana hari-hari di Kobe empat tahun yang lalu manakala bumi berguncang, dan air laut datang dengan kecepatan tinggi, serta peringatan yang diberikan dalam waktu singkat.

Semoga banyak pelajaran positif yang bisa diadopsi dari Sendai, berbagai agenda untuk mengurangi risiko bencana di abad ke 21, bagaimana menghilangkan dampak gempa dan bencana lain yang merusak, termasuk di dalamnya penggunaan lahan dan building codes.

Konferensi Dunia untuk Pengurangan Risiko Bencana ketiga yang diselenggarakan oleh PBB pada 14-18 Maret di Sendai, Jepang, adalah ajang bagi pemerintah dunia untuk mengadopsi rencana aksi baru untuk mengurangi bencana.

Margareta Wahlström adalah kepala U.N. Office for Disaster Risk Reduction (UNISDR)

Sumber tulisan dari sini

Rangkuman Kejadian Bencana Bulan Januari 2015

Sepanjang bulan Januari 2015, di wilayah Indonesia terjadi 243 kali kejadian bencana. Bulan Januari selalu menjadi bulan dengan jumlah bencana terbanyak dalam setiap tahun. Curah hujan yang tinggi pada bulan ini menjadi penyebabnya.

Infografis kejadian bencana selama bulan Januari terangkum seperti gambar berikut ini:

Sekilas_Bencana_Bulanan

Harmoni dengan Alam Hadapi Bencana

Berbagai kejadian bencana mengajarkan kepada kita satu filosofi baru, yaitu bahwa manusia adalah bagian dari alam.

Dengan demikian, hidup harmoni dan selaras dengan alam adalah sebuah conditio sine a qua non – sebuah keharusan yang tak bisa ditawar.

Kehidupan harmoni dan merasa menjadi bagian dari alam akan menyadarkan manusia bahwa bencana maupun nikmat dari alam adalah dua sisi dari satu keping mata uang yang harus disikapi sama.

Daftar Pustaka:

Maarif, Syamsul 2012, Merapi Menyapa Kehidupan Hidup Harmonis di Lereng Merapi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Jakarta.

History of BNPB

The history of The National Agency for Disaster Management (BNPB) of Republic Indonesia was related to the development of disaster management activity since Indonesia’s Independence Movement in 1945 to the mega-earthquake that struck Indian Ocean in the twentieth century.

Indonesia as the largest archipelago country in the world has 17.508 islands. This country has many kinds of natural resources, but it is also part of a ring of fire zone. As consequences, there are 129 active volcanoes that spread all over the nation and threatening the inhabitants.

Beside the threat from the volcanoes, Indonesia, is located in the cross section between three active tectonic plates: Indo-Australia, Eurasia, and Pasific. Therefore, this country suffers from geological disaster such as: earthquake and tsunami.

Geological disaster is not the only type of disaster that hit Indonesia. Due to its location in the tropical zone, the country also has to be faced with hydro-meteorological disaster such as: strong wind, flood, landslide, and drought.

Both geological and hydro-meteorological disaster is caused by the power of nature. In addition, Indonesia also has non natural or man made disaster. For instance, this type of disaster are forest fire, social conflict, and technological failure.

In order to face those kinds of disaster, Indonesia government established disaster management system. An institution that manage with the disaster is inevitable. The process of development the disaster institution in Indonesia is shown in the diagram below.

The Timeline

HistoryOfBNPB Source: www.bnpb.go.id