Populasi Dunia yang Berlebih tak Berkurang karena Perang, Bencana atau Penyakit

National Academy of Sciences mengungkapkan, bahwa jumlah populasi tak terpengaruh oleh perang yang brutal atau pandemi penyakit yang mengerikan.

Laju pertumbuhan penduduk sangatlah cepat, bahkan pembatasan kelahiran, pandemi penyakit atau perang dunia ketiga tak mengurangi jumlah manusia yang menyebabkan bumi tak kuasa lagi untuk memenuhi semua kebutuhan mereka. Demikian hasil sebuah penelitian.

Daripada mengurangi jumlah manusia, maka usaha memangkas konsumsi sumber daya alam dan upaya daur ulang akan meningkatkan kemungkinan pemanfaatan SDA secara efektif dan berkelanjutan dalam 85 tahun ke depan, demikian hasil laporan dalam proceeding yang diterbitkan oleh National Academy of Sciences.

“Kami terkejut bahwa skenario lima tahun perang dunia ketiga dengan korban yang hampir sama dengan gabungan korban pada perang dunia satu dan dua, nyaris tak mengubah jumlah jumlah populasi manusia di abad ini.” Demikian dikatakan Prof. Barry Brook, koordinator penelitian dari Universitas Adelaide, Australia.

Perang dunia kedua menimbulkan korban antara 50 sampai 85 juta anggota militer dan masyarakat sipil adalah konflik yang paling brutal dan paling banyak korban dalam sejarah manusia. Sementara itu, lebih dari 37 juta orang meninggal dunia akibat perang dunia pertama.

Menggunakan pemodelan berbasis komputer untuk data kependudukan dari WHO dan Biro Sensus Amerika, para peneliti mencoba berbagai skenario pengurangan populasi. Penemuan mereka adalah, dalam kondisi saat ini untuk tingkat kelahiran, kematian, dan usia rata-rata ibu melahirkan pertama kali, maka populasi global akan meningkat dari 7 milyar pada tahun 2013 ke angka 10,4 milyar pada tahun 2100.

Perubahan iklim, perang, pengurangan kematian dan kelahiran, serta peningkatan usia melahirkan sedikit memengarungi prediksi ini. Pandemi global berbahaya yang menyebabkan 2 milyar orang meninggal hanya akan mengurangi populasi ke angka 8,4 milyar, sementara jika 6 milyar meninggal, maka akan tersisa 5,1 milyar.

“Populasi global meningkat sangat cepat pada abad terakhir, sekitar 14% dari total manusia yang pernah ada masih hidup hingga saat ini. Itu adalah angka yang sangat serius. Hal tersebut dinilai berbahaya karena beberapa alasan, yaitu ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan bagi semua manusia, serta dampaknya bagi iklim dan lingkungan.” Kata Prof. Corey Bradshaw, peneliti dari Universitas Adelaide.

Beliau menambahkan, “Kami telah mencoba berbagai skenario untuk perubahan populasi manusia di seluruh dunia sampai tahun 2100 dengan menyesuaikan tingkat kelahiran dan kematian untuk menentukan tingkat populasi yang masuk akal di akhir abad. Penerapan kebijakan satu anak di seluruh dunia seperti di China sampai dengan akhir abad, atau kematian masal seperti konflik global atau pandemi penyakit, akan tetap menyisakan 5-10 milyar penduduk pada 2100.

Menurut, Brook, yang sekarang di Universitas Tasmania, pengambil kebijakan perlu lebih banyak mendiskusikan pertumbuhan penduduk, namun juga memperingatkan bahwa momentum jumlah penduduk yang tak dapat dihindari tersebut akan membuat berbagai upaya cepat demografi dikesampingkan, seperti pada masalah keberlanjutan kita.

“Hasil penelitian kami menunjukkan, bahwa perencanaan keluarga yang efektif dan pendidikan reproduksi yang dilakukan secara global akan memberikan hasil yang positif untuk menahan laju populasi dan meringankan beban pada ketersediaan sumberdaya dalam jangka waktu yang lumayan lama. Anak cucu kita akan menikmati keuntungan dari perencanaan semacam itu, namun manusia yang hidup sekarang tidak.” Demikian kata Prof. Brook.

Bradshaw kembali menambahkan, “Akibat dari penelitian ini adalah, usaha bersama untuk keberlanjutan sumberdaya akan diarahkan secara produktif pada pengurangan dampak yang sebisa mungkin menggunakan inovasi teknologi dan sosial.”

Hal tersebut dengan demikian menggarisbawahi apa yang sudah diperingatkan oleh Thomas Malthus mengenai kecepatan laju populasi di abad 18. Laporan tersebut juga memperingatkan, bahwa demografi momentum sekarang ini mengindikasikan tak adanya kebijakan yang mampu untuk mengubah jumlah populasi terutama pada tahun-tahun yang akan datang, seperti misalnya pengurangan secara ekstrim dan cepat pada angka kelahiran.

“Ini membutuhkan waktu yang sangat lama sementara target jangka panjangnya masih belum jelas.” Demikian dilaporkan. “Namun, beberapa pengurangan dapat dicapai pada pertengahan abad dan mengurangi jumlah orang yang harus diberi makan. Hasil yang lebih cepat untuk suatu keberlanjutkan dapat dicapai dengan kebijakan dan teknologi yang tidak memanfaatkan banyak sumber daya.”

Dengan tak adanya bencana atau pengurangan angka kelahiran yang besar, penelitian menunjukkan bahwa Afrika dan Asia Selatan adalah yang paling menderita karena perubahan ekosistem di masa datang.

Laporan yang diterbitkan minggu lalu oleh para peneliti dari Universitas Lund, Swedia, menunjukkan bahwa kemampuan produksi pangan di wilayah Sahel, Afrika tidak sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Sementara itu, pemanasan global justru akan makin mempertajam ketidakseimbangan tersebut.

Tulisan ini adalah hasil terjemahan dari sini

InAWARE: a system to optimize the disaster data

Jakarta, (27/10) Pasific Disaster Center (PDC) and BNPB conducted Train the Trainer for Indonesia All-hazards Warning and Risk Evaluation (InAWARE). The training purpose was to improve the personal ability of BNPB staff in gathering disaster data. This activity taught the participants to deliver early warning in disaster management through improving the access of information from several sources nationally and internationally. Those sources were integrated in order to send the disaster information for the disaster prone community.

InAWARE system provided facility for monitoring and evaluating the risk. InAWARE system actually is the modifying version of previous Disaster Aware which build by PDC, the platform that integrating a number of global data for disaster monitoring.

“InAWARE system will increase the ability of personnel to search and collecting the disaster data in the prone area.” John Livengood, one of the instructors explained. “This system has continued developing in order to make it easier to use and the data will more complete. In addition, InAWARE assists the disaster management institution to access automatically the disastrous events in national, regional, and international region. Furthermore, the system supports data sharing among the disaster management activists and dissemination the disaster information for the risk society.

The source for this article is from BNPB Website

Penelitian: pemanasan global meningkatkan risiko musim dingin parah di Eurasia

Musim dingin yang parah akan lebih sering terjadi pada beberapa dekade ke depan sebagai akibat dari mencairnya es di Lautan Arktik dan mengirimkan udara yang beku ke selatan, demikian kesimpulan dari satu penelitian yang baru saja dilakukan.

Musim dingin parah yang terjadi berhubungan dengan mencairnya es di Laut Arktik yang semakin besar terjadi. Penelitian baru tersebut menggunakan metode yang komprehensif, yaitu pemodelan komputer pada waktu-waktu yang diindikasikan terjadinya musim dingin yang beku. Hal tersebut disebabkan oleh perubahan iklim, bukan semata-mata oleh variasi iklim.

“Penyebab musim dingin parah yang terjadi di Eurasia adalah pemanasan global.” Kata Prof. Masato Mori, dari Universitas Tokyo, seorang ilmuwan yang memimpin penelitian tersebut. Perubahan iklim memicu pemanasan di Arktik terjadi lebih cepat daripada di lintang yang lebih rendah. Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa musim dingin parah yang terjadi adalah ancaman nyata dari perubahan iklim yang sudah terjadi dan bukan sekadar ancaman di masa depan. Mencairnya es di Arktik juga berdampak pada musim panas yang basah di Inggris.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal ‘Nature Geoscience’ menunjukkan peningkatan risiko musim dingin yang ber-es akan terjadi pada dekade mendatang. Namun, lebih daripada itu, pemanasan global yang berkelanjutan akan menyebabkan musim dingin yang lebih dingin lagi. Lautan Arktik diperkirakan akan bebas es pada akhir musim panas di tahun 2030 dan mencegah perubahan pola angin, sementara di sisi lain perubahan iklim akan terus meningkatkan suhu rata-rata.

Arctic_sea_ice_extent

“Kesesuaian antara kenyataan di lapangan dan hasil pemodelan komputer sangatlah penting untuk menunjukkan fakta, bahwa peningkatan risiko terjadinya musim dingin yang parah sungguh nyata.” Demikian dikatakan oleh Prof Adam Scaife, seorang ahli perubahan iklim dari UK Met Office dan bukan anggota dari tim peneliti. “Bukti-bukti yang seimbang semakin memperkuat hal itu.”

Dr Colin Summerhayes, dari Scott Polar Research Institute, Cambridge, Inggris, mengatakan, “Bukti yang menunjukkan berkurangnya lautan es membuat sebagian orang percaya bahwa pemanasan global telah berhenti. Sebenarnya itu tak pernah berhenti. Kendati terjadi perlambatan pemanasan permukaan sejak tahun 2000, namun es di Lautan Arktik telah hilang dengan cepat karena pemanasan pada kurun waktu tersebut.”

Mencairnya es memengarungi musim dingin di Eurasia karena lautan lepas lebih gelap daripada es dan menyerap lebih banyak panas. Hal tersebut kemudian akan menghangatkan udara di atasnya dan melemahkan angin di lapisan atas yang disebut ‘pusaran kutub’. Lebih lanjut, akan terjadi perubahan pada arus yang cepat dan berhenti di tempatnya. Tahanan ini akan menyebabkan udara beku mengarah ke selatan dari Arktik, dan karena ini terhenti, maka musim dingin yang parah bisa berlangsung lama.

Ahli iklim sejak lama telah memperingatkan bahwa pemanasan global bukan hanya memicu terjadinya perubahan temperatur secara bertahap dan lambat. Namun, pemanasan global memengarungi sistem iklim yang berujung pada peningkatan terjadinya peristiwa ekstrim.

Akibat pemanasan global, gelombang panas yang mematikan di Eropa dan Australia lebih sering terjadi dan dirasakan. Sementara frekuensi kejadian banjir berlipat ganda daripada frekuensinya sebelum tahun 2000.

“Rata-rata suhu global tahunan meningkat, namun distribusi temperatur lebih ekstrim dan menimbulkan dampak pada produksi pangan dunia.” Dikatakan oleh Prof Peter Wadhams dari Universitas Cambridge. “Seiring dengan mencairnya es, maka kita akan menghadapi iklim yang ekstrim ini terus berlangsung, bahkan akan lebih buruk lagi.”

Sumber tulisan dari sini

Sinabung: More than 3000 refugees lived in the camp

The number of refugees after the eruption of Mount Sinabung reached 3.284 people or 1018 households that being placed in 12 camps. Previously, it was 16 camps, and the reduction of the camp site was due to easier management.

The mountain was showing highly activity until Sunday (26/10). 98 times tremor and 2 times glowing clouds were recorded and have been reached 3,5 kilometres in southern direction. The height of the cloud column reached 2 kilometres. On the west side of the peak mountain, rock fall was witnessed reach out 700-1000 meter. The mountain status remains stable at level III.

Nobody knows when the eruption will accomplish. Even the geological institution could not predict when Sinabung will cease and back to normal. All of the volcano parameters are showing highly activities. It means the eruption and rock fall likely to happen again. The pattern of the lava flow has been known by the official and people as well which can get to 5 km in southern direction and 3 km for the others direction and therefore people in this radius should be evacuated.

The terms of disaster emergency applied only in particular area that should be abandoned by the inhabitant whereas the other area can conduct their normal activities. The government will give aid with merit to the recommendation of geological agency. BNPB hopes that local government in Karo District also allocated budget to manage with the disaster.

The logistic stock was enough for the next 3 until 6 days. The health, education, and infrastructure were in a good situation. BNPB have assigned 10,3 billion rupiah to BPBD in Karo District to land and house rent, as well for living guarantee for the refugees who come from Sukameriah, Bekerah, Simacem, Kutatonggal, Gamber, Berastepu, and Gurukinayan village. Based on the report by BPBD Karo, the total of the budget that have been used was 10,24 billion for 2.161 households.

The source is from BNPB Website

BNPB and UN achievement in Merapi rehabilitation and reconstruction phase

Jakarta – It has been four years since the eruption of Mount Merapi. An affected community experience significant improvement in rehabilitation and reconstruction process. One of the key successes in the process was the establishment of the joint program among the UN organisations such as: UNDP, FAO, and NGO like IOM. This program was under supervised and coordinated of the BNPB as part of the after disaster action plan for rehabilitation and reconstruction which had been established since July 2011. Exposing the result to communities, UNDP, BNPB and other UN bodies conducted ‘Program Exposes’ on Thursday (23/10) at Jakarta.

This program was held in two phases, the first phase started in February 1, 2012 until May, 2013, while the second phase was between February 2, 2013 and September, 2014. The output of the program covered three aspects. Firstly, the program considered about the livelihood recovery sustainability and supporting the increased of income by involving value chain analysis for the selected commodity. Secondly, the activity urged the capacity building for local government to organise and coordinate the recovery process that based on disaster risk reduction and also encouraged the participation all stakeholder. Lastly, there was a strengthening in resilience and coordination among the affected community and related stakeholder.

Several achievements have been touching the affected community. Beyond the capacity development of the local government, affected community gained the experience to increase their welfare after the eruption. Those were included communal cage for the cow, the certification for snake fruit for export purpose, village information system, etc. The rehabilitation and reconstruction program based on disaster risk reduction and build back better principle.

In his remarks, The Director of Recovery and Social Economic Improvement of BNPB, Siswanto Budi Prasodjo, said thank you for the UN agencies and other donors for supporting and the significant achievement for rehabilitation and reconstruction program after the eruption four years ago. Siswanto, as coordinator of DR4, UNDP, said that the program accomplishments had been increasing livelihood and sovereignty of the affected people.

Source from BNPB Website